DPK Bangka Barat Optimalkan Peran Perpustakaan Desa untuk Kesejahteraan Warga
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Bangka Barat terus mengoptimalkan peran **perpustakaan desa** melalui Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) demi meningkatkan literasi dan kesejahteraan masyarakat.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara konsisten mengoptimalkan peran perpustakaan desa. Upaya ini bertujuan agar perpustakaan di tingkat desa semakin memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Langkah strategis ini merupakan bagian dari komitmen DPK Bangka Barat dalam menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan yang inklusif dan berdampak.
Kepala DPK Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, menyatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan pendampingan intensif. Hal ini dilakukan untuk mendorong para pengelola perpustakaan desa (perpusdes) agar lebih inovatif dalam mengelola fasilitas yang ada. Dengan demikian, beragam koleksi buku yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai referensi dan sumber inspirasi untuk mendukung berbagai usaha yang dijalankan oleh warga.
Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), yang telah berjalan sejak tahun 2021 dan direncanakan hingga 2025, menjadi tulang punggung upaya ini. TPBIS merupakan strategi penting untuk memperkuat fungsi perpustakaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat, ruang inovasi, serta wahana pemberdayaan sosial-ekonomi yang berbasis literasi. Melalui dukungan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, DPK Bangka Barat berkomitmen menghadirkan perpustakaan yang terbuka dan inklusif.
Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS)
Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) merupakan inisiatif kunci yang diusung oleh DPK Bangka Barat. Program ini dirancang untuk mengubah paradigma perpustakaan dari sekadar tempat meminjam buku menjadi pusat kegiatan komunitas yang dinamis. Tujuannya adalah memberdayakan masyarakat melalui akses informasi dan literasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan.
Melalui TPBIS, perpustakaan desa didorong untuk menjadi lebih dari sekadar gudang buku, melainkan sebagai ruang kolaborasi dan pengembangan diri. Kegiatan-kegiatan seperti pelatihan keterampilan, diskusi kelompok, dan fasilitasi akses teknologi informasi menjadi bagian integral dari program ini. Ini sejalan dengan visi untuk menciptakan masyarakat yang lebih cerdas dan mandiri dengan memanfaatkan potensi perpustakaan.
Farouk Yohansyah menekankan pentingnya momentum pembelajaran sebaya dalam program ini. Pihaknya mendorong terjadinya proses saling belajar, berbagi pengalaman, dan inspirasi antar pengelola perpustakaan desa, kepala desa, serta relawan literasi. Dengan demikian, praktik-praktik baik dari pelaksanaan TPBIS di berbagai desa dapat direplikasi, dikembangkan, dan diperkuat untuk memperluas dampak transformasi sosial berbasis literasi.
Strategi Pendampingan dan Apresiasi DPK Bangka Barat
DPK Bangka Barat tidak hanya meluncurkan program, tetapi juga aktif dalam pendampingan dan pemberian apresiasi. Selain memantau dan memberikan bimbingan teknis, DPK Bangka Barat juga memberikan penghargaan dalam bentuk stimulus kepada kepala desa dan pengelola yang berhasil mengembangkan peran perpustakaan desa. Ini adalah bentuk pengakuan atas dedikasi dan inovasi mereka.
Pada tahun ini, sebanyak 18 kepala desa dan pengelola perpustakaan desa berhasil meraih penghargaan dari DPK Bangka Barat. Mereka dinilai sukses dalam menjalankan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Penghargaan ini diharapkan dapat memotivasi lebih banyak pihak untuk terlibat aktif dalam pengembangan perpustakaan di wilayahnya.
Pemberian penghargaan ini memiliki tujuan ganda, yaitu mengapresiasi dukungan para kepala desa dan pengelola yang memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan kapasitas perpustakaan desa. Selain itu, juga untuk mendorong pemanfaatan teknologi informasi dan memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan informasi berbasis TPBIS. Farouk Yohansyah menegaskan bahwa inovasi mereka dalam mengembangkan perpustakaan desa sebagai ruang belajar sepanjang hayat dan pusat pemberdayaan masyarakat perlu mendapatkan apresiasi agar semakin bersemangat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Peran Perpustakaan Desa sebagai Ujung Tombak Literasi
Perpustakaan desa memegang peranan krusial sebagai ujung tombak dalam meningkatkan kecerdasan literasi masyarakat dan penguatan budaya membaca. Keberadaannya sangat penting untuk menjangkau masyarakat hingga ke pelosok, memastikan akses terhadap informasi dan pengetahuan merata. Dengan demikian, perpustakaan desa menjadi garda terdepan dalam upaya mencerdaskan bangsa.
Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan DPK Bangka Barat, Eka Oktawianto, menyatakan bahwa literasi akan tumbuh subur ketika masyarakat saling berbagi, saling belajar, dan saling menguatkan. Program TPBIS telah membuktikan bahwa perpustakaan bukan hanya sekadar tempat untuk membaca, tetapi juga merupakan ruang vital untuk membangun masa depan bersama. Ini menunjukkan pergeseran fungsi perpustakaan yang semakin relevan dengan kebutuhan zaman.
Perpustakaan terbuka sebagai wadah berkreasi dan beraktivitas warga dengan memanfaatkan semua fasilitas yang tersedia guna meningkatkan literasi untuk kecakapan dan kesejahteraan. Sebanyak 18 desa yang kepala desa dan pengelola perpustakaan desanya mendapatkan penghargaan pada tahun ini adalah Desa Terentang, Kundi, Paradong, Bukitterak, Rambat, Bentengkota, Airlintang, Ranggiasam, Ketap, Sekarbiru, Cupat, Airgantang, Teluklimau, Puput, Airputih, Belolaut, Airlimau dan Airbelo.
Sumber: AntaraNews