Disdukcapil Kutim Gencar Jemput Bola Kejar Target Adminduk 2026
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kutai Timur (Kutim) terus mengintensifkan upaya jemput bola dan sosialisasi demi mencapai target administrasi kependudukan (Adminduk) yang ambisius pada tahun 2026, termasuk perekaman KTP-el dan kepemi
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) di Kalimantan Timur secara proaktif meningkatkan layanan administrasi kependudukan (Adminduk) melalui strategi jemput bola. Upaya ini dilakukan dengan mendatangi langsung masyarakat di berbagai lokasi, mulai dari kecamatan, desa, hingga lingkungan sekolah. Tujuannya adalah untuk memastikan seluruh warga Kutim memiliki dokumen kependudukan yang lengkap dan valid.
Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen Disdukcapil Kutim untuk mencapai target signifikan pada tahun 2026. Target tersebut meliputi perekaman KTP-el sebesar 99,4 persen dari total 240.000 jiwa wajib KTP, serta kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) sebesar 100 persen untuk 65.000 anak usia 0-17 tahun. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses pendataan dan pelayanan publik secara menyeluruh.
Kepala Disdukcapil Kutim, Jumeah, menjelaskan bahwa selain program jemput bola, pihaknya juga rutin menggelar sosialisasi intensif. Salah satu kegiatan sosialisasi terbaru telah dilaksanakan di Kecamatan Sangatta Utara pada Rabu (6/5). Sosialisasi ini penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai prosedur kependudukan yang lebih modern dan efisien, sekaligus menekankan pentingnya kepemilikan Adminduk.
Strategi Jemput Bola dan Sosialisasi Adminduk
Disdukcapil Kutim menerapkan strategi jemput bola secara gencar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendapatkan data kependudukan. Program ini menyasar seluruh lapisan masyarakat, mulai dari bayi baru lahir, pelajar yang akan memasuki usia 17 tahun, hingga masyarakat umum yang ingin beralih ke Identitas Kependudukan Digital (IKD). Pendekatan langsung ini dinilai efektif dalam menjangkau warga yang mungkin kesulitan mengakses layanan di kantor Disdukcapil.
Sosialisasi menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem pelayanan terpadu yang efisien dan transparan. Melalui kegiatan ini, Disdukcapil tidak hanya menginformasikan tentang pentingnya Adminduk, tetapi juga mendidik masyarakat mengenai prosedur terbaru. Hal ini mencakup pengurusan KTP-el, KIA, serta berbagai keperluan data kependudukan lainnya, yang semuanya bertujuan untuk mempercepat proses kepemilikan dokumen.
Jumeah menambahkan bahwa sosialisasi dan jemput bola ini krusial untuk mempercepat kepemilikan dokumen penting. Dengan demikian, setiap warga negara dapat memiliki identitas resmi yang diperlukan untuk berbagai keperluan, seperti pendidikan, kesehatan, dan akses layanan publik lainnya. Upaya ini juga membantu Disdukcapil dalam mengumpulkan data kependudukan yang akurat dan terkini.
Target Ambisius dan Tantangan Geografis
Untuk target kepemilikan KTP-el tahun 2026, Disdukcapil Kutim menargetkan 99,4 persen dari seluruh penduduk wajib ber-KTP, atau sekitar 240.000 jiwa. Pada akhir tahun 2025, capaian perekaman KTP-el sudah mencapai 98,96 persen. Ini berarti Disdukcapil Kutim hanya perlu menyelesaikan sisa kurang dari 1 persen untuk mencapai target tersebut, bahkan berpotensi lebih tinggi seiring bertambahnya usia anak-anak yang wajib KTP.
Sementara itu, target kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) adalah 100 persen untuk seluruh anak usia 0-17 tahun di Kutim, dengan angka mutlak sekitar 65.000 anak. Target ini mencakup anak-anak yang baru lahir, memastikan mereka memiliki identitas sejak dini. Kepemilikan KIA sangat penting untuk mengakses layanan anak dan sebagai identitas resmi sebelum memiliki KTP-el.
Jumeah mengakui adanya tantangan signifikan dalam mencapai target ini, terutama kendala geografis wilayah Kutim yang luas serta keterbatasan akses jaringan internet di beberapa titik. Namun, Disdukcapil Kutim tetap optimistis dapat mencapai target dengan menempatkan unit layanan kependudukan di setiap kecamatan. Selain itu, pelibatan aktif dari desa, RT, hingga sekolah juga menjadi kunci keberhasilan program ini.
Sumber: AntaraNews