Vaksin Influenza Dinilai Efektif Cegah Super Flu, Bisa Mulai dari Bayi hingga Dewasa
Meski begitu, sejumlah langkah antisipasi dapat dilakukan guna menghindari risiko keterpaparan virus influenza A tipe H3N2 tersebut.
Kasus super flu yang mencuat belakangan diminta tidak disikapi dengan kepanikan berlebihan oleh masyarakat. Di wilayah Jawa Barat sendiri, trennya disebut telah menurun sejak November 2025 lalu.
Meski begitu, sejumlah langkah antisipasi dapat dilakukan guna menghindari risiko keterpaparan virus influenza A tipe H3N2 tersebut. dokter Spesialis Penyakit Dalam pada Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Ferdy Ferdian, menilai penggunaan vaksin influenza menjadi salah satu langkah efektif untuk upaya itu.
“Jadi kalau saran saya sih untuk pencegahan supaya tidak terjadi kenaikan influenza ya salah satu pencegahannya itu vaksin,” ujarnya saat dijumpai, di Gedung MCHC RSHS Bandung, Kamis (8/1).
Ia menjelaskan, vaksin influenza terbagi dalam dua jenis utama, yakni trivalent dan quadrivalent, yang disesuaikan dengan jumlah varian virus influenza.
Menurutnya, tidak ada batasan usia untuk penggunaan vaksin influenza. Namun, bagi orang dewasa, vaksin dianjurkan dilakukan satu kali setiap tahun. Anjuran tersebut lantaran varian virus influenza sendiri terus berkembang seiring waktu, sehingga perlindungan anti virus tetap relevan.
“Kenapa setahun sekali? Karena varian virusnya selalu di-update,” jelas dia.
Komorbid Lebih Dianjurkan, Risiko Terkait Imunitas
Menurut Ferdy, vaksin influenza dapat diberikan mulai dari bayi hingga dewasa tanpa batasan usia. Namun, kelompok dengan penyakit penyerta dalam waktu bersamaan attau komorbid justru menjadi prioritas utama.
“Yang punya komorbid lebih penting malah. Misalnya ada sakit jantung dan lain-lain, itu lebih wajib lagi pakai influenza,” ujarnya.
Ia menambahkan, penularan influenza tetap terjadi melalui droplet. Artinya, siapa
pun bisa tertular, namun orang dengan daya tahan tubuh rendah memiliki risiko lebih besar mengalami gejala berat.
“Jadi kalau misalkan imunnya kurang baik ya lebih rentan. Tapi penularannya sama droplet, misalnya saya lagi batuk, tiba tiba ketularan, ya kena. Sistem imun kurang baik, lebih rentan,” jelasnya.
Mobilitas Tinggi Picu Risiko Penularan
Ferdy juga menyoroti meningkatnya mobilitas masyarakat usai libur panjang dan jelang masuk sekolah sebagai agar masyarakat tetap waspada atas risiko keterpaparan virus.
Meski mobilitas sulit dibatasi, ia menekankan pentingnya protokol kesehatan dasar, seperti penggunaan masker, cuci tangan, dan membatasi aktivitas saat sedang sakit.
“Ingat waktu era covid? Kan awalnya dari China, tiba-tiba udah sampai ke Indonesia,” ujarnya.
Menjelang masuk sekolah, Ferdy menilai peran sekolah dan orang tua sangat penting dalam pencegahan penularan influenza di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, dalam hal ini sekolah bisa berperan mengundang tenaga medis untuk edukasi, seperti cara cuci tangan yang benar, pola makan sehat, sampai etika batuk, dan seterusnya.
Ia juga menyarankan agar anak yang mengalami gejala flu atau demam, beristirahat saja di rumah sebagai tindakan preventif sederhana.
Harga Relatif Terjangkau, Tersedia di Fasilitas Kesehatan
Soal ketersediaan, Ferdy bilang vaksin influenza relatif mudah didapatkan di fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan vaksinasi dan ini perlu dipastikan kembali. Untuk harga, vaksin produksi lokal dinilai lebih ekonomis.
“Kalau yang lokal lebih ekonomis, 150 ribuan,” kata dia.