Kesaksian dari Iran: Siaga Perang, Drone di Mana-Mana
"Kondisi di sana cukup mencekam karena ada serangan dari Israel beberapa saat, lalu berhenti beberapa saat, dan kadang-kadang lanjut lagi."
Suasana mencekam. Desingan rudal bergemuruh. Langit Iran terlihat sibuk. Deretan rudal diluncurkan silih berganti dengan target pendaratan di tanah Israel.
"Kondisi di sana cukup mencekam karena ada serangan dari Israel beberapa saat, lalu berhenti beberapa saat, dan kadang-kadang lanjut lagi. Lokasi saya di Kota Qom, Iran," ucap Ali Murtado saat ditemui di Tangerang, Banten, Rabu (25/6).
Pemuda berusia 24 tahun merupakan mahasiswa asal Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Iran. Ali termasuk dalam daftar sebelas Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi pemerintah akibat memanasnya perang Iran-Israel.
Ali menceritakan, proses evakuasi juga tak berlangsung mulus. Padahal, sudah ditempuh melalui jalur darat. Masih jelas dalam ingatan Ali, rombongan WNI yang dievakuasi sempat disetop lantaran ada serangan drone Israel. Ali bersama WNI lain terpaksa berhenti untuk berlindung di bawah tanah yang telah dipersiapkan Pemerintah Iran.
"Saya sempat mendengar suara ledakan besar sebanyak dua kali dan mayoritas serangan Israel itu berhasil ditepis Iran," kata Ali.
Ali juga menerangkan perjalanan darat dari Kota Qom menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Taheran dan melanjutkan perjalanan menuju ke perbatasan Baku, Azerbaijan membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari.
"Kami menginap satu hari di gedung KBRI, setelah itu jam 07.00 waktu setempat kami berangkat ke perbatasan Iran-Azerbaijan di wilayah Baku. Di sana kami itu menginap selama sekitar dua hari baru diterbangkan ke Istanbul lalu ke Jakarta," ucap Ali.
Senada dengan Ali, Sultan Fatoni mengalami hal sama. Pria berusia 43 tahun warga Samarinda ini juga ikut dalam rombongan WNI yang dievakuasi dari Iran. Sultan yang telah 3,5 tahun menetap di Iran ini telah membangun rumah tangga di Kota Mashhad, Iran.
Kedamaian yang ia rasakan kini berubah jadi mencekam. Rasa cemas menghantui imbas konflik Iran-Israel memanas.
"Kami dengar katanya banyak drone. Memang bom tidak sampai ke Mashhad, tapi beberapa hari ada drone. Salah satunya sempat ditembak pertahanan Iran. Untungnya tidak jatuh," ujarnya.
Rasa takut tak mudah disangkal. Terlebih, rumah Sultan hanya sekitar 10 menit dari bandara Mashhad, target serangan drone yang dikabarkan datang dari Israel.
Situasi langsung berubah. Pemerintah Iran menetapkan kondisi siaga perang. Internet dipersempit, situs luar diblokir, hanya aplikasi dan laman dalam negeri yang bisa diakses.
"jadi situs luar tidak bisa dibuka, jadi hanya situs atau aplikasi buatan dalam negeri aja yang bisa dibuka, atau lokal," ucapnya.
Meski kota Mashhad jauh dari jangkauan rudal-rudal, suasana penuh mencekam tetap terasa. Terutama setelah ada kabar dua kota lain diserang usai Fatoni dievakusi.
"Pas kamis memang beberapa kota masih kelihatan aman, tapi setelah 2 hari kami pergi, 2 kota mendapat serangan baru seperti ada dari Amerika ikut juga," ucapnya.
Evakuasi dimulai dari Kamis (19/6) pekan lalu. Dari Mashhad, Sultan dan keluarganya menempuh satu hari penuh perjalanan darat menuju KBRI. Di sana, mereka menunggu teman-teman WNI dari kota lain. Mereka sempat transit di Baku, Azerbaijan, sebelum akhirnya diterbangkan ke Jakarta.
"Nginap 1 hari, dari kota lain setelah itu berangkat jalur darat ke perbatasan Azerbaijan itu juga satu hari," katanya.
Langkah lelah Sultan akhirnya berhenti malam itu di bandara Soekarno-Hatta. Rasa syukur terpancar karena ia bisa kembali ke Tanah Air dengan selamat.
Hiruk Pikuk Bandara
Malam itu, Bandara Soekarno-Hatta malam itu tidak tampak seperti biasanya. Di antara hiruk-pikuk terminal internasional, rombongan Warga Negara Indonesia (WNI) berjalan perlahan keluar dari shelter Kalayang, Terminal III, pada Senin (24/6) sekira pukul 19.45 malam.
Mereka tampak membawa koper dan barang bawaan secukupnya, sebagian besar mengenakan pakaian kasual. Terlihat ekspresi lega dari wajah para WNI yang baru tiba. Sejauh ini, ada 11 WNI yang sudah tiba di Soetta. Kedatangan mereka didampingi pihak Kementerian Luar Negeri dan Kemenko Polkam.
200 WNI Berada di Iran
Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri Andy Rachmianto mengungkap, ada sekitar 200 lebih warga negara Indonesia (WNI) memilih menetap di Iran di tengah konflik dengan Israel. Seluruh WNI itu menetap di Kota Qom, Iran.
"Di Qom itu kira-kira ada sekitar 200-an. Paling banyak itu memang dari 380 sekian itu WNI kita konsentrasi paling banyak di Kota Qom. Ya (200 orang) mereka masih, untuk sementara tinggal di sana," kata Andy di Terminal III, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (24/6) malam.
Andy mengungkap, para WNI itu kebanyakan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan. Menurutnya, Qom adalah kota yang aman dan tidak menjadi target serangan.
"Jadi mereka utamanya itu yang dari Qom. Karena Qom itu kan kota suci ya di sana untuk Iran ya, agama mereka. Dan konsentrasi WNI kita paling banyak memang di Kota Qom khususnya mahasiswa yang sedang belajar. Jadi karena Qom itu kota sucinya mereka, Kota Qom itu tidak menjadi target serangan," kata Andy.
Andy mengatakan, di kota tersebut tidak terdengar suara sirene selama eskalasi antara Iran dan Israel terjadi. Para WNI yang menetap pun merasa tenang-tenang saja.
"Salah satu yang pernah tinggal di Qom juga dia sudah tinggal 28 tahun di Iran, 10 tahun di Qom. Dari komunikasi dengan teman-temannya di sana, ya kota Qom itu relatif aman, tenang-tenang saja," ujar Andy.
"Karena tidak terdengar sirene, karena tidak menjadi target serangan. tidak ada sirene tidak ada kepanikan ya normal-normal saja. Karena itu saudara-saudara kita yang di sana merasa ya mungkin mereka belum perlu lah, untuk kembali ke Indonesia," tukasnya.