Fakta Menarik: Kasus DBD Mataram Turun Drastis 515 ke 479, Ini Kunci Pencegahannya!
Dinas Kesehatan Mataram mencatat penurunan signifikan Kasus DBD Mataram dari 515 menjadi 479 kasus. Apa strategi jitu di balik keberhasilan pencegahan ini?
Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menunjukkan perkembangan positif dalam upaya penanganan demam berdarah dengue (DBD) sepanjang tahun 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat adanya penurunan signifikan kasus DBD dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menjadi indikasi keberhasilan program pencegahan yang gencar dilakukan.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, data terbaru menunjukkan 479 kasus DBD tercatat dari Januari hingga Agustus 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan 515 kasus yang tercatat pada bulan yang sama di tahun 2024, menandai tren positif dalam pengendalian penyakit ini.
Penurunan jumlah kasus ini tidak hanya menunjukkan efektivitas program, tetapi juga mencerminkan peningkatan kesadaran kolektif masyarakat. Upaya pencegahan aktif, seperti Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 4 plus, menjadi kunci utama di balik capaian membanggakan ini di tengah musim hujan yang berpotensi meningkatkan populasi nyamuk.
Penurunan Signifikan Kasus DBD di Mataram Tanpa Kematian
Data yang dirilis oleh Dinas Kesehatan Kota Mataram menunjukkan bahwa jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) mengalami penurunan yang patut diapresiasi. Selama periode Januari hingga Agustus 2025, tercatat 479 kasus DBD, angka ini lebih rendah dibandingkan 515 kasus pada periode yang sama di tahun 2024. Penurunan ini memberikan harapan baru dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat dari ancaman DBD.
Aspek yang paling menggembirakan dari data ini adalah tidak adanya kasus kematian akibat DBD di Mataram sepanjang tahun 2025. Kondisi ini menjadi cerminan dari respons cepat dan efektif yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan serta kesadaran masyarakat dalam mencari pertolongan medis sejak dini. Dinkes Mataram berharap tren positif ini dapat terus dipertahankan hingga akhir tahun.
Kepala Dinkes Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, menyatakan bahwa penurunan kasus DBD ini merupakan indikasi kuat adanya peningkatan kesadaran masyarakat. Masyarakat kini lebih proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar mereka. Kesadaran ini menjadi fondasi penting dalam upaya pencegahan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Gerakan PSN 4 Plus: Kunci Utama Pencegahan Kasus DBD Mataram
Salah satu pilar utama di balik keberhasilan pengendalian kasus DBD Mataram adalah implementasi Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 4 plus. Gerakan ini melibatkan serangkaian tindakan preventif yang terbukti efektif dalam memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. PSN 4 plus mencakup empat langkah penting yang harus dilakukan secara rutin oleh masyarakat.
Empat langkah tersebut meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta memantau keberadaan jentik secara berkala. Gerakan ini ditekankan untuk dilakukan minimal satu kali seminggu, atau 1-2 hari setelah hujan. Tujuannya adalah mencegah nyamuk berkembang biak pada genangan air sisa hujan.
Dr. Emirald Isfihan menjelaskan bahwa PSN 4 plus jauh lebih efektif dibandingkan pengasapan atau fogging. Fogging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa, namun tidak dapat membasmi jentik nyamuk yang merupakan cikal bakal nyamuk baru. "Jentik harus kami berantas langsung," tegasnya, menyoroti pentingnya fokus pada sumber masalah.
Oleh karena itu, PSN 4 plus dan fogging telah ditetapkan sebagai program rutin yang dilaksanakan di seluruh kelurahan. Kegiatan ini dilakukan secara bergotong royong antara warga dan petugas puskesmas. Pendekatan proaktif ini bertujuan untuk mengantisipasi dan mencegah penyebaran DBD sebelum terjadi lonjakan kasus.
Sinergi Masyarakat dan Puskesmas dalam Memberantas Jentik
Dinas Kesehatan Kota Mataram menegaskan pentingnya sinergi antara masyarakat dan petugas kesehatan dalam upaya pencegahan DBD. Kegiatan PSN 4 plus dan fogging dilaksanakan secara bergotong royong dengan melibatkan warga dan petugas dari puskesmas di wilayah kerja masing-masing. Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa upaya pencegahan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata.
Petugas puskesmas secara aktif turun ke lapangan untuk mendampingi warga dalam melakukan Gerakan PSN 4 plus. Kehadiran mereka tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga memotivasi masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan. Keterlibatan langsung ini memperkuat komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari sarang nyamuk.
Dr. Emirald Isfihan menekankan perubahan paradigma dalam penanganan DBD. "Kami tidak mau lagi menerapkan strategi seperti tim pemadam kebakaran, yang bekerja saat terjadi kasus DBD. Tetapi harus lakukan upaya pencegahan," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran fokus dari respons reaktif menjadi pencegahan proaktif, yang terbukti lebih efektif dalam jangka panjang.
Melalui kerja sama yang erat dan kesadaran kolektif, Kota Mataram berupaya untuk terus menekan angka kasus DBD. Upaya berkelanjutan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi seluruh warganya, terutama dalam menghadapi tantangan penyakit menular yang disebabkan oleh vektor seperti nyamuk.
Sumber: AntaraNews