Demo Ricuh di Makassar, Kapolrestabes Ungkap Polisi Berseragam jadi Target Perusuh
Arya mengatakan pada Jumat (29/8), pihaknya telah menyiagakan 130 personel untuk mengamankan aksi unjuk rasa di DPRD Makassar.
Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Komisaris Besar Arya Perdana blak-blakan penyebab tidak terlihatnya polisi melakukan penjagaan kantor DPRD Makassar saat demonstrasi berakhir ricuh pada Jumat (29/8) lalu. Arya mengungkapkan perusuh menargetkan polisi saat kerusuhan tersebut.
Arya mengatakan pada Jumat (29/8), pihaknya telah menyiagakan 130 personel untuk mengamankan aksi unjuk rasa di DPRD Makassar. Tak hanya itu, sebanyak 200 personel juga disiagakan di Kantor DPRD Sulsel.
"Tanggal 29 itu seluruh pasukan sudah terplotting di beberapa titik yang memang menjadi tempat-tempat unjuk rasa. Di DPRD Sulsel, jumlah personel yang disiagakan lebih dari 200 orang, sementara di DPRD Kota Makassar lebih dari 130 personel," ujarnya kepada wartawan, Jumat (5/9).
Namun, saat unjuk rasa berubah menjadi anarkis, polisi tidak mengenakan pakaian dinas. Hal tersebut, kata mantan Kapolres Metro Depok ini, dikarenakan massa menargetkan polisi berseragam.
"Massa semakin banyak dan memang target mereka pada saat itu adalah polisi. Mereka mencari polisi-polisi berseragam sehingga polisi-polisi berseragam tidak berada di tempat dan menjauh dari lokasi," ungkapnya.
Arya juga mengklaim, aksi 29 Agustus bukan sekadar unjuk rasa, melainkan telah bergeser menjadi kerusuhan. Massa yang berkumpul di DPRD Sulsel diklaim mencapai 2 ribu orang dan sekitar 3 ribu orang di DPRD Kota Makassar.
Situasi itu, kata Arya, membuat publik seolah tidak melihat kehadiran polisi di lokasi kejadian.
"Nah, inilah yang menyebabkan mungkin rekan-rekan melihat tidak terlihat pasukan kami di sana karena memang sudah menjadi target," tuturnya.
Dalam kondisi darurat tersebut, kepolisian meminta bantuan TNI. Namun, upaya itu terkendala karena massa memblokir jalan.
Kendaraan pemadam kebakaran (Damkar) yang mencoba masuk juga tidak bisa melintas.
"Jadi tidak ada yang bisa membantu membuka jalan, termasuk Damkar pada waktu itu. Itu tidak bisa jalan karena memang sengaja dihalangi oleh massa supaya tidak bisa sampai ke tempat," ucapnya.
Sebelumnya, polisi mengumumkan 29 tersangka terduga pelaku rusuh dan juga pembakar dua gedung DPRD di Kota Makassar.