Fakta Unik: Bahasa Sentani Kini Jadi Muatan Lokal di 104 Sekolah Jayapura, Upaya Revitalisasi Bahasa Ibu

Upaya pelestarian Bahasa Sentani membuahkan hasil signifikan. Kini, bahasa ibu ini resmi menjadi mata pelajaran muatan lokal di 104 sekolah di Kabupaten Jayapura.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Bahasa Sentani Kini Jadi Muatan Lokal di 104 Sekolah Jayapura, Upaya Revitalisasi Bahasa Ibu
Upaya pelestarian Bahasa Sentani membuahkan hasil signifikan. Kini, bahasa ibu ini resmi menjadi mata pelajaran muatan lokal di 104 sekolah di Kabupaten Jayapura. (AntaraNews)

Sekolah Adat Negeri Papua di Kabupaten Jayapura mengambil langkah konkret dalam upaya pelestarian budaya lokal. Mereka berhasil merevitalisasi Bahasa Sentani sebagai mata pelajaran muatan lokal di jenjang SD hingga SMA. Inisiatif ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan bahasa ibu di tengah gempuran modernisasi yang masif.

Direktur Sekolah Adat Negeri Papua, Origenes Monim, mengungkapkan konsistensinya terhadap pelestarian bahasa ibu. "Kita tidak dapat memungkiri kemajuan teknologi dan moderenisasi lambat laun akan menggeser posisi bahasa ibu, untuk itu perlu sebuah langkah nyata melestarikannya dengan mendorong bahasa Sentani masuk dalam mata pelajaran muatan lokal," katanya. Perjuangan panjang ini dimulai sejak tahun 2017, dengan aktivitas belajar mengajar di luar jam sekolah formal.

Kini, upaya tersebut telah membuahkan hasil nyata yang patut diapresiasi oleh berbagai pihak. Penetapan Bahasa Sentani sebagai bagian dari kurikulum formal dilakukan pada Agustus 2022. Sebanyak 104 sekolah di Kabupaten Jayapura kini secara resmi mengajarkan bahasa daerah ini, mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA.

Perjalanan Panjang Revitalisasi Bahasa Sentani

Origenes Monim menjelaskan bahwa perjuangan untuk memasukkan Bahasa Sentani ke dalam kurikulum formal bukanlah hal yang instan. Proses ini dimulai sejak tahun 2017, dengan fokus pada aktivitas belajar mengajar Bahasa Sentani secara informal. "Perjalanan yang panjang, sejak 2017 kami mulai bergerak dengan gerakan mengajar bahasa Sentani khususnya bagi anak-anak di pulau-pulau yang ada di pesisir Danau Sentani, sampai akhirnya bisa masuk ruang pendidikan formal," ujarnya. Awalnya, kegiatan ini menyasar anak-anak di pulau-pulau sekitar pesisir Danau Sentani.

Gerakan ini terus berkembang seiring waktu, menunjukkan komitmen kuat dari para pegiat Bahasa Sentani. Dari ruang belajar yang sederhana, visi untuk menjadikan Bahasa Sentani bagian dari pendidikan formal semakin menguat. Origenes menyadari pentingnya integrasi bahasa daerah ke dalam sistem pendidikan agar pelestariannya lebih terjamin. Ini adalah langkah krusial untuk mencegah kepunahan bahasa ibu di era modern.

Puncaknya, pada Agustus 2022, upaya panjang ini akhirnya membuahkan hasil. "Pada Agustus 2022 telah ditetapkan secara sah bahwa bahasa Sentani masuk pada mata pelajaran muatan lokal pada 104 sekolah di Kabupaten Jayapura, mulai dari jenjang SD, SMP dan SMA," katanya lagi. Penetapan ini mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Keberhasilan ini menjadi tonggak sejarah penting bagi pelestarian budaya lokal di Papua.

Dampak Positif dan Apresiasi terhadap Pelestarian Bahasa Ibu

Implementasi pembelajaran Bahasa Sentani sebagai muatan lokal ini mendapat sambutan positif dan menjadi contoh bagi daerah lain. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, menunjukkan ketertarikan yang besar. Mereka bahkan melakukan studi banding ke sekolah-sekolah di Kabupaten Jayapura untuk mempelajari model penerapannya. Hal ini menunjukkan potensi Bahasa Sentani sebagai inspirasi nasional.

Origenes Monim menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura. "Kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Jayapura yang telah memberi atensi bagi upaya pelestarian bahasa Sentani," ujarnya lagi. Dukungan pemerintah daerah dinilai sangat krusial dalam mewujudkan upaya pelestarian Bahasa Sentani. Atensi yang diberikan pemerintah daerah membuktikan komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya lokal. Ini adalah sinergi penting antara komunitas adat dan pemerintah.

Keberhasilan ini juga mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya melestarikan bahasa ibu di seluruh Indonesia. Kemajuan teknologi dan modernisasi memang tidak dapat dihindari, namun pelestarian identitas budaya harus tetap menjadi prioritas. Dengan masuknya Bahasa Sentani ke kurikulum formal, diharapkan generasi muda dapat lebih mengenal dan mencintai bahasa leluhur mereka. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan budaya Papua.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi