Hujan Deras Melanda, 850 Warga Pesisir Pekalongan Terpaksa Mengungsi
Berdasarkan informasi BMKG, curah hujan tinggi di Jawa Tengah dipengaruhi kombinasi fenomena global seperti La Nina lemah, Monsun Asia, serta fase bulan baru.
Ratusan warga di beberapa kawasan pesisir Kota Pekalongan terpaksa mengungsi setelah rumah mereka terendam banjir. Banjir yang melanda dipicu hujan lebat berkepanjangan, menyebabkan drainase tidak mampu menampung limpasan air dan Sungai Bremi meluap, menggenangi pemukiman sekitar.
"Total 850 warga tersebar di tujuh titik pengungsian. Pengungsian terbesar berada di aula Kecamatan Pekalongan Barat yang menampung sekitar 400 pengungsi," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, Sabtu (17/1).
Berdasarkan informasi BMKG, curah hujan tinggi di Jawa Tengah dipengaruhi kombinasi fenomena global seperti La Nina lemah, Monsun Asia, serta fase bulan baru.
"Kondisi atmosfer tersebut meningkatkan potensi hujan lebat, angin kencang, dan berdampak langsung pada wilayah pesisir seperti Pekalongan,” ungkapnya.
Ketinggian Air
Data BPBD mencatat, banjir menggenangi sejumlah kawasan dengan ketinggian air bervariasi mulai 10 sentimeter hingga mencapai 100 sentimeter di wilayah terparah.
Wilayah Kampung Baru Tirto menjadi salah satu titik terdampak paling serius dengan genangan mencapai 50 hingga 100 sentimeter.
"Sejak awal Januari hingga akhir bulan ini, intensitas hujan di Kota Pekalongan tergolong sedang hingga besar dan berlangsung cukup lama," ujarnya.
Genangan juga merendam ruas Jalan Majapahit, Jalan Singosari, Jalan Patriot, Jalan Ki Mangunsarkoro, hingga kawasan Pabean dan Kalibaros. Akibat kondisi tersebut, warga terpaksa mengungsi ke lokasi-lokasi yang lebih aman.
"Sepertu Masjid Alkaromah di Jalan Raya Tirto menampung sekitar 170 orang, sementara Mushola Al Ikhsan dan Mushola Al Amin masing-masing menampung sekitar 100 dan 40 pengungsi," jelasnya.
Pengungsi
Pengungsian lainnya berada di SDN Tirto 03, Masjid Al Ikhlas Sidomulyo, serta Mushola Babussalam Podosugih. Sedangkan untuk kebutuhan mendesak para pengungsi saat ini adalah obat-obatan, balsem, minyak kayu putih, selimut, serta pampers dewasa dan anak.
"Stok logistik terus kami distribusikan, tetapi beberapa kebutuhan medis ringan dan perlengkapan pengungsian masih sangat dibutuhkan,” katanya.
BPBD bersama TNI, Polri, OPD terkait, dan relawan terus melakukan evakuasi warga, pendataan dampak, serta pelayanan dasar di lokasi pengungsian.
"Kami siagakan posko kebencanaan, melakukan patroli, monitoring, serta koordinasi lintas sektor untuk memastikan keselamatan warga,” ujarnya.
Sedangkan untuk upaya penanganan difokuskan pada wilayah Tirto dan kawasan cekungan yang rawan tergenang saat hujan deras. Pemerintah Kota Pekalongan juga diminta untuk terus memperkuat dukungan logistik dan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi.
BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir susulan mengingat curah hujan diperkirakan masih tinggi hingga akhir Januari 2026.
"Kami mengajak masyarakat untuk segera melapor jika terjadi peningkatan debit air atau kondisi darurat lainnya,” katanya.