Kabupaten Jayapura Jadi Rujukan Nasional: Kisah Sukses Pelestarian Bahasa Daerah dan Identitas Lokal
Kabupaten Jayapura menjadi contoh inspiratif dalam pelestarian bahasa daerah melalui kurikulum muatan lokal. Simak bagaimana upaya ini menarik perhatian Merauke untuk melindungi identitas budayanya.
Pembelajaran muatan lokal Bahasa Sentani di SMA Negeri 1 Sentani, Kabupaten Jayapura, menarik perhatian banyak pihak. Suasana kelas yang hidup menunjukkan antusiasme siswa dalam melestarikan bahasa ibu mereka, bahkan di bawah terik matahari.
Rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke melakukan studi banding ke sekolah tersebut. Mereka ingin mempelajari langsung implementasi kurikulum bahasa daerah yang sukses di Jayapura sebagai model.
Kunjungan ini terjadi pada 8 November, sebagai bagian dari persiapan Merauke menerapkan kurikulum serupa pada 2026. Jayapura telah menjadi pelopor dengan Peraturan Bupati Nomor 21 Tahun 2021 yang menjadi landasan kuat.
Jayapura, Model Keberhasilan Pelestarian Bahasa Ibu
Kabupaten Jayapura diakui sebagai rujukan utama dalam integrasi bahasa daerah ke pendidikan formal. Keberhasilan ini terlihat jelas di sekolah percontohan seperti SMA Negeri 1 Sentani dan SMP Negeri 6 Sentani.
Guru mata pelajaran Bahasa Sentani, Samuel Suebu, menekankan bahwa pengajaran bahasa ibu lebih dari sekadar mengenalkan kosakata. Ia juga menanamkan rasa bangga terhadap identitas lokal di tengah keberagaman etnis siswa.
Peraturan Bupati Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penerapan Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Ibu menjadi landasan hukum kuat. Regulasi ini memungkinkan pengajaran bahasa daerah sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah.
Balai Bahasa Papua mencatat 428 bahasa daerah terancam punah, menjadikan program Jayapura krusial. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melindungi warisan budaya dan bahasa lokal.
Kolaborasi Lintas Lembaga dan Dampaknya
Kolaborasi antara Sekolah Adat Negeri Papua, Balai Bahasa Provinsi Papua, dan Dinas Pendidikan merupakan kunci sukses program ini. Sekolah Adat, yang berdiri sejak 2016, kini memiliki modul dan buku pelajaran sendiri.
Direktur Sekolah Adat Negeri Papua, Origenes Monim, menjelaskan bahwa lembaga tersebut telah berkembang pesat. Kini, 104 sekolah dari tingkat SD hingga SMA di Jayapura menerapkan kurikulum muatan lokal bahasa ibu.
Modul pembelajaran yang akan diluncurkan pada 2026 mencakup berbagai topik, termasuk adat istiadat, benda budaya, makanan khas, hingga sistem pembayaran mas kawin. Ini menunjukkan pendekatan holistik dalam pelestarian bahasa dan budaya.
Antonius Maturbongs, Widyabasa Ahli Madya Balai Bahasa Provinsi Papua, menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah. Ia menyatakan, "Kalau bukan kita yang melindungi bahasa daerah, lalu siapa lagi? Bahasa adalah identitas, dan kehilangan bahasa berarti kehilangan sebagian dari jati diri kita."
Merauke Belajar dari Jayapura untuk Melindungi Bahasa Marind
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke mendapatkan inspirasi berharga dari kunjungan ini. Mereka berencana menindaklanjuti hasil studi banding dengan menyusun modul pembelajaran bahasa ibu untuk diterapkan di daerahnya.
Kepala Bidang Pengendali Perizinan dan Bahasa serta Sastra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Untung, menyatakan komitmen Pemkab Merauke. Tujuannya adalah mencegah kepunahan bahasa lokal seperti Bahasa Marind.
Antusiasme siswa di Jayapura, bahkan dalam percakapan sederhana seperti "Helem Foi" yang berarti terima kasih, menjadi motivasi bagi Merauke. Ini membuktikan bahwa bahasa daerah bisa menjadi jembatan kebersamaan di tengah keberagaman.
Kunjungan ini menegaskan bahwa pelestarian bahasa adalah bagian dari sistem pendidikan, bukan hanya tugas lembaga kebudayaan. Semangat dari Sentani dibawa pulang untuk ditanamkan dan menumbuhkan bahasa ibu di tanah sendiri, Merauke.
Sumber: AntaraNews