Banjir yang melanda Kabupaten Kudus menyebabkan lonjakan jumlah warga yang harus mengungsi ke tempat-tempat aman. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus menunjukkan bahwa total pengungsi telah mencapai 1.822 jiwa. Peningkatan ini terjadi seiring dengan intensitas curah hujan yang tinggi di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, menjelaskan bahwa angka pengungsi ini bersifat dinamis dan akan terus diperbarui seiring perkembangan situasi. Mayoritas pengungsi, sekitar 60 persen lebih, adalah perempuan, mencerminkan kerentanan kelompok ini dalam menghadapi bencana.
Para pengungsi tersebut berasal dari berbagai desa yang terdampak parah, seperti Pasuruhan Lor, Temulus, Karangrowo, Kesambi, Jati Wetan, Jetis Kapuan, Karangrowo, Ngemplak, Payaman, Tanjungkarang, dan Gulang. Mereka kini menempati 11 lokasi pengungsian yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah.
Advertisement
Advertisement
Jumlah pengungsi di Kabupaten Kudus terus menunjukkan tren peningkatan signifikan sejak beberapa hari lalu. Pada Rabu (14/1), tercatat sebanyak 596 jiwa yang mengungsi, dan angka ini melonjak drastis hingga 1.822 jiwa per hari Sabtu (17/1). Kenaikan ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan meluasnya genangan banjir di berbagai wilayah.
Warga yang terdampak dan mengungsi berasal dari sebelas desa, termasuk Pasuruhan Lor, Temulus, Karangrowo, Kesambi, Jati Wetan, Jetis Kapuan, Karangrowo, Ngemplak, Payaman, Tanjungkarang, dan Gulang. BPBD terus melakukan pendataan untuk memastikan semua warga yang membutuhkan bantuan dapat terjangkau.
Sebelas tempat pengungsian telah diaktifkan untuk menampung para korban banjir. Lokasi-lokasi tersebut meliputi Gedung NU Center Pasuruhan Lor, Madrasah Hidayatys Shibyan Temulus, Balai Desa Karangrowo, TK Pertiwi dan Aula Balai Desa Kesambi, Balai Desa Jati Wetan, Gedung Muslimat NU Loram Kulon, gedung DPRD Kudus, Balai Desa Payaman, GKMI Tanjung Karang, kantor PDI-P Jalan Lingkar Kudus, dan Balai Desa Gulang. Gedung DPRD Kudus menjadi lokasi pengungsian terbanyak, menampung 396 jiwa dari Desa Karangrowo dan Ngemplak.
Advertisement
Sementara itu, lokasi pengungsian lainnya memiliki jumlah bervariasi, mulai dari 26 hingga 131 jiwa. Komposisi pengungsi menunjukkan dominasi perempuan, dengan lebih dari 60 persen dari total keseluruhan, menandakan perlunya perhatian khusus terhadap kebutuhan spesifik kelompok ini.
Advertisement
Pemerintah daerah melalui BPBD memastikan pemenuhan kebutuhan dasar bagi seluruh pengungsi di setiap lokasi evakuasi. Kebutuhan tersebut mencakup makanan, minuman, pakaian, serta tempat tinggal sementara yang layak. Selain itu, alat-alat kebersihan dan kebutuhan pribadi lainnya juga disediakan untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan para pengungsi.
Tidak hanya kebutuhan fisik, aspek psikologis pengungsi juga menjadi perhatian. Mainan untuk anak-anak disediakan sebagai bagian dari upaya trauma healing atau penyembuhan psikologi, membantu mereka menghadapi situasi sulit ini. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan mental warga, terutama anak-anak, yang terdampak bencana.
Meskipun beberapa daerah mulai menunjukkan penurunan ketinggian genangan banjir, situasi di sejumlah lokasi masih memerlukan perhatian serius. BPBD berharap Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dapat mengurangi intensitas curah hujan di Kabupaten Kudus. Hal ini diharapkan bisa mempercepat surutnya genangan banjir dan memungkinkan warga kembali ke rumah masing-masing.
Advertisement
Sumber: AntaraNews