Fakta Unik: Kemenag NTT Dorong Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di 486 Madrasah
Kemenag NTT gencar sosialisasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di seluruh madrasah, bukan pengganti Kurikulum Merdeka, tapi penguat nilai kasih. Apa tujuannya?
Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Nusa Tenggara Timur (NTT) secara aktif mendorong implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di lingkungan pendidikan Islam, khususnya di tingkat madrasah. Upaya ini dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai kerukunan dan cinta kemanusiaan sejak dini kepada para peserta didik di provinsi kepulauan tersebut. Sosialisasi ini merupakan bagian dari komitmen Kemenag dalam meningkatkan kualitas pendidikan karakter.
Kepala Bidang Pendidikan Islam Kanwil Kemenag NTT, Pua Monto Umbu Nay, menjelaskan bahwa sosialisasi KBC sedang gencar dilakukan melalui berbagai media. Selain pemasangan spanduk dan baliho di seluruh satuan kerja, materi KBC juga disampaikan dalam berbagai pertemuan umum lembaga pendidikan Islam di tingkat kabupaten/kota. Langkah ini sejalan dengan edaran Dirjen Pendidikan Islam Nomor 10 Tahun 2025, menyusul peluncuran KBC oleh Kementerian Agama pada 24 Juli 2025 di Makassar, Sulawesi Selatan.
Kurikulum Berbasis Cinta ini berlatar belakang dari program Kemenag berdampak, Asta Protas, yang nilai pertamanya berfokus pada peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan. Pua Monto menegaskan bahwa KBC bukanlah pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan sebuah suplemen. KBC berfungsi untuk mengintegrasikan nilai-nilai cinta kasih pada seluruh mata pelajaran, sehingga tidak hanya diajarkan oleh guru agama, tetapi juga oleh semua guru mata pelajaran lainnya.
Mengapa Kurikulum Berbasis Cinta Penting untuk Madrasah?
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dikembangkan dari konsep “kurikulum cinta” yang berakar pada program Asta Protas Kemenag berdampak. Program ini secara khusus bertujuan untuk meningkatkan kerukunan dan menumbuhkan rasa cinta kemanusiaan di kalangan peserta didik. Dengan demikian, KBC hadir sebagai fondasi penting untuk membangun karakter siswa madrasah yang berlandaskan kasih sayang dan toleransi.
Pua Monto Umbu Nay menegaskan bahwa KBC dirancang sebagai suplemen yang memperkaya Kurikulum Merdeka, bukan menggantikannya. Integrasi nilai-nilai cinta kasih ke dalam setiap mata pelajaran memungkinkan siswa untuk memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini memastikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab guru agama, tetapi menjadi bagian integral dari seluruh proses pembelajaran.
Penerapan KBC diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih harmonis dan suportif. Dengan menanamkan nilai-nilai cinta sejak dini, madrasah dapat membentuk generasi yang memiliki empati, saling menghargai, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman. Ini adalah langkah strategis untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang lebih holistik dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Strategi Kemenag NTT dalam Sosialisasi KBC
Kanwil Kemenag NTT telah merancang berbagai strategi untuk memastikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tersosialisasi dengan baik di seluruh madrasah. Sosialisasi umum dilakukan melalui pemasangan spanduk dan baliho di setiap satuan kerja, termasuk madrasah, untuk meningkatkan kesadaran publik. Selain itu, materi KBC juga disampaikan dalam forum-forum pertemuan lembaga pendidikan Islam di tingkat kabupaten/kota, menjangkau para pemangku kepentingan secara langsung.
Di wilayah Kanwil Kemenag NTT, terdapat 143 Raudhatul Athfal (RA) setara TK, 182 Madrasah Ibtidaiyah (MI) setara SD, 106 Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara SMP, dan 55 Madrasah Aliyah (MA) setara SMA. Jumlah total madrasah mencapai 486 unit, menunjukkan cakupan luas yang harus dijangkau dalam implementasi KBC. Keberadaan madrasah ini menjadi fokus utama dalam upaya penanaman nilai-nilai cinta.
Untuk memperkuat pemahaman guru tentang KBC, Kemenag NTT juga menginisiasi pelatihan jarak jauh yang digelar oleh Balai Diklat Keagamaan Denpasar. Pelatihan ini melibatkan madrasah dari NTT, NTB, dan Bali, dengan metode pembelajaran daring yang memudahkan partisipasi. Pua Monto Umbu Nay menekankan pentingnya peran guru dalam proses ini, dengan menyatakan, "Kita mendorong para pengajar untuk menanamkan nilai-nilai cinta sejak dini pada anak-anak di sekolah. Kalau cinta sudah tumbuh, kerukunan tidak lagi jadi teori, tetapi hadir dengan sendirinya." Pernyataan ini menggarisbawahi harapan Kemenag agar KBC dapat menciptakan kerukunan yang autentik dan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews