FOTO: Tidur di Atas Pasir, Tradisi Aneh tapi Nyata dari Ujung Timur Madura
Warga tiga komunitas pesisir yakni Legung Timur, Legung Barat, dan Dapenda dikenal sebagai desa pasir, dimana mereka dalam kesehariannya hidup bersama pasir.
Di ujung timur laut Pulau Madura, Jawa Timur, pasir bukan sekadar elemen alam a adalah bagian dari kehidupan. Di tiga komunitas pesisir, Legung Timur, Legung Barat, dan Dapenda, yang dikenal sebagai desa pasir, butiran halus itu menyelimuti halaman depan rumah hingga merembes ke dalamnya.
Bagi warga, pasir membawa kenyamanan, kedekatan, bahkan penyembuhan. Setelah seharian melaut, mereka biasa duduk santai di halaman berpasir, bercengkerama hingga larut malam. “Pukul 11 atau 12 malam, saat udara mulai dingin, baru kami pulang,” ujar Pundia, seorang warga yang seperti kebanyakan orang Madura, hanya memiliki satu nama.
Tradisi membawa pasir dari pantai ke rumah telah diwariskan turun-temurun. “Saya lahir di atas pasir ini,” kata Adnan, 55 tahun. “Sejak kecil saya belajar merangkak dan berdiri di atas pasir. Inilah dunia saya.”Di banyak rumah, terdapat ruangan khusus berisi pasir yang disebut kasur pasir tempat orang tua beristirahat. Agar tetap bersih, pasir disaring dengan jaring halus untuk memisahkan batu dan kotoran yang terbawa angin.
Namun, kebiasaan unik ini terancam hilang. Pembangunan dan pencemaran pantai membuat pasir semakin sulit didapat dalam kondisi murni. Ibnu Hajar, peneliti budaya Madura, menyebut hubungan masyarakat pesisir dengan alam sebagai sesuatu yang tak terpisahkan. “Ada pepatah Madura,” ujarnya, “ombak adalah bantal, dan angin adalah selimut.”Tradisi hidup bersama pasir ini bukan sekadar warisan, tapi juga cermin kedekatan manusia dengan laut, sebuah harmoni yang kini perlahan terkikis oleh zaman.