Kasus Super Flu di Jabar Relatif Menurun, Warga Diimbau Tidak Panik
RSHS Bandung mencatat tren kasus influenza saat ini justru menunjukkan penurunan di sejumlah daerah, khususnya di Jawa Barat.
Isu super flu atau keterpaparan virus influenza tipe H3N2 yang belakangan ramai diperbincangkan dipastikan tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mencatat tren kasus influenza saat ini justru menunjukkan penurunan di sejumlah daerah, khususnya di Jawa Barat.
Ketua Tim Penyakit Infeksi New Emerging Re-Emerging (Pinere), dr Yovita Hartantri, mengatakan bagian dari hasil surveilans rutin pascapandemi Covid-19, bukan fenomena “super flu” seperti yang dikhawatirkan sebagian masyarakat.
Dipaparkannya, pada 2023, Kementerian Kesehatan meminta seluruh rumah sakit vertikal di Indonesia, termasuk RSHS, untuk melakukan surveilans influenza pada pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan.
Sejak Agustus 2023 hingga 2024, seluruh pasien yang datang ke RSHS dengan gejala seperti batuk, demam, pilek, nyeri kepala, hingga sesak napas dilakukan skrining dan pemeriksaan swab.
“Jadi tidak hanya saat pandemi saja. Setelahnya pun kami tetap melakukan pemeriksaan, sehingga kami punya data yang cukup lengkap,” kata Yovita, saat menyampaikan paparannya dalam diskusi terbuka terkait Super Flu, di gedung MCHC RSHS, Bandung, Kamis (8/1).
Data Rumah Sakit
Berdasarkan data tersebut, RSHS mencatat adanya kasus influenza, khususnya Influenza A, pada 2025 yang dirawat di fasilitas kesehatan mereka. Kenaikan mulai terlihat sejak Agustus, meningkat pada awal 2025, lalu mencapai puncak pada Agustus hingga Oktober. Namun, tren tersebut mulai menurun pada November.
Sampel pemeriksaan dari RSHS terhadap pasien kemudian dikirim ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan di Jakarta. Hasilnya baru diterima pada awal Januari 2026. Dari laporan tersebut, tercatat 10 kasus Influenza A subtype H3N2 subclade K.
“Sepuluh ini memang sudah dirawat. Di bulan Oktober ada 8 kasus, dan November ada 2 kasus, jadi total ada 10 kasus,” ujarnya.
Ia menerangkan 10 pasien tersebut berada dalam rentang usia yang beragam. Dua di antaranya merupakan bayi dan anak.
Ia juga menerangkan bahwa dua di antara para pasien yang dirawat di RSHS mengalami gejala Super Flu yang tergolong berat berupa sesak napas sehingga dirawat ke ruang intensif.
Sementara itu, Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Hasan Sadikin Bandung, dr. Iwan Abdul Rachman, menjelaskan bahwa virus super flu atau Influenza A merupakan penyakit musiman yang umumnya muncul akibat perubahan cuaca.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik serta tetap menerapkan protokol kesehatan.
“Jika gejala flu terasa berat, kami mengimbau masyarakat untuk segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya RSUP Hasan Sadikin. Namun yang terpenting, masyarakat tidak perlu panik. Fokus utama adalah melakukan pencegahan dan menjaga daya tahan tubuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila gejala sudah muncul, langkah pencegahan perlu dilakukan agar penularan tidak terjadi kepada orang di sekitar.
“Tidak perlu panik, semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan,” tutupnya.