Cerita Dramatis Mahasiswa Indonesia Keluar dari Zona Perang Iran, Tempuh Jalan Darat 6 Hari ke Azerbaijan

Sultan bercerita singkat soal perjalanannya keluar dari zona perang di Iran.

Kirom
Oleh Kirom - Reporter
Cerita Dramatis Mahasiswa Indonesia Keluar dari Zona Perang Iran, Tempuh Jalan Darat 6 Hari ke Azerbaijan
Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) berjalan keluar terminal setibanya dari Iran di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Selasa (24/06/2025). (AFP/ Aditya Irawan)

Mahasiswa asal Samarinda, Kalimantan Timur Sultan Fathoni tengah menempuh pendidikan tinggi di Iran mengungkap situasi negara tersebut yang telah siap berperang dengan Israel.

Sambil berjalan terhuyung setelah tiba di shelter kedatangan umrah terminal 3 Soekarno-Hatta, Sultan bercerita singkat soal perjalanannya keluar dari zona perang di Iran.

Meski sudah 3,5 tahun bermukim di Kota Masyhad, Iran, Sultan Fathoni bersama dua anak dan seorang istrinya itu baru kali ini merasakan situasi tidak mengenakan di Republik Islam Iran itu.

“Pemerintah Iran sudah mengkondisikan bahwa ini negara sudah dalam kondisi perang. Baru ini (perang) sejak 3,5 tahun saya tinggal,” kata Sultan Fathoni di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Sultan menceritakan perjalanan evakuasi dirinya beserta istri dan dua anaknya sudah sejak Kamis 21 Juni 2025 atau selama kurang lebih 6 hari setelah meninggalkan Kota Masyhad, menuju Kantor Kedutaan Besar RI di Teheran hingga akhirnya tiba di tanah air.

“Karena kami berangkat sejak Kamis, beberapa kota masih kelihatan aman dan dua hari setelah kami pergi dari Iran, beberapa kota baru diserang katanya ada dari Amerika juga ikut,” ungkapnya.

Dalam perjalanan keluar dari zona perang di Iran, Sultan bersama istri dan anaknya menempuh perjalanan darat selama satu hari dari Kota Masyhad menuju KBRI di Teheran.

Di kantor Kedutaan Besar RI, Sultan beserta beberapa WNI lain harus menunggu WNI lain yang ada di berbagai kota di Iran setelah berhasil dievakuasi.

“Kami dari Masyhad ke KBRI agak jauh karana harus kumpul di KBRI satu hari perjalanan, menunggu temen-teman dari kota lain kumpul satu hari. Setelah itu baru berangkat dari perbatasan ke Azarbaijan, itu juga satu hari,” terang dia.

Sultan memastikan sebelum dia dan beberapa WNI lain dievakuasi untuk dipulangkan ke Indonesia, Pemerintah Iran sudah mengumumkan kondisi negara saat itu.

“Pemerintah Iran sudah mengkondisikan bahwa ini negara sudah dalam kondisi perang,” ucap dia.

Dengan kondisi itu, kata Sultan, Pemerintah Iran memperketat aturan dalam negeri dengan berbagai pembatasan akses masyarakat ke luar wilayah Iran.

“Jadi beberapa akses dipersulit. Internet di nasionalisasi. Jadi situs atau aplikasi dalam negeri saja yang bisa di buka yang lokal,” jelasnya.

Rekomendasi