Gemuk Bukan Tanda Sehat, Begini Cara Atasi Obesitas pada Anak
Anak sehat adalah yang tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan yang ditetapkan oleh WHO.
Obesitas pada anak-anak masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, sekitar 10,8% anak usia 5–12 tahun dikategorikan gemuk dan 9,2% obesitas. Artinya, 1 dari 5 anak di rentang usia ini mengalami kelebihan berat badan.
Kondisi obesitas ini ditandai dengan penumpukan lemak tubuh yang berlebihan, berdampak buruk pada kesehatan jangka panjang.
Orang tua perlu mengenali ciri-ciri obesitas sejak dini agar dapat melakukan pencegahan dan penanganan yang tepat.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso menyatakan, anak sehat bukanlah yang gemuk, overweight, atau obesitas. Sebaliknya, anak sehat adalah yang tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan yang ditetapkan oleh WHO.
"Anak sehat bukan gemuk, bukan overweight, atau obesitas. Oleh karena itu, biarlah anak itu tumbuh sesuai dengan kurvanya," kata Piprim, Rabu (17/10).
Ciri-Ciri Obesitas pada Anak
Ciri-ciri obesitas pada anak beragam, meliputi perubahan fisik yang kasat mata dan perubahan perilaku. Beberapa ciri fisik meliputi wajah membulat, pipi tembem, dan dagu berlipat (double chin).
Selain itu, leher tampak pendek, perut buncit dan berlipat, serta dada membusung pada anak laki-laki. Pada anak perempuan, mungkin terjadi pembesaran payudara sebelum waktunya.
Anak dengan obesitas juga sering kali memiliki tungkai berbentuk huruf 'X', kesulitan menggerakkan panggul, dan paha serta perut berlemak dan berlipat. Mereka juga kadang mengalami napas pendek saat berolahraga atau gangguan pernapasan saat tidur.
Bahaya Anak Obesitas
Obesitas pada anak-anak dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan fisik yang serius. Penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk penyakit jantung koroner, stroke, dan hipertensi, menjadi ancaman nyata.
Penumpukan lemak di pembuluh darah menghambat aliran darah ke jantung dan otak, meningkatkan risiko komplikasi yang berbahaya. Diabetes tipe 2, yang biasanya dikaitkan dengan orang dewasa, juga dapat menyerang anak-anak dengan obesitas, merusak organ vital seperti mata, ginjal, dan saraf.
Masalah pernapasan, seperti asma dan sleep apnea, juga sering terjadi pada anak obesitas. Sleep apnea ditandai dengan berhentinya pernapasan secara berulang selama tidur, mengganggu kualitas tidur dan menyebabkan kelelahan di siang hari.
Kelebihan berat badan juga memberi tekanan berlebih pada tulang dan sendi yang masih berkembang, meningkatkan risiko radang sendi, patah tulang, dan gangguan pertumbuhan tulang seperti SCFE (slipped capital femoral epiphysis). Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, dan ketidakstabilan pada pinggul dan kaki.
Selain itu, obesitas juga dapat menyebabkan masalah hati, seperti penyakit hati berlemak, yang dapat menyebabkan kerusakan hati jangka panjang. Kolesterol tinggi juga merupakan risiko yang sering menyertai obesitas, karena pola makan yang tidak sehat seringkali menjadi faktor pencetus.
Pada anak perempuan, obesitas dikaitkan dengan pubertas dini dan peningkatan risiko kista ovarium. Risiko hernia juga meningkat pada anak-anak dengan obesitas.
Cara Atasi Obesitas Anak
Penanganan obesitas pada anak bisa dimulai dengan berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau ahli gizi. Mereka akan mengevaluasi kondisi anak, menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), mendiagnosis kondisi medis yang mungkin mendasari obesitas, dan merancang rencana penanganan yang sesuai.
Pola makan seimbang dan teratur adalah fondasi utama dalam mengatasi obesitas anak. Berikan makanan bergizi seimbang dengan porsi sesuai usia dan aktivitas anak.
Anjurkan makan tiga kali sehari dengan satu atau dua kali camilan sehat di antaranya. Camilan sehat meliputi buah-buahan (hindari buah tinggi kalori seperti mangga dan durian), sayuran, kacang-kacangan, dan yogurt rendah lemak.
Batasi konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, minuman manis, dan makanan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh. Batasi juga konsumsi susu full cream, dan pertimbangkan susu rendah lemak untuk anak di atas dua tahun.
Perbanyak serat dan air putih dengan memasukkan banyak buah dan sayur (minimal lima porsi sehari) dalam menu harian anak dan dorong anak untuk minum banyak air putih.
Anak juga perlu melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari. Aktivitas ini bisa berupa olahraga terstruktur (berenang, bersepeda, bermain olahraga tim) atau aktivitas fisik tidak terstruktur (bermain di luar ruangan, berjalan kaki, menari).
Batasi waktu menonton televisi, bermain game, dan penggunaan gadget. Gunakan waktu tersebut untuk aktivitas fisik atau kegiatan lain yang lebih produktif. Libatkan anak dalam aktivitas fisik yang mereka sukai untuk meningkatkan motivasi dan konsistensi.
Contoh aktivitas fisik yang dapat dilakukan anak adalah bersepeda, bermain di taman, berenang, bermain bola, senam, jalan kaki, menari.