Ratusan rumah warga di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terdampak banjir setelah sejumlah sungai meluap akibat curah hujan tinggi. Bencana ini dilaporkan terjadi di enam desa di Kecamatan Mejobo, menyebabkan kerugian signifikan bagi penduduk setempat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus terus melakukan pendataan dan penanganan di lokasi terdampak.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko, menyampaikan bahwa data sementara menunjukkan 870 rumah warga terendam. Meskipun genangan di jalan mulai surut, dampak banjir masih dirasakan oleh masyarakat. Kejadian ini menjadi perhatian serius mengingat intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah tersebut.
Banjir mulai melanda sejak Sabtu (10/1), dengan ketinggian genangan bervariasi antara 5 hingga 40 sentimeter. Selain rumah warga, areal persawahan seluas 20 hektare juga dilaporkan terdampak. Upaya penanganan dan mitigasi bencana terus dilakukan oleh pihak berwenang untuk membantu warga yang terkena musibah.
Advertisement
Advertisement
Enam desa di Kecamatan Mejobo menjadi wilayah paling parah terdampak banjir Kudus kali ini. Desa-desa tersebut meliputi Kesambi, Jojo, Mejobo, Golantepus, Temulus, Tenggeles, dan Hadiwarno. Setiap desa memiliki jumlah rumah terdampak yang berbeda-beda, menunjukkan sebaran dampak yang luas di seluruh kecamatan.
BPBD Kudus mencatat, di Desa Kesambi terdapat 35 rumah terdampak, sementara di Desa Jojo mencapai 200 rumah. Desa Mejobo mengalami dampak paling besar dengan 425 rumah terendam, diikuti Desa Golantepus dengan 150 rumah. Desa Temulus dan Tenggeles masing-masing mencatat 20 dan 40 rumah terdampak, sedangkan perhitungan untuk Desa Hadiwarno masih terus dilakukan.
Luapan air sungai menjadi penyebab utama terjadinya bencana ini. Sungai Piji, Logung, Dawe, Mrisen, dan Jati Pasean adalah beberapa sungai yang dilaporkan meluap. Kondisi ini diperparah oleh curah hujan yang tinggi, menyebabkan debit air sungai meningkat drastis dan tidak mampu menampung volume air.
Advertisement
Advertisement
Banjir yang melanda Kudus disebabkan oleh meluapnya air dari beberapa sungai penting di wilayah tersebut. Di Desa Kesambi, luapan Sungai Piji menjadi pemicu utama. Sementara itu, Desa Jojo terdampak akibat luapan Sungai Piji dan Sungai Logung, menunjukkan kerentanan wilayah ini terhadap beberapa aliran sungai.
Desa Mejobo menghadapi luapan dari Sungai Dawe dan Sungai Piji, sedangkan Desa Golantepus terendam karena luapan Sungai Dawe dan Sungai Mrisen. Kompleksitas sistem sungai di Kudus turut berkontribusi pada meluasnya area terdampak. Desa Temulus juga mengalami dampak serupa dari luapan Sungai Dawe, Piji, dan Mrisen.
Di Desa Tenggeles, luapan Sungai Piji dan Jati Pasean menjadi penyebab utama banjir, sementara Desa Hadiwarno terdampak oleh luapan Sungai Dawe dan Mrisen. Kondisi geografis dan hidrologis wilayah ini membuat beberapa desa rentan terhadap banjir saat musim hujan ekstrem. Selain itu, areal persawahan seluas 20 hektare juga turut terendam, menambah kerugian bagi sektor pertanian.
Advertisement
Advertisement
Sebelumnya, beberapa desa di kecamatan lain di Kudus juga sempat terdampak banjir Kudus, namun saat ini genangan air sudah mulai surut. Kecamatan Kota, Jekulo, dan Bae adalah beberapa wilayah yang sebelumnya mengalami musibah serupa. Hal ini menunjukkan bahwa masalah banjir merupakan isu berulang di berbagai bagian Kabupaten Kudus.
Di Kecamatan Kota, banjir disebabkan oleh meluapnya Sungai Gelis yang melintasi wilayah tersebut. Sementara itu, di Kecamatan Jekulo, luapan Sungai Piji dan Jati Pasean menjadi penyebab utama. Kondisi ini serupa dengan beberapa desa di Kecamatan Mejobo yang juga terdampak oleh sungai-sungai tersebut.
Kecamatan Bae juga tidak luput dari dampak banjir, yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Dawe dan Sungai Nolo. Meskipun genangan telah surut di wilayah-wilayah ini, pengalaman tersebut menjadi pengingat akan pentingnya upaya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Pemerintah daerah terus memantau kondisi cuaca dan potensi bencana di seluruh Kabupaten Kudus.
Advertisement
Sumber: AntaraNews