Deretan Kasus Obesitas Bikin Heboh di Indonesia, Ada yang Sampai Meninggal
Menurut survei Kemenkes tahun 2023, sebanyak 23,4 persen penduduk dewasa di Indonesia ternyata mengalami obesitas.
Pernyataan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin soal obesitas menjadi perhatian publik. Dia menyebut, jika ukuran jeans laki-laki diatas 32-34 maka menghadap ke Allah cepat.
"Pokoknya laki-laki kalau beli celana jeans masih di atas 32-33. Ukurannya berapa celana jeans? 34-33. Udah pasti obesitas. Itu menghadap Allahnya lebih cepat dibandingkan yang celana jeansnya 32," kata Budi, kepada wartawan di acara peluncuran Pasukan Putih Jakarta, Rabu (14/5).
"Saya bukannya body shaming, tapi emang artinya begitu," sambungnya.
Lalu, seperti apa data obesitas di Indonesia?
Menurut survei Kemenkes tahun 2023, sebanyak 23,4 persen penduduk dewasa di Indonesia ternyata mengalami obesitas.
Angka ini menunjukkan, hampir satu dari lima orang dewasa usia di atas 18 tahun memiliki kelebihan lemak tubuh yang berisiko terhadap kesehatan.
Kementerian kesehatan (Kemenkes) menjelaskan, obesitas erat kaitannya dengan pola makan tidak sehat, seperti konsumsi makanan berlebihan, frekuensi makan tidak teratur. Serta tingginya asupan makanan manis, berlemak, dan gorengan.
Data menunjukkan prevalensi obesitas tertinggi terjadi pada perempuan usia 40–44 tahun, yakni 41,7 persen, disusul kelompok usia 45–49 tahun dengan 41,1 persen. Angka terendah berada di usia 19 tahun, yakni 9,8 persen. Kelompok usia 20–39 tahun mencatat angka obesitas antara 16 hingga 38 persen.
Pada laki-laki, obesitas paling banyak terjadi pada usia 45–49 tahun (19,3 persen), diikuti usia 40–44 tahun (19,2 persen). Sementara angka terendah juga ditemukan pada usia 19 tahun, yaitu 7,2 persen.
Berikut kasus obesitas yang sempat bikin heboh di Indonesia:
1. Titi Wati (350 kg)
Awal Januari 2019, Titi Wati alias Titin menjadi perhatian publik karena memiliki berat badan sebesar 350 kg. Perempuan asal Kalimantan Tengah itu dilaporkan sempat tidak bisa berdiri karena tidak kuat menopang berat badannya.
Titin divonis masuk ke dalam kategori obesitas morbid. Setelah dievakuasi oleh sekitar 20 petugas dari rumahnya menuju RSUD Doris Sylvanus, Palangkaraya, untuk segera memperoleh penanganan medis.
Saat itu, Titin menjalani operasi bariatrik yang dapat membantu menurunkan berat badan. Menurut sejumlah laporan, operasi pengecilan lambung yang dilakukan Titin dinilai mampu menurunkan berat badannya sebanyak 15-20 kilogram dalam waktu satu bulan dan mengurangi volume lambung sebesar 50 persen.
Setelah operasi, berat badan Titin sempat turun sekitar 100 kg. Tidak hanya itu, tingkat gula darah Titin pun sempat mengalami penurunan di angka 150.
Pada November 2022, Titin mengeluhkan sakit akibat kesulitan buang air besar (BAB). Namun, pada akhir Januari 2023 Titin meninggal dunia akibat obesitas dan infeksi saluran kemih.
2. Aria Permana (192 kg)
Agustus 2016 lalu, Aria Permana sempat menjadi sorotan utama masyarakat Indonesia karena memiliki berat badan 192 kilogram saat berusia sembilan tahun.
Diketahui, Juli 2016 Aria ditangani 13 dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Tim dokter tersebut terdiri dari dokter ahli gizi, kejiwaan, serta sejumlah dokter dengan berbagai spesialisasi.
Akibat bobot tubuhnya, Aria sempat sulit bergerak. Bahkan, Aria sempat berhenti bersekolah akibat kelelahan berjalan.
Setelah melalui berbagai penanganan medis, dia dibimbing oleh binaragawan, Ade Rai, untuk menjalani pola hidup sehat. Dalam proses tersebut, Ade Rai memberikan sejumlah alat pendukung agar Aria aktif bergerak, seperti bola, raket bulu tangkis, barbel, dan stamper.
Berkat bimbingan Ade Rai dan penanganan medis, berat badan Aria turun dari 193 kg menjadi 83 kg. Aria juga sempat menjalani operasi gelambir kulit untuk menghilangkan sisa gelambir pada sejumlah area tubuh seperti tangan, perut, dan dada.
3. Yudi Hermanto (310 kg)
Penderita obesitas ekstrem asal Karawang, Jawa Barat, Yudi Hermanto, memiliki berat badan sebesar 310 kg. Akibatnya, Yudi sempat menjalani perawatan di RSUD Karawang.
Yudi mengaku berat badannya mulai naik sejak 2015. Saat itu, dia bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu perusahaan katering Karawang. Yudi yang sering bertugas malam hari kerap diberi sisa makanan katering oleh sopir mobil.
Menurut Yudi, setelah bekerja selama setahun sebagai sekuriti, berat badannya mencapai 110. Setelah memutuskan berhenti bekerja dan menganggur, kebiasaan makan Yudi semakin tidak terkontrol.
Pada Desember 2017, Yudi dinyatakan meninggal dunia akibat mengalami sesak napas dan kejang-kejang setelah mandi.