BPOM: Tirzepatide Perluas Pilihan Terapi Diabetes dan Manajemen Berat Badan
BPOM menyetujui tirzepatide, terapi inovatif yang memperluas pilihan pengobatan diabetes melitus tipe 2 dan manajemen berat badan di Indonesia, menjawab tantangan kesehatan global.
Jakarta, 5 Juli – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan kehadiran produk baru dengan zat aktif tirzepatide oleh PT Anugerah Pharmindo Lestari. Inovasi ini diharapkan dapat memperluas opsi pengobatan bagi pasien, khususnya dalam penanganan diabetes melitus tipe 2 dan manajemen berat badan.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa kedua kondisi kesehatan tersebut merupakan tantangan global yang serius, mengingat prevalensinya yang terus meningkat dan dampaknya yang luas terhadap kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, penanganannya memerlukan perhatian khusus.
BPOM berkomitmen untuk terus melakukan berbagai terobosan guna meningkatkan ketersediaan obat-obatan baru yang inovatif di Indonesia. Persetujuan tirzepatide menjadi salah satu langkah nyata dalam upaya tersebut, memberikan harapan baru bagi jutaan pasien di tanah air.
Tirzepatide: Mekanisme Kerja dan Manfaat Inovatif
Tirzepatide merupakan zat aktif yang bekerja dengan mekanisme serupa hormon alami tubuh, yaitu glucose-dependent insulinotropic polypeptide (GIP) dan glucagon-like-peptide 1 (GLP-1). Kedua hormon ini diproduksi di usus dan berikatan dengan reseptor spesifik di organ seperti pankreas dan otak.
Cara kerja tirzepatide di dalam tubuh adalah dengan meningkatkan sekresi insulin, menekan hormon glukagon, serta meningkatkan sensitivitas insulin. Mekanisme ini membantu mengatur kadar gula darah secara efektif pada pasien diabetes melitus tipe 2.
Selain itu, tirzepatide juga memperlambat pengosongan lambung, menjadikannya bermanfaat dalam manajemen berat badan. Kombinasi efek ini menawarkan pendekatan holistik untuk mengatasi dua masalah kesehatan yang saling berkaitan.
Tantangan Diabetes dan Obesitas di Indonesia
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang sangat tinggi di seluruh dunia. Data dari International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas (2025) menunjukkan bahwa sekitar 11,1 persen populasi dewasa global hidup dengan diabetes.
Mirisnya, empat dari sepuluh penderita diabetes tidak menyadari bahwa mereka memiliki penyakit tersebut, menyoroti pentingnya deteksi dini. Peningkatan prevalensi obesitas juga menjadi tantangan kesehatan yang tidak kalah penting, termasuk di Indonesia.
Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia 18 tahun ke atas terus meningkat, dari 21,8 persen pada tahun 2018 menjadi 23,4 persen pada tahun 2023. Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit kronis dan membebani sistem kesehatan nasional.
Komitmen BPOM dan Akses Terapi Inovatif
BPOM berkomitmen untuk memastikan setiap produk obat yang beredar di Indonesia, termasuk tirzepatide, telah melalui proses evaluasi ketat sesuai standar internasional. Hal ini menjamin aspek keamanan, khasiat, dan mutu produk yang akan digunakan masyarakat.
Selain tirzepatide, BPOM juga telah menerbitkan izin edar untuk obat sejenis dengan indikasi serupa, seperti semaglutide dan liraglutide, memperkaya pilihan terapi yang tersedia. Setelah memperoleh izin edar, keamanan obat terus dipantau melalui farmakovigilans sebagai bagian dari pengawasan pascapemasaran.
Peluncuran tirzepatide semakin melengkapi pilihan terapi bagi pasien di Indonesia dan diharapkan dapat mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Taruna Ikrar menekankan pentingnya kolaborasi antara regulator, industri farmasi, dan tenaga kesehatan untuk mempercepat akses obat inovatif.
Sumber: AntaraNews