BPOM dan Kemendiktisaintek Sinergi Tingkatkan Penguatan SDM Pengawasan Obat
BPOM bersama Kemendiktisaintek menjajaki sinergi strategis untuk penguatan SDM pengawasan obat dan makanan, memastikan perlindungan kesehatan masyarakat yang optimal.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) telah bertemu di Jakarta pada Jumat, 23 Januari 2026, untuk membahas sinergi penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Pertemuan ini bertujuan melindungi kesehatan masyarakat melalui pengawasan obat dan makanan yang efektif dan inovatif. Kepala BPOM Taruna Ikrar menekankan pentingnya akses keamanan obat dan makanan yang merata di seluruh daerah.
Inisiatif ini sejalan dengan arahan Presiden RI untuk memastikan pengawasan maksimal di sektor krusial ini. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dan siap menghadapi tantangan di lapangan. Penguatan SDM pengawasan obat BPOM menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan tersebut.
Taruna Ikrar mengusulkan konsep Sinergi Academia-Business-Government (ABG) sebagai landasan kerja sama. Konsep ini akan melibatkan berbagai pihak untuk mengembangkan program studi kedokteran dan riset obat bahan alam. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat mengoptimalkan potensi kekayaan alam Indonesia.
Kolaborasi ABG Dorong Riset Obat Bahan Alam dan Inovasi Pendidikan
Kepala BPOM Taruna Ikrar menjelaskan bahwa sinergi ABG akan fokus pada pengembangan program studi kedokteran. Ini mencakup pendidikan, penelitian, serta pengabdian masyarakat, khususnya dalam riset obat bahan alam dan pengamanan produk kesehatan. Keterlibatan dokter dalam riset ini sangat penting untuk memanfaatkan kekayaan alam Indonesia.
BPOM telah menginisiasi penguatan Sinergi ABG melalui memorandum of agreement (MoA) dengan 37 industri farmasi dari enam negara dan 20 perguruan tinggi di Indonesia. Negara-negara yang bergabung meliputi Korea Selatan, India, Singapura, Malaysia, China, dan Indonesia.
Sinergi ini dirancang untuk mempertemukan para inovator dari lingkungan kampus dan industri. Tujuannya adalah menciptakan momentum kolaboratif yang kuat dalam pengembangan produk kesehatan. Inisiatif ini diharapkan mampu mendorong inovasi dan daya saing di sektor farmasi.
Pembentukan PoltekPOM dan Integrasi Kurikulum untuk SDM Unggul
Dalam upaya penguatan SDM pengawasan obat BPOM, Taruna Ikrar juga mendorong pendirian Politeknik Pengawasan Obat dan Makanan (PoltekPOM). Institusi pendidikan vokasi ini akan menawarkan program di bidang farmasi, pangan, serta pengujian obat dan makanan. PoltekPOM diharapkan mencetak lulusan yang siap kerja, terampil, dan ahli selepas masa pendidikannya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyambut baik inisiatif ini. Brian mengusulkan BPOM untuk berkolaborasi dengan kampus-kampus yang telah memiliki rekam jejak dalam menghasilkan SDM berkualitas di bidang kesehatan, misalnya Universitas Indonesia atau Universitas Pertahanan.
Skema kerja sama yang diusulkan adalah dengan mengintegrasikan kompetensi dan kurikulum yang dibutuhkan BPOM ke dalam program studi kampus tersebut. Dengan demikian, mahasiswa akan mendapatkan pengajaran dari dosen kampus dan pengajar dari BPOM. Lulusan diharapkan dapat langsung bekerja di BPOM, menjadikan proses ini jauh lebih efektif.
Integrasi ini tidak hanya akan mempercepat penyediaan SDM yang relevan, tetapi juga membuka kesempatan kerja lebih luas bagi lulusan bidang kesehatan. Kedua belah pihak sepakat bahwa program ini harus segera diimplementasikan untuk dampak yang maksimal.
Komitmen Bersama untuk SDM Pengawasan Obat yang Berkesinambungan
Untuk menindaklanjuti diskusi penting ini, direncanakan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara BPOM dan Kemendiktisaintek. MoU ini akan mengikat sinergi tugas dan fungsi di bidang pengawasan obat dan makanan dengan pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Penandatanganan diharapkan segera terlaksana.
Kebutuhan akan SDM yang kompeten dan profesional dalam pengawasan obat dan makanan sangat mutlak. Ini mendukung peran strategis BPOM agar lebih optimal dan efektif di lapangan. SDM yang dibutuhkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga handal dalam praktik pengawasan.
Rencana hasil diskusi ini diharapkan dapat segera terwujud demi pengembangan SDM pengawasan obat dan makanan yang kontinu dan berkesinambungan. Langkah ini juga sejalan dengan transformasi pendidikan tinggi yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat. Melalui sinergi ini, BPOM optimis dapat mewujudkan generasi muda Indonesia yang sehat, kompeten, dan unggul, sebagai fondasi Indonesia Emas Tahun 2045.
Sumber: AntaraNews