Fakta Unik: Siswa SMPN 8 Batam Minta Porsi Makan Bergizi Gratis Ditambah, Mengapa Porsi Sekarang Kurang?
Siswa SMPN 8 Batam menyuarakan permintaan penambahan porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan empat bulan. Apa alasannya dan bagaimana tanggapan pihak sekolah serta penyedia layanan?
Sejumlah siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 8 Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau, baru-baru ini mengajukan permintaan khusus terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mereka terima. Mereka berharap porsi makanan yang disalurkan dapat ditambah, karena porsi yang ada saat ini dirasa kurang mencukupi, terutama bagi sebagian siswa.
Permintaan ini disampaikan langsung oleh para siswa saat ditemui di lingkungan sekolah mereka pada Kamis. Antusiasme terhadap program MBG cukup tinggi, mengingat menu yang disajikan dinilai lezat dan sesuai selera. Hal ini mendorong keinginan siswa untuk dapat menikmati makanan dalam jumlah yang lebih banyak.
Program MBG sendiri telah menjadi bagian dari kegiatan harian di SMPN 8 Batam selama empat bulan terakhir. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan gizi siswa terpenuhi, sekaligus melatih kedisiplinan mereka dalam mengelola distribusi makanan. Pihak sekolah dan penyedia layanan terus berupaya meningkatkan kualitas dan efektivitas program ini.
Permintaan Tambahan Porsi dan Antusiasme Siswa
Brian, seorang siswa kelas 9 SMP Negeri 8 Batam, mengungkapkan harapannya agar porsi Makan Bergizi Gratis dapat ditingkatkan. “Iya kalau bisa ditambah lebih banyak lagi, karena buat saya kurang banyak,” katanya saat ditemui di sekolahnya. Keluhan mengenai porsi yang kurang banyak ini umumnya dirasakan oleh siswa laki-laki.
Beberapa siswa laki-laki bahkan kerap memakan porsi nasi milik rekannya yang tidak hadir atau mendapatkan pembagian dari siswa perempuan yang memang makan dalam jumlah sedikit. Permintaan penambahan porsi MBG ini muncul karena siswa sudah sangat cocok dengan menu-menu yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Summerland.
Nadia, siswa kelas 9.1 SMP Negeri 8, menambahkan bahwa menu yang dihidangkan selalu enak. “Menunya enak-enak semua, hari ini ada semur ayam, tempe mendoan, sayur dan buah melon,” ujarnya. Kondisi MBG yang disajikan dalam ompreng berbahan stainless steel bahkan mengeluarkan aroma wangi yang mengundang selera makan sebelum dibagikan kepada siswa.
Implementasi dan Dampak Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah
Kepala Sekolah SMP Negeri 8 Batam, Rosmiati, menjelaskan bahwa sekolahnya merupakan yang pertama mendapatkan program MBG di Kecamatan Nongsa. Program ini telah berjalan selama empat bulan dan melibatkan 800 siswa SMP Negeri 8 yang setiap hari menerima MBG yang disuplai dari SPPG Summerland melalui mitra SIA.
Rosmiati mengklaim bahwa hampir semua menu makanan yang disajikan disukai oleh anak-anak, dengan pengecualian beberapa menu seperti telur rebus. Ia juga memastikan bahwa tidak ada makanan yang bersisa. Jika ada lauk atau telur yang tidak dikonsumsi, pihak sekolah akan mengumpulkannya untuk dibagikan kepada siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu.
Lebih lanjut, Rosmiati menegaskan bahwa program MBG tidak memengaruhi pendapatan kantin yang ada di sekolah. “Sejak ada MBG, kantin di sekolah tetap biasa normal penjualannya, tidak ada pengurangan pendapatan. Karena siswa tetap jajan sebelum makan-makanan MBG,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa program MBG dapat berjalan beriringan tanpa mengganggu ekosistem ekonomi di lingkungan sekolah.
Disiplin, Keamanan Pangan, dan Pengawasan Program
Selain manfaat gizi, program MBG juga berperan dalam melatih siswa untuk disiplin dalam mengkoordinasikan penyaluran paket MBG ke kelas masing-masing. Pihak sekolah memberdayakan siswa yang piket untuk mengambil dan menghantarkan ompreng atau food tray MBG dari kantor ke kelas.
Untuk pengambilan ompreng yang masih berisi makanan berat, tugas ini dilakukan oleh siswa laki-laki. Sementara itu, setelah selesai makan, ompreng yang kosong dibawa kembali oleh siswa perempuan. “Kalau mengambil kan masih berisi makanan berat omprengannya, makanya diambil sama siswa laki-laki, kalau sudah selesai makan yang pulangin ompreng siswa perempuan,” jelas Rosmiati.
Rosmiati juga menambahkan bahwa pihaknya melakukan langkah pencegahan untuk menghindari kejadian keracunan MBG di sekolah. Edukasi diberikan kepada siswa agar sebelum mengonsumsi makanan, mereka memperhatikan kondisi makanan tersebut, seperti aroma dan bentuknya, apakah berlendir atau tidak. Terpisah, Kepala SPPG Kota Batam SIA, Cyntia Yunica Putri, menyatakan bahwa pihaknya memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) ketat untuk memproduksi MBG, mulai dari penyaluran bahan makanan, persiapan, pengolahan yang diawasi ketat, hingga pendistribusian. Cyntia menyebut pihaknya rutin turun ke sekolah-sekolah untuk memantau kelancaran program dan berinteraksi dengan siswa untuk evaluasi menu.
Sumber: AntaraNews