Beras dan Ikan Patin RI Berpeluang Jadi Menu Jemaah Haji di Arab Saudi
Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat perdagangan bilateral kedua negara.
Pemerintah Indonesia terus berupaya memperluas pasar ekspor produk pangan nasional ke Arab Saudi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan katering jemaah haji yang setiap tahun mencapai jutaan porsi makanan.
Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat perdagangan bilateral kedua negara, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha pangan dalam negeri untuk menembus pasar Timur Tengah.
Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan optimistis komoditas pangan asal Indonesia bisa masuk dalam rantai pasok katering di Tanah Suci.
"Kita melihat ada banyak komoditas yang sebenarnya kita miliki. Seperti beras, kerupuk, santan, ikan patin, hingga bumbu masakan yang selama ini menjadi bagian dari konsumsi jemaah," ujar Irfan, Kamis (4/6/2026).
Dua Penyedia Layanan Konsumsi
Irfan bersama Tim Amirul Hajj meninjau dua penyedia layanan konsumsi jemaah haji Indonesia di Madinah pada Rabu (3/6). Keduanya adalah Meez Mary Catering dan Uhud Taiba for Catering.
Dalam kunjungan itu, pemerintah tidak hanya memastikan kualitas layanan konsumsi bagi jemaah haji, tetapi juga melihat potensi pemanfaatan komoditas pangan asal Indonesia dalam rantai pasok katering di Tanah Suci.
Irfan mengatakan sebagian produk yang digunakan di dapur katering sebenarnya berasal dari Indonesia, namun belum sepenuhnya tercatat sebagai produk nasional karena masuk melalui negara lain.
Dia mencontohkan santan dan ikan patin yang menjadi bahan makanan katering diduga berasal dari Indonesia, namun belum sepenuhnya tercatat sebagai produk nasional Hal ini terjadi karena produk-produk tersebut masuk melalui negara lain.
Terealisasi
Ke depan, agar hal ini bisa segera terealisasi, pemerintah akan memasukkan ketentuan penggunaan komoditas pangan Indonesia dalam kontrak penyediaan katering haji. Langkah ini dinilai dapat memperkuat kepastian pasar bagi produk nasional.
"Dalam kontrak bisa saja diatur penggunaan beras atau bahan pangan dari Indonesia. Ini akan memperkuat posisi produk kita, meski saat ini belum bisa diterapkan sepenuhnya," ujarnya.
Irfan berharap stabilitas kawasan dan perbaikan rantai logistik global dapat membuka jalan lebih luas bagi masuknya komoditas pangan Indonesia ke Arab Saudi, sekaligus memperkuat peran pelaku usaha nasional dalam ekosistem penyelenggaraan haji dan umrah.
"Kita ingin jemaah mendapatkan makanan yang sesuai dengan selera Indonesia, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi bagi petani, nelayan, UMKM, dan pelaku usaha dalam negeri. Haji tidak hanya menjadi pelayanan ibadah, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk penguatan ekosistem ekonomi Indonesia di tingkat global," katanya.