Dinas Kesehatan OKU Imbau Warga Waspada ISPA Saat Musim Kemarau
Dinas Kesehatan Ogan Komering Ulu (OKU) mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang rentan menyerang selama musim kemarau, terutama akibat debu dan asap karhutla.
Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, mengeluarkan imbauan penting bagi warganya. Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang cenderung meningkat selama musim kemarau. Penyakit ini sangat rentan menyerang berbagai kalangan, terutama anak-anak dan lansia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan OKU, Andi Prapto, menjelaskan bahwa ISPA adalah infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas seperti hidung, sinus, faring, dan laring. Kondisi musim kemarau dengan peningkatan debu menjadi pemicu utama penyebaran penyakit ini.
Selain debu, ancaman lain yang turut memperparah risiko ISPA adalah asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering terjadi saat musim kemarau. Oleh karena itu, penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta penggunaan masker menjadi langkah preventif yang sangat dianjurkan untuk melindungi diri dari paparan partikel berbahaya.
Penyebab dan Kelompok Rentan ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan kondisi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas seperti hidung, sinus, faring, dan laring. Penyakit ini sangat mudah menular dan dapat dialami oleh siapa saja, dari anak-anak hingga lansia. Keadaan lingkungan yang kering dan berdebu saat musim kemarau mempercepat penyebaran penyakit ini.
Andi Prapto dari Dinas Kesehatan OKU menjelaskan bahwa debu yang beterbangan menjadi salah satu faktor utama pemicu ISPA. Partikel debu yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menjadi media penularan virus atau bakteri. Kondisi ini membuat kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia lebih mudah terjangkit penyakit tersebut.
Selain debu, asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi penyebab signifikan peningkatan kasus ISPA. Asap mengandung berbagai zat iritan dan polutan yang berbahaya bagi paru-paru. Paparan asap karhutla dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan, sehingga ISPA lebih mudah berkembang.
Langkah Pencegahan Efektif Terhadap ISPA
Untuk meminimalisir risiko penularan ISPA, Dinas Kesehatan OKU mengimbau masyarakat untuk menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS mencakup berbagai kebiasaan baik seperti mencuci tangan secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi, dan memastikan lingkungan tempat tinggal tetap bersih. Penerapan PHBS adalah fondasi utama dalam menjaga kesehatan pernapasan.
Penggunaan masker menjadi salah satu upaya pencegahan yang sangat efektif, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Masker dapat menyaring partikel debu dan polutan lain yang ada di udara, termasuk virus dan bakteri penyebab ISPA. Langkah ini sangat disarankan untuk melindungi diri dari paparan langsung agen penyebab penyakit.
Andi Prapto menambahkan bahwa gejala ISPA memiliki kemiripan dengan virus Corona, sehingga penggunaan masker juga membantu mencegah penyebaran penyakit pernapasan lainnya. Dengan disiplin menggunakan masker, masyarakat dapat mengurangi risiko penularan secara signifikan. Ini adalah tindakan sederhana namun berdampak besar pada kesehatan kolektif.
Data Kasus ISPA di Kabupaten OKU
Dinas Kesehatan OKU telah mencatat data kasus ISPA yang cukup signifikan dalam periode tertentu. Selama Januari hingga Oktober 2025, tercatat sebanyak 28.605 kasus ISPA yang telah ditangani oleh pihak kesehatan setempat. Angka ini menunjukkan bahwa ISPA merupakan masalah kesehatan yang perlu diwaspadai secara serius di wilayah tersebut.
Meskipun jumlah kasus tergolong tinggi, Andi Prapto memastikan bahwa tidak ada pasien ISPA yang meninggal dunia selama periode tersebut. Hal ini menunjukkan efektivitas penanganan yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan di OKU. Namun, pencegahan tetap menjadi prioritas utama untuk mengurangi beban kasus.
Data kasus ISPA tahun 2026 saat ini masih dalam proses pendataan dan kompilasi. Penyakit ini dapat menjangkiti semua kelompok usia, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia. Oleh karena itu, kewaspadaan dan tindakan pencegahan harus terus digalakkan di seluruh lapisan masyarakat.
Sumber: AntaraNews