BPBD Kudus Sigap Tangani 8 Titik Longsor, Akses Jalan Warga Kembali Terbuka
BPBD Kudus bersama tim gabungan berhasil melakukan penanganan longsor di delapan lokasi yang tersebar di tiga desa. Akses jalan warga yang sempat tertutup material longsor kini kembali bisa dilewati, menunjukkan kesigapan dalam mitigasi bencana.
Bencana tanah longsor melanda delapan lokasi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Sabtu (7/3) malam. Peristiwa ini terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus bersama tim gabungan segera bergerak cepat. Mereka berupaya menangani dampak longsor dan membuka kembali akses jalan warga yang sempat tertutup.
Delapan titik longsor ini tersebar di tiga desa, yakni Desa Rahtawu, Menawan (Kecamatan Gebog), dan Desa Soco (Kecamatan Dawe). Upaya penanganan longsor Kudus ini melibatkan berbagai pihak.
Penanganan Cepat Buka Akses Jalan Terisolir
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kudus, Eko Hari Jatmiko, menjelaskan bahwa longsor terjadi serentak di delapan lokasi. Salah satu titik krusial adalah Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, di mana akses jalan tertutup material tanah dan bebatuan besar.
Berkat kerja keras BPBD, relawan, Destana, Kencana, TNI/Polri, serta masyarakat, akses jalan menuju Dukuh Semliro berhasil dibuka. Proses pembersihan material longsor selesai sekitar pukul 12.45 WIB pada hari Minggu.
Camat Gebog, Fariq Musthofa, membenarkan kejadian longsor di wilayahnya, termasuk Desa Rahtawu. Ia menyebutkan bahwa longsor terjadi pada Sabtu (7/3) pukul 21.00 WIB.
Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Gebog bersama pemerintah desa dan relawan segera melakukan kerja bakti. Mereka membersihkan akses jalan yang menjadi satu-satunya jalur bagi warga.
Imbauan Kewaspadaan dan Antisipasi Bencana Susulan
Eko Hari Jatmiko mengimbau warga untuk tetap siaga dan waspada terhadap curah hujan tinggi. Masyarakat diminta untuk mencari tempat aman atau mengungsi ke rumah tetangga jika terjadi hujan deras di area rawan longsor.
Bagi warga yang bepergian ke Rahtawu atau Menawan, dihimbau untuk berhati-hati dan memperhatikan cuaca. Jika hujan deras disertai angin kencang, sebaiknya berhenti di tempat yang aman.
Forkopimcam Gebog terus melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan longsor di Desa Rahtawu guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana susulan.
Pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta perangkat desa juga aktif mengimbau masyarakat. Mereka meminta warga untuk tidak bepergian apabila tidak ada keperluan mendesak saat hujan deras.
Koordinasi dan Pemetaan Wilayah Rawan Longsor
Berbagai unsur seperti relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Banser turut serta dalam kerja bakti. Pembersihan material longsor menggunakan alat seadanya serta bantuan satu unit ekskavator dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
Selain membersihkan akses jalan, petugas juga membuat saluran air sementara dan menata bekas longsoran. Pembersihan aliran air dan tumpukan material di sepanjang jalan desa juga dilakukan.
Camat Fariq Musthofa menekankan pentingnya peningkatan koordinasi dan sinergi. Hal ini melibatkan pemerintah desa, Forkopimcam Gebog, Destana, relawan, dan masyarakat.
Kabupaten Kudus memiliki 13 desa yang berpotensi mengalami tanah longsor berdasarkan peta rawan bencana. Desa-desa tersebut meliputi Rahtawu, Menawan, Jurang, Kedungsari, Terban, Soco, Ternadi, Japan, Kuwukan, Puyoh, Colo, Dukuh Waringin, dan Cranggang.
Sumber: AntaraNews