Isak Tangis Anggota DPR Aboe Bakar Minta Maaf Usai Diperiksa MKD
Aboe Bakar mengakui kesalahannya, karena pernyataannya dapat menimbulkan berbagai persepsi di masyarakat.
Anggota Komisi III DPR, Aboe Bakar Al-Habsyi, terlihat emosional setelah menjalani pemeriksaan oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR terkait ucapannya yang dianggap menyinggung ulama dan tokoh agama mengenai masalah narkoba di Pulau Madura. Dia menyadari kesalahannya karena pernyataannya dapat menimbulkan berbagai persepsi yang tidak diinginkan.
Pernyataan yang memicu kontroversi itu disampaikan Aboe dalam rapat Komisi III DPR RI dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Selasa (7/4) lalu.
"Mulai dari Bangkalan, Sampang, Sumenep, dan Pamekasan. Warga Madura, ulama-ulama, tokoh-tokoh masyarakat semua. Saya harus mengatakan saya minta maaf," ungkap Aboe di kompleks parlemen Jakarta pada Selasa (14/4).
Dia juga menegaskan bahwa dirinya telah memberikan penjelasan kepada MKD DPR dalam pemanggilan tersebut. Aboe menegaskan tidak ada niat untuk menyudutkan ulama dan pesantren di Madura.
"Perlu saya jelaskan bahwa pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks keprihatinan agar BNN untuk membantu agar narkoba tidak masuk ke wilayah-wilayah pesantren dan masyarakat," ujarnya.
Lebih lanjut, Aboe mengungkapkan bahwa penyebaran narkotika semakin meluas di kalangan masyarakat, menjangkau berbagai lapisan. Oleh karena itu, dia mengajak lembaga pendidikan keagamaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pencegahan narkoba.
"Namun saat ini cara penyampaian saya yang kurang tepat. Saya ulangi lagi pernyataan saya kurang tepat. Sehingga menimbulkan multitafsir," katanya.
Janji Hati-Hati Bicara
Dia menegaskan bahwa ulama dan pesantren merupakan pilar utama dalam menjaga moral dan akhlak bangsa. Dalam konteks pemberantasan narkoba, peran ulama sangat strategis sebagai garda terdepan dalam edukasi dan pencegahan.
"Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih berbaik hati dalam menyampaikan, lebih berhati-hati, maksud saya, dalam menyampaikan pandangan di ruang publik," kata dia.
Dalam rapat Komisi III DPR bersama BNN, Aboe menyatakan bahwa BNN harus berkolaborasi dengan lembaga lain serta mempelajari cara kerja peredaran narkotika yang sudah merambah ke berbagai lapisan masyarakat.
Dia juga mencontohkan dugaan keterlibatan beberapa ulama dan pesantren di Madura dalam masalah narkotika. Aboe meminta kepada BNN untuk mengecek dan mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut.
"Saya khawatir yang bermain-main ini yang punya posisi atau pebisnis besar," kata Aboe, dilansir Antara. Dengan demikian, kolaborasi antara BNN dan ulama sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat dari ancaman narkoba.