Gara-Gara Sampah Tak Terangkut, SD Negeri di Bandung Kebanjiran
Diduga penyebab utama adalah tumpukan sampah di jalan yang tidak diangkut sejak pagi, sehingga menutup saluran drainase.
Hujan deras yang mengguyur Kota Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (24/10) siang menyebabkan Sekolah Dasar (SD) Negeri 065 Cihampelas, Kecamatan Coblong, tergenang air bercampur sampah.
Genangan air setinggi lutut itu membuat lingkungan sekolah mendadak berubah layaknya “waterboom dadakan” dengan air keruh dan tumpukan sampah di mana-mana.
Pembantu Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, Dedi, menjelaskan air meluap secara tiba-tiba dari arah jalan utama menuju area sekolah.
Ia menduga penyebab utama adalah tumpukan sampah di jalan yang tidak diangkut sejak pagi, sehingga menutup saluran drainase.
“Awalnya hujan besar. Terus sampah yang ada di depan itu tidak diangkut. Biasanya pagi-pagi suka ada yang angkut, tapi hari tadi pagi tidak,” ujar Dedi.
Air dan Sampah Masuk ke Ruang Kelas
Dedi menceritakan, saat hujan turun deras, air bercampur sampah langsung masuk ke area sekolah dan menyerbu hingga ke dalam ruang kelas.
Beruntung, para siswa sudah pulang lebih dulu setelah kegiatan belajar selesai sebelum waktu salat Jumat. Ia menambahkan, air kiriman dari kawasan Bandung utara turut memperburuk kondisi.
“Air dari arah Setiabudi, Ciumbuleuit, terus arah Lamping. Akhirnya pertemuannya pas di Cihampelas. Sampah terbawa ke dalam dan menutupi gorong-gorong di sekolah. Ya akhirnya semua banjir,” katanya.
Ketinggian air di beberapa titik halaman sekolah mencapai sekitar 50 sentimeter, sementara lapangan sekolah terendam sepenuhnya dengan sampah mengambang di seluruh permukaan.
“Kalau di sebelah sana 50 sentian. Lapang jelas kerendam. Sampah di lapang itu luar biasa,” ucap Dedi.
Beruntung Air Cepat Surut
Beberapa peralatan sekolah seperti speaker bekas kegiatan angklung ikut terendam air.
Namun, Dedi menyebut kerusakan belum bisa dipastikan karena proses pembersihan masih berlangsung. Kabar baiknya, genangan tidak berlangsung lama.
“Kurang lebih dari reda hujan sekitar 15 menit, surutnya cepat,” tutur Dedi.
Peristiwa serupa pernah terjadi sebelumnya, sekitar tahun 2009–2010, ketika banjir jauh lebih parah hingga ketinggian air mencapai satu meter dan merusak dokumen serta buku-buku sekolah.
Usai kejadian, pihak sekolah langsung melakukan pembersihan ruang kelas dan halaman. Dedi berharap, pengangkutan sampah di lingkungan sekitar bisa kembali dilakukan secara rutin agar kejadian seperti ini tidak terulang.
“Ini baru-baru membersihkan ini dulu kelas,” ujarnya.
Pantauan di lokasi, sejumlah pemuda ikut membantu membersihkan selokan, sementara beberapa guru dan warga sekolah lainnya turut mengepel koridor dan ruang kelas.
Anak Dedi yang juga bersekolah di SD tersebut tampak ikut membantu ayahnya mengeringkan lantai.