BBPPMT Yogyakarta Gelar Pelatihan Calon Transmigran, Dorong Pemanfaatan Program Pemerintah Termasuk MBG
eserta yang menyelesaikan pelatihan akan memperoleh sertifikat serta stimulan untuk membantu penerapan keterampilan di lokasi penempatan.
Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan bagi calon transmigran angkatan VI dan VII yang berasal dari penduduk setempat. Kegiatan berlangsung selama tujuh hari, mulai 17–23 November, dengan total 64 jam pembelajaran di Kantor BBPPMT Yogyakarta.
Sebanyak 70 peserta mengikuti pelatihan ini dan akan ditempatkan di UPT Lagading, Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Mereka dibekali berbagai materi, mulai dari pengolahan lahan, budidaya hortikultura, hingga teknik peternakan. Peserta yang menyelesaikan pelatihan akan memperoleh sertifikat serta stimulan untuk membantu penerapan keterampilan di lokasi penempatan.
Kepala BBPPMT Yogyakarta, Tunggak Santosa, berharap para peserta dapat memanfaatkan peluang dari berbagai program prioritas pemerintah, seperti koperasi desa Merah Putih dan program makan bergizi gratis (MBG). Ia menilai, program tersebut dapat membantu transmigran menyesuaikan komoditas dengan kebutuhan pasar sehingga hasil pertanian dapat terserap dengan harga yang layak.
"Jadi transmigran bisa ikut mensuplai bahan pertanian, perkebunan, termasuk peternakan," terangnya saat membuka pelatihan, Senin (17/11).
Transmigrasi mencapai 1.392 keluarga
Tunggak menambahkan, kolaborasi dengan pemerintah daerah sangat penting untuk memastikan kesamaan visi dan menciptakan kesejahteraan, termasuk bagi transmigran. Dia juga menegaskan bahwa transmigrasi saat ini bukan lagi sekadar memindahkan penduduk, tetapi telah berkembang menjadi 'transformasi transmigrasi' yang berperan sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat integrasi sosial.
Tahun ini, penempatan transmigrasi mencapai 1.392 keluarga di sepuluh kabupaten/kota strategis. Sebagian besar merupakan transmigran lokal, yakni 94 persen, sementara transmigran dari luar provinsi hanya enam persen.
"Kami terus mendorong pertumbuhan ekonomi pada 154 kawasan transmigrasi, khususnya di kawasan transmigrasi lokal," katanya.
Ia menegaskan pelatihan ini tidak hanya mentransfer keterampilan teknis, tetapi juga membangun karakter dan kedisiplinan agar para transmigran siap menjadi individu tangguh dan berdaya saing.
Manfaatkan fasilitas pemerintah
Sementara itu, Kepala UPT Transmigrasi Lagading, Ruslan, mengingatkan peserta untuk memanfaatkan fasilitas pemerintah dengan optimal dan membangun wilayah Lagading secara bersama-sama. Ia menyarankan agar transmigran memulai usaha dari lahan pekarangan.
Setelah tiga bulan mendapatkan hasil, barulah mereka menggarap lahan usaha satu dan dilanjutkan lahan usaha dua.
"Bisa olah tanah untuk tanaman yang cocok. Misal cabai dengan kelapa genjah. Jadi sembari menunggu kelapa, cabai nanti sudah bisa dipetik," katanya.