Pemerintah Kota Jayapura, Papua, mengambil langkah konkret dalam melestarikan warisan budaya lokal dengan menyelenggarakan program pelatihan. Program ini secara khusus menargetkan pembelajaran muatan lokal Bahasa Skouw bagi para guru dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK di wilayah tersebut. Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap kondisi Bahasa Skouw yang kini menghadapi ancaman kepunahan.
Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, menegaskan bahwa Bahasa Skouw semakin jarang digunakan dan penuturnya terus berkurang, sehingga pembelajaran di sekolah menjadi krusial. Pelatihan yang berlangsung di Jayapura pada Kamis ini bertujuan untuk memastikan bahasa ibu tersebut tetap hidup dan diajarkan kepada generasi muda. Hal ini diharapkan dapat membangkitkan kembali minat dan penggunaan Bahasa Skouw di kalangan masyarakat.
Upaya pelestarian ini tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan semata, tetapi juga merupakan bagian integral dari visi pemerintah daerah untuk menjaga identitas dan kebanggaan masyarakat setempat. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat memperkuat fondasi budaya Kota Jayapura sebagai kota jasa yang berbudaya, sejalan dengan tujuan pembangunan daerah.
Advertisement
Advertisement
Upaya Pelestarian Bahasa Skouw di Jayapura
Kondisi Bahasa Skouw yang kian terancam punah menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Jayapura. Wakil Wali Kota Rustan Saru menyoroti bahwa kurangnya pembelajaran di sekolah dan menurunnya jumlah penutur aktif telah mempercepat proses kepunahan bahasa ini. Oleh karena itu, Pemkot Jayapura berinisiatif untuk mendorong pengajaran muatan lokal Bahasa Skouw secara berkelanjutan.
Rustan Saru menyatakan, "Untuk itu kami mendorong supaya pembelajaran muatan lokal khususnya Bahasa Skouw terus diajarkan kepada anak-anak sehingga bahasa ibu tidak hilang seiring perkembangan zaman." Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen pemerintah daerah untuk menjaga kelangsungan Bahasa Skouw sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya lokal.
Pelestarian bahasa daerah, termasuk Bahasa Skouw, dianggap sebagai pilar penting dalam menjaga identitas dan kebanggaan masyarakat di Kota Jayapura. Inisiatif ini tidak hanya sekadar program pendidikan, melainkan juga cerminan dari visi dan misi pemerintah daerah. Visi tersebut adalah mewujudkan Kota Jayapura sebagai kota jasa yang berbudaya, di mana nilai-nilai lokal tetap terjaga dan berkembang.
Advertisement
Advertisement
Strategi Pembelajaran dan Pengembangan Bahasa Skouw
Pelatihan guru Bahasa Skouw ini merupakan tindak lanjut dari serangkaian program pelestarian bahasa daerah yang telah dilaksanakan sebelumnya. Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Yoku, menjelaskan bahwa kegiatan ini melengkapi upaya seperti festival tunas bahasa ibu dan penulisan Kamus Bahasa Skouw. Langkah-langkah ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam menghidupkan kembali Bahasa Skouw.
Tujuan utama dari pembekalan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas para guru dalam mengajarkan Bahasa Skouw secara kreatif dan menarik. "Kegiatan ini bertujuan agar para guru nanti bisa membuat puisi, cerita pendek, pidato dan lagu serta materi stand up comedy menggunakan Bahasa Skouw," tutur Grace Yoku. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Skouw diharapkan tidak lagi monoton, tetapi lebih interaktif dan relevan bagi siswa.
Melalui metode pengajaran yang inovatif, guru-guru diharapkan mampu membangkitkan minat siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Pengembangan materi ajar yang bervariasi ini krusial untuk memastikan Bahasa Skouw dapat diterima dan dipelajari dengan antusias oleh generasi muda. Ini juga menjadi strategi penting untuk memperluas penggunaan Bahasa Skouw di luar lingkungan formal.
Advertisement
Advertisement
Visi Jangka Panjang dan Dukungan Regulasi
Pemerintah Kota Jayapura tidak hanya berhenti pada pelatihan guru, tetapi juga memiliki visi jangka panjang untuk pelestarian Bahasa Skouw. Wakil Wali Kota Rustan Saru menjelaskan rencana pembangunan rest area di Kampung Skouw, Distrik Muara Tami. Lokasi ini strategis karena merupakan wilayah perbatasan antara Republik Indonesia dan Papua Nugini (PNG).
Rest area tersebut akan difungsikan sebagai pusat informasi budaya, dengan harapan Bahasa Skouw dapat berperan sebagai penghubung. "Hal ini bertujuan agar Bahasa Skouw bisa menjadi penghubung antara masyarakat Papua Nugini (PNG) dan juga Kota Jayapura khususnya Kampung Skouw," kata Rustan Saru. Ini menunjukkan ambisi untuk menjadikan Bahasa Skouw sebagai jembatan komunikasi lintas batas dan pusat kebudayaan.
Secara regulasi, pelatihan ini juga merupakan implementasi dari Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2014. Undang-undang tersebut secara spesifik mengatur tentang Tanggung Jawab Pemerintah Daerah Dalam Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah. Dengan demikian, program pelatihan Bahasa Skouw ini tidak hanya inisiatif lokal, tetapi juga bagian dari mandat hukum yang lebih luas untuk menjaga kekayaan linguistik Indonesia.
Advertisement
Sumber: AntaraNews