Banjir di Medan Mulai Surut, Warga: Kami Evakuasi Mandiri Tanpa Bantuan Pemerintah
Rumah-rumah yang berada di sepanjang bantaran sungai tersebut tenggelam akibat tingginya debit air..
Banjir yang melanda Kota Medan, Sumatera Utara pada Kamis, 27 November 2025, disebabkan oleh meluapnya Sungai Deli. Banyak rumah warga yang terendam akibat kondisi ini, dengan pemukiman di Jalan Multatuli, Kecamatan Medan Maimun, menjadi salah satu lokasi yang paling parah terkena dampak.
Rumah-rumah yang berada di sepanjang bantaran sungai tersebut tenggelam akibat tingginya debit air. Meskipun banjir telah surut, warga masih melakukan evakuasi mandiri sejak air mulai naik hingga kini, pada hari Sabtu (29/11). Sayangnya, tidak ada bantuan dari pemerintah yang datang untuk membantu mereka.
Seorang warga bernama Dani mengungkapkan bahwa keluarganya dan tetangga yang rumahnya terendam harus menghadapi bencana ini secara mandiri.
"Mandiri semua. Mereka (pemerintah) belum ada turun. Aneh, padahal di sini banyak lansia dan anak-anak. Warga evakuasi sendiri," keluhnya.
Dani juga menekankan bahwa yang paling mendesak saat ini adalah penyediaan perahu karet di setiap Kantor Lurah, serta life jacket sebagai langkah penyelamatan awal. Selain itu, dapur umum atau posko darurat juga sangat dibutuhkan.
"Sama tali permanen di sudut-sudut tembok, dan dipasangkan karabiner. Karena akses di sini lewat gang, dan turun ke bawah," tambahnya.
Dani berharap pemerintah segera turun tangan untuk membantu warga yang tinggal di Jalan Multatuli yang terdampak banjir. Ia khawatir jika masalah ini tidak segera ditangani, akan muncul penyakit setelah bencana.
"Kalau gak tertangani, bisa saja muncul penyakit, gimana. Sudah kena bencana, tak ada bantuan, kan kasihan," ujarnya.
Harapan Dani mencerminkan kesulitan yang dihadapi oleh banyak warga yang terjebak dalam situasi ini, yang sangat memerlukan perhatian dan bantuan dari pihak berwenang.
Buka Posko Darurat
Ade, seorang warga yang tinggal di sepanjang pinggiran Sungai Deli di Jalan Samanhudi, mengungkapkan bahwa ia bersama penduduk lainnya menjadikan sanggar Sangkala sebagai posko darurat. Langkah ini diambil untuk memudahkan warga yang menjadi korban banjir dalam mendapatkan makanan dan obat-obatan.
Semua bantuan yang mereka sediakan berasal dari sumbangan para donatur, karena tidak ada bantuan dari pemerintah. "Di sini kita sudah mitigasi. Karena kita tahu Sungai Deli ini langganan banjir, dan ini kita urunan, ada juga dari kawan-kawan yang mau nyumbang, kita sediakan, lalu kita salurkan," ujar Ade.
Sementara itu, berdasarkan informasi resmi yang diterima oleh Liputan6.com, Wali Kota Medan, Rico Waas, mempercepat proses evakuasi warga, terutama di lokasi-lokasi yang sebelumnya sulit dijangkau.
"Alhamdulillah, hari ini hujan di kota Medan mulai reda. Kondisi ini kami manfaatkan untuk mempercepat evakuasi warga," kata Rico Waas dalam keterangan yang diperoleh pada Sabtu pagi (29/11).
Meskipun ada beberapa daerah di Kota Medan yang masih terendam, Rico Waas bersama timnya turun langsung untuk meninjau posko penyelamatan warga di Kecamatan Medan Marelan dan Medan Belawan. "Kami memastikan warga tertangani dengan baik, dan memastikan pendistribusian bantuan berjalan lancar," tambah Rico Waas. Ia juga telah menugaskan seluruh tim untuk menjangkau setiap lokasi yang membutuhkan bantuan. "Insya Allah, seluruh warga yang terdampak akan mendapatkan penanganan dan bantuan secepat mungkin," tutupnya.
Bobby Nasution Perbaiki Posko Pengungsian
Pada hari Jumat, 28 November 2025, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, tiba di Bandara Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah menjelang waktu Maghrib. Setibanya di lokasi, Bobby segera menemui para pengungsi yang terdampak banjir dan longsor, didampingi oleh Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu, di posko pengungsian yang terletak di GOR Pandan Tapteng.
"Kami langsung menuju posko untuk melihat dan mendengar langsung kondisi saudara-saudara kita," ungkap Bobby pada hari yang sama.
Kondisi di tempat pengungsian terlihat sangat memprihatinkan dengan berbagai area yang tampak tidak teratur. Bobby pun memberikan instruksi untuk melakukan penataan yang lebih baik di posko tersebut.
Di lokasi, tercium bau tak sedap dari kamar mandi dan sampah menumpuk di sekitar area istirahat. Semua kelompok masyarakat, termasuk ibu hamil, bayi, dan warga yang sakit, terpaksa berada dalam satu ruangan yang sama.
"Setelah kedatangan kami, bayi, ibu hamil, dan warga yang sedang sakit langsung dipindahkan ke area yang lebih layak agar mendapatkan kenyamanan dan penanganan yang lebih baik," jelas Bobby.
Pihaknya juga sedang mempercepat perbaikan listrik dan jaringan komunikasi yang terputus akibat kerusakan pada gardu induk. Pendataan kebutuhan seperti air bersih, gas LPG, serta kebutuhan untuk anak-anak dan perempuan, termasuk bahan makanan pokok, terus dilakukan agar semua warga bisa segera menerima bantuan yang diperlukan. Rencananya, pada hari Sabtu (29/11), rombongan Gubernur Sumut akan meninjau lokasi lain di wilayah Tapteng dan Sibolga.
Sejak Selasa (25/11), Bobby Nasution telah menetapkan status darurat bencana untuk banjir dan longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumut, dengan bencana terparah terjadi di Kabupaten Tapteng. Menurut data terbaru yang dirilis pada Jumat, 28 November 2025 pukul 12.00 WIB, jumlah korban jiwa di seluruh wilayah bencana di Sumut telah mencapai 55 orang. Selain itu, terdapat 507 orang yang mengalami luka-luka dan 42 orang dinyatakan hilang.