Bukan Hanya Soal Mampu, Ini Alasan Wali Murid SDIT Al Izzah Tolak Program MBG Gratis yang Bikin Penasaran!
Wali murid SDIT Al Izzah Serang keberatan dengan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) karena merasa tidak membutuhkan dan khawatir risiko di lingkungan sekolah. Simak alasan lengkap penolakan MBG SDIT Al Izzah.
Sejumlah wali murid Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Izzah Kota Serang, Banten, menyatakan keberatan terhadap implementasi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah mereka. Penolakan ini disampaikan langsung oleh perwakilan wali murid dalam audiensi yang digelar bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Serang pada Senin (30/9) lalu. Mereka menegaskan bahwa program MBG dinilai tidak relevan bagi siswa SDIT Al Izzah.
Baim Aji, salah satu perwakilan wali murid, secara lugas menyampaikan bahwa masih banyak sekolah lain di Kota Serang yang lebih memerlukan program bantuan gizi tersebut. Menurutnya, siswa SDIT Al Izzah berasal dari keluarga yang secara finansial sudah mampu membiayai kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Keberatan ini menjadi sorotan publik.
Selain alasan kemampuan finansial, para wali murid juga menyoroti potensi risiko keamanan dan kebersihan yang mungkin timbul akibat keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di area yayasan. Mereka khawatir akan lalu lintas kendaraan serta masalah sampah. Penolakan ini memunculkan pertanyaan tentang relevansi program di sekolah dengan profil siswa tertentu.
Alasan Utama Penolakan Program MBG di SDIT Al Izzah
Wali murid SDIT Al Izzah memiliki alasan kuat untuk menolak program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah. Baim Aji mengungkapkan bahwa orang tua siswa di sekolah tersebut telah membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan biaya masuk yang jumlahnya mencapai belasan juta rupiah. Kondisi finansial ini menunjukkan bahwa mereka sudah mampu membiayai kebutuhan gizi anak-anak secara mandiri.
“Kami sudah membayar Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan biaya masuk yang cukup besar, sampai belasan juta. Kalau sudah mampu membiayai itu, kenapa harus ada MBG masuk ke dalam sekolah,” tegas Baim Aji. Pernyataan ini mencerminkan pandangan bahwa program bantuan seharusnya menyasar kelompok yang benar-benar membutuhkan. Penolakan MBG SDIT Al Izzah didasari oleh prinsip ini.
Bagi para wali murid, adanya program MBG di SDIT Al Izzah merupakan hal yang tidak tepat sasaran. Mereka percaya bahwa sumber daya dan anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut akan lebih bermanfaat jika disalurkan kepada siswa-siswa di sekolah lain yang kondisi ekonominya kurang beruntung. Fokus utama adalah efektivitas penyaluran bantuan.
Kekhawatiran Wali Murid Terhadap Keamanan dan Lingkungan Sekolah
Selain masalah relevansi finansial, wali murid juga menolak keberadaan dapur dan distribusi MBG di dalam area yayasan sekolah. Mereka menilai lokasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut dapat menimbulkan berbagai risiko bagi keselamatan siswa. Aktivitas kendaraan yang keluar masuk lingkungan sekolah menjadi salah satu kekhawatiran utama.
Baim Aji menjelaskan, “Risikonya, anak-anak harus keluar area sekolah karena kantin dan fasilitas jadi makin sempit. Lalu lalang kendaraan juga menambah resiko kecelakaan.” Kondisi ini berpotensi membahayakan siswa yang sedang beraktivitas di area sekolah. Penolakan MBG SDIT Al Izzah juga mempertimbangkan aspek keselamatan ini.
Lebih lanjut, potensi masalah sampah dan keamanan juga menjadi perhatian serius para wali murid. Mereka khawatir peningkatan aktivitas di area sekolah akan berdampak pada kebersihan lingkungan dan menimbulkan isu keamanan yang tidak diinginkan. Jika terjadi insiden, pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab menjadi krusial. Oleh karena itu, mereka tetap pada pendirian untuk menolak program tersebut.
Respons Pemerintah Kota Serang dan Dukungan Program Nasional
Menanggapi aspirasi wali murid, Wali Kota Serang Budi Rustandi telah memfasilitasi audiensi yang melibatkan berbagai pihak terkait. Audiensi tersebut dihadiri oleh Kapolres, Dandim, serta perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mendengarkan langsung keluhan. “Kami menerima aduan dari para wali murid SDIT Al Izzah. Kami hadirkan semua pihak agar mendengarkan langsung dan tidak ada salah paham,” kata Budi Rustandi.
Wali Kota Budi Rustandi menyatakan dukungannya terhadap program MBG yang digagas oleh presiden, mengingat sasarannya adalah warga yang membutuhkan. Namun, ia juga memahami sepenuhnya aspirasi dari wali murid SDIT Al Izzah. Mayoritas siswa di sekolah ini berasal dari keluarga mampu dan sudah memiliki sistem katering sendiri jauh sebelum program MBG ada.
“Kalau SDIT ini kan kelihatannya dari kalangan keluarga mampu, maka dari itu mereka ingin anak-anak makan sesuai dengan katering yang diterima di awal sekolah, jauh sebelum ada MBG,” jelas Budi Rustandi. Hasil audiensi ini akan dimusyawarahkan kembali secara internal, namun posisi wali murid tetap pada penolakan MBG SDIT Al Izzah. Mereka berharap kebijakan dapat disesuaikan dengan kondisi spesifik setiap sekolah.
Sumber: AntaraNews