Banjir Binuang Serang Tak Kunjung Surut, Warga Harapkan Bantuan Air Bersih dan Perbaikan Tanggul Mendesak
Ratusan rumah di Kampung Kuranji, Binuang Serang, masih terendam banjir. Warga terdampak kini sangat membutuhkan pasokan air bersih dan perbaikan tanggul sungai yang kritis.
Ratusan rumah di Kampung Kuranji, Desa Cakung, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, Banten, masih terendam banjir hingga Sabtu (24/1), enam hari setelah air mulai naik. Kondisi ini menyebabkan kesulitan signifikan bagi warga setempat yang kini sangat mengharapkan bantuan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Ketinggian air yang bervariasi antara 50 sentimeter hingga satu meter telah memaksa sebagian besar penduduk untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Dampak banjir Binuang Serang ini terasa mendalam bagi 450 jiwa dari 200 Kepala Keluarga yang tinggal di 110 rumah terendam.
Meskipun upaya evakuasi dan penyediaan tenda pengungsian telah dilakukan, kebutuhan mendesak seperti air bersih dan perbaikan infrastruktur tanggul menjadi prioritas utama. Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan konkret untuk mengatasi permasalahan ini.
Krisis Air Bersih dan Kebutuhan Mendesak Pengungsi
Warga terdampak banjir Binuang Serang menghadapi krisis air bersih yang serius, menjadi salah satu keluhan utama di tengah bencana ini. Royadi, seorang warga Kampung Kuranji RT 02 RW 01, mengungkapkan bahwa pasokan air bersih sangat dibutuhkan karena tidak ada ketersediaan yang memadai.
Selain air bersih, kebutuhan mendesak lainnya meliputi kasur, selimut, perlengkapan bayi, serta peralatan mandi. Barang-barang ini esensial untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan para pengungsi, terutama anak-anak dan lansia, yang telah bertahan di kondisi sulit selama beberapa hari.
Banjir Binuang Serang ini telah berdampak pada 450 jiwa dari 200 Kepala Keluarga, dengan 110 rumah terendam. Sebagian warga memilih mengungsi ke wilayah Kresek (Tangerang), masjid, pesantren, hingga rumah kerabat, mencari tempat perlindungan sementara.
Sementara itu, sekitar 70 warga bertahan di tenda pengungsian yang telah disiapkan oleh BPBD Provinsi Banten. Penambahan tenda sangat dibutuhkan karena tenda sebelumnya tidak memungkinkan dan bocor saat hujan, menunjukkan urgensi fasilitas pengungsian yang layak.
Ancaman Tanggul Kritis dan Harapan Perbaikan Infrastruktur
Kondisi tanggul sungai yang kritis menjadi perhatian serius bagi warga terdampak banjir Binuang Serang, yang khawatir akan dampak jangka panjang. Warga secara swadaya dan gotong royong telah berupaya melakukan penanggulangan darurat menggunakan karung berisi tanah selama dua hari terakhir.
Upaya ini dilakukan untuk mencegah air masuk lebih deras ke permukiman, namun kondisi tanggul yang sudah menurun memerlukan penanganan lebih serius. Royadi menyebutkan bahwa pintu air juga sempat mengalami kerusakan, menambah kekhawatiran akan potensi banjir susulan.
Bahkan, salah satu warga bernama Asman berinisiatif menutup tanggul secara mandiri, meskipun tindakan tersebut berisiko tinggi. Inisiatif pribadi ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan perbaikan tanggul demi keselamatan warga lainnya.
Warga sangat berharap kepada pemerintah agar segera memperbaiki tanggul yang posisinya sudah menurun dan ditinggikan kembali. Perbaikan infrastruktur ini dianggap krusial untuk mencegah terulangnya bencana banjir Binuang Serang di masa mendatang dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.
Sumber: AntaraNews