Kampung Tambun Sungai Angke, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, masih dilanda banjir parah hingga memasuki pekan ketiga. Ketinggian air mencapai 80 sentimeter hingga 1,5 meter, merendam ratusan rumah warga. Kondisi ini telah berlangsung sejak awal Januari 2026 dan belum menunjukkan tanda-tanda surut.
Meluapnya aliran kali irigasi yang tidak mampu menampung debit air menjadi pemicu utama bencana ini. Intensitas hujan yang tinggi serta luapan sungai di sekitar permukiman memperparah situasi. Warga terdampak kini menghadapi kesulitan besar akibat genangan air yang tak kunjung surut.
Salah seorang warga, Syaifulloh HR, mengungkapkan bahwa banjir di Tambun Sungai Angke telah berlangsung selama kurang lebih 21 hari. “Banjir melanda Tambun Sungai Angke sudah berlangsung kurang lebih 21 hari atau tiga minggu, dari sekitar tanggal 9 Januari sampai 30 Januari,” ujar Syaifulloh HR.
Advertisement
Advertisement
Dampak Meluas dan Ketinggian Air di Tambun Sungai Angke
Banjir yang melanda Tambun Sungai Angke telah menyebabkan dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat setempat. Ketinggian air bervariasi, dengan wilayah terdampak terparah berada di RW 06 Dusun 3, di mana air mencapai 150 sentimeter. Sementara itu, di RW 05, ketinggian air berkisar antara 80 hingga 100 sentimeter.
Genangan air yang tinggi ini tidak hanya merendam rumah-rumah warga tetapi juga melumpuhkan berbagai aktivitas sehari-hari. Beberapa perumahan turut terdampak banjir di wilayah Tambun Sungai Angke, Tarumajaya, Bekasi. Antara lain Perumahan Griya Rahmani, Perumahan Leticia Mansion, Bumi Sakinah 2, serta Villa Mutiara Mas 1 dan 2.
Ketinggian air di Perumahan Villa Mutiara Mas 1 dan 2 serta Bumi Sakinah 2 terpantau berkisar 30 hingga 45 sentimeter. Sementara itu, Perumahan Griya Rahmani dan Leticia Mansion mengalami genangan air setinggi 30 hingga 60 sentimeter. Situasi ini memaksa banyak keluarga untuk beradaptasi dengan kondisi yang sulit dan tidak menentu.
Advertisement
Durasi banjir yang panjang, mencapai tiga minggu, telah menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan warga. Mereka berharap ada tindakan cepat dari pemerintah untuk mengatasi krisis ini. Kondisi ini juga mengganggu mobilitas dan aksesibilitas di seluruh area terdampak, menjadikan bantuan sangat dibutuhkan.
Advertisement
Tuntutan Warga dan Penyebab Banjir Berlarut
Warga terdampak banjir di Tambun Sungai Angke mendesak pemerintah setempat untuk segera menyalurkan bantuan sembako. Mayoritas warga menggantungkan hidup sebagai pedagang dan petani, yang kini kesulitan beraktivitas akibat banjir berkepanjangan. “Sebagian besar mata pencarian warga adalah pedagang dan petani. Karena banjir sudah lama, warga sulit berusaha dan berdagang,” kata Syaifulloh HR.
Selain bantuan logistik, warga juga meminta layanan pengobatan secara berkala. Banjir yang berlangsung lama telah menyebabkan banyak warga mengalami masalah kesehatan. “Pengobatan itu penting karena banjirnya sudah lama. Banyak warga mengalami masalah kesehatan, seperti demam dan penyakit kulit,” ucap Syaifulloh HR.
Syaifulloh HR, Ketua MUI Desa Pahlawan Setia, menyoroti pentingnya normalisasi saluran air. Warga mendesak pemerintah untuk segera membuka dan menormalisasi saluran air menuju Segara Jaya. Menurutnya, gorong-gorong dan saluran air tersebut telah mengalami pendangkalan parah dan lama tidak dikeruk.
Advertisement
Pendangkalan saluran air ini menjadi penyebab utama terhambatnya aliran air dari Tambun Sungai Angke. “Saluran air ke Segara Jaya sudah dangkal dan lama tidak dinormalisasi. Karena saluran airnya macet, banjir di Tambun Sungai Angke lama surutnya, bisa berminggu-minggu. Di sini jadi seperti tempat parkirnya air,” kata Syaifulloh.
Advertisement
Dampak Ekonomi, Pendidikan, dan Harapan Warga
Sektor ekonomi warga Tambun Sungai Angke terpukul parah akibat banjir ini. Para pedagang tidak bisa berjualan, sementara petani kehilangan hasil panen karena sawah terendam. Kondisi ini mengancam mata pencarian dan stabilitas ekonomi keluarga di tengah situasi yang serba sulit.
Dunia pendidikan juga terganggu oleh bencana banjir. Beberapa sekolah di sekitar wilayah Tambun Sungai Angke, seperti MI Attaqwa 41, SMP Attaqwa 13, dan SDIT Samba Taruma, terpaksa melakukan pembelajaran secara daring. Hal ini menunjukkan dampak luas banjir terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Warga Tambun Sungai Angke sangat berharap adanya langkah cepat dan konkret dari pemerintah. Mereka menginginkan solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir yang terus berlarut. Intervensi pemerintah diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang, demi kesejahteraan masyarakat.
Advertisement
Banjir ini merupakan pengingat penting akan perlunya infrastruktur drainase yang memadai dan pemeliharaan rutin. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih tangguh terhadap bencana alam. Harapan akan masa depan yang lebih baik terus disuarakan oleh warga terdampak.
Sumber: AntaraNews