IDAI Nyatakan Vaksin Influenza Trivalen Aman untuk Balita dan Kelompok Rentan
Anggota Satgas Imunisasi IDAI, Soedjatmiko, menyampaikan bahwa para pakar di Indonesia telah menyetujui penggunaan vaksin tersebut untuk kelompok rentan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa vaksin influenza trivalen aman diberikan kepada balita, ibu menyusui, hingga pasien dengan penyakit penyerta (komorbid).
Anggota Satgas Imunisasi IDAI, Soedjatmiko, menyampaikan bahwa para pakar di Indonesia telah menyetujui penggunaan vaksin tersebut untuk kelompok rentan.
"Bahwa para pakar di Indonesia sudah menyimpulkan bahwa vaksin trivalen itu aman dan boleh," kata Soedjatmiko dalam diskusi di Jakarta, Kamis (23/4) seperti dikutip Antara.
Ia menjelaskan, vaksin influenza trivalen dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan dianjurkan untuk diulang setiap tahun. Untuk anak usia 6 bulan hingga 8 tahun, vaksin diberikan dalam dua dosis dengan interval minimal empat minggu. Sementara itu, anak berusia di atas 9 tahun cukup menerima satu dosis awal.
Rekomendasi IDAI ini sejalan dengan panduan World Health Organization (WHO), yang menyatakan vaksin influenza trivalen dapat diberikan kepada berbagai kelompok usia, mulai dari balita hingga lansia. Vaksin ini berfungsi melindungi dari virus influenza tipe A, yakni H1N1 dan H3N2, serta tipe B Victoria.
Menurut Soedjatmiko, efektivitas vaksin trivalen setara dengan vaksin kuadrivalen yang sebelumnya juga mencakup virus influenza tipe B Yamagata. Namun, berdasarkan penelitian WHO, virus Yamagata sejak periode 2017–2018 sudah tidak lagi berkembang pada manusia yang telah divaksinasi, sehingga tidak lagi dimasukkan dalam formulasi terbaru.
Komposisi Vaksin
Pembaruan komposisi vaksin dilakukan agar sesuai dengan virus yang beredar di masyarakat. Vaksin yang sesuai dengan varian virus yang dominan memiliki tingkat efektivitas hingga 60 persen, sedangkan yang tidak sesuai hanya sekitar 30 persen.
Potensi Timbulkan Komplikasi Ringan
Ia juga menekankan pentingnya vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun karena virus ini terus bermutasi. Penyesuaian komponen vaksin pun dilakukan secara berkala untuk memastikan perlindungan tetap optimal.
Lebih lanjut, influenza tidak dapat dianggap sebagai penyakit ringan. Infeksi ini berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, terutama pada balita dan lansia. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa demam tinggi, nyeri otot, radang paru-paru, perburukan penyakit kronis, hingga radang otak.