Hari-Hari Penuh Ketegangan di Iran
Sultan adalah mahasiswa yang telah tinggal 3,5 tahun di Kota Mashhad, Iran. Di kota itu ia membangun kehidupan bersama istri dan anaknya.
Bandara Soekarno-Hatta malam itu tidak tampak seperti biasanya. Di antara hiruk-pikuk terminal internasional, rombongan warga negara Indonesia berjalan perlahan keluar dari shelter Kalayang, Terminal III, pada Senin (24/6) malam.
Di antara mereka, seorang pria tampak menggedong anaknya sambil menenteng tas selempang. Wajahnya tampak letih, tapi matanya menyiratkan kelegaan.
Namanya Sultan Fatoni (43) warga Samarinda yang baru saja melewati perjalanan penuh ketegangan selama enam hari. Dari Iran menuju Tanah Air.
"Sudah dari Kamis kami perjalanan dari Iran, jadi sudah 6 hari agak capek," kata Fatoni saat berbincang sesaat di Terminal III Bandara Soetta.
Sultan adalah mahasiswa yang telah tinggal 3,5 tahun di Kota Mashhad, Iran. Di kota itu ia membangun kehidupan bersama istri dan anaknya.
Namun beberapa hari terakhir, kedamaian yang selama ini ia rasakan berubah menjadi bayang-bayang kecemasan menghantui. Kondisi menegangkan seperti ini baru pertama ia alami.
"Kami dengar katanya banyak drone. Memang bom tidak sampai ke Mashhad, tapi beberapa hari ada drone. Salah satunya sempat ditembak pertahanan Iran. Untungnya tidak jatuh," ujarnya.
Rasa takut tak mudah disangkal. Terlebih, rumah Sultan hanya sekitar 10 menit dari bandara Mashhad, target serangan drone yang dikabarkan datang dari Israel.
Iran Umumkan Siaga Perang, Akses Informasi Dipersepit
Situasi makin terasa tak kondusif setelah Pemerintah Iran menetapkan kondisi siaga perang. Internet dipersempit, situs luar diblokir, hanya aplikasi dan laman dalam negeri yang bisa diakses.
"Jadi situs luar tidak bisa dibuka, jadi hanya situs atau aplikasi buatan dalam negeri aja yang bisa dibuka, atau lokal," ucapnya.
Meski kota Mashhad jauh dari jangkauan rudal-rudal, suasana penuh mencekam tetap terasa. Terutama setelah ada kabar dua kota lain diserang usai Fatoni dievakusi.
"Pas kamis memang beberapa kota masih kelihatan aman, tapi setelah 2 hari kami pergi, 2 kota mendapat serangan baru seperti ada dari Amerika ikut juga," ucapnya.
Evakuasi dimulai dari Kamis (19/6) pekan lalu. Dari Mashhad, Sultan dan keluarganya menempuh satu hari penuh perjalanan darat menuju KBRI. Di sana, mereka menunggu teman-teman WNI dari kota lain. Mereka sempat transit di Baku, Azerbaijan, sebelum akhirnya diterbangkan ke Jakarta.
"Nginap 1 hari, dari kota lain setelah itu berangkat jalur darat ke perbatasan Azerbaijan itu juga satu hari," katanya.
Langkah lelah Sultan akhirnya berhenti malam itu di Bandara Soekarno-Hatta. Rasa syukur terpancar karena ia bisa kembali ke Tanah Air dengan selamat. Setidaknya sejenak melepas ketakutan sembari melepas rindu dengan keluarga.