Banjir Cipulir: Warga Tak Sempat Sahur, BPBD DKI Sigap Tangani Dampak
Banjir Cipulir kembali melanda kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, membuat warga tak sempat sahur karena fokus menyelamatkan harta benda. BPBD DKI Jakarta bergerak cepat tangani dampak banjir.
Warga di kawasan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menghadapi situasi sulit pada Jumat pagi (20/2) saat banjir melanda permukiman mereka. Kenaikan air yang cepat membuat banyak warga harus bergegas menyelamatkan barang-barang berharga, bahkan hingga mengorbankan waktu sahur mereka. Kejadian ini menyoroti kerentanan wilayah tersebut terhadap genangan air saat intensitas hujan tinggi.
Salah satu warga terdampak, Zoko, mengungkapkan bahwa dirinya tidak sempat sahur karena air sudah mulai meninggi sejak pukul 05.00 WIB, bertepatan dengan waktu azan. Prioritas utama Zoko adalah mengangkat barang-barang penting seperti mesin cuci, kasur, dan pakaian ke tempat yang lebih tinggi. Kenaikan air yang mendadak dan cepat memaksa warga untuk bertindak sigap demi mengamankan harta benda mereka dari kerusakan.
Kondisi darurat ini berdampak langsung pada aktivitas harian warga, termasuk ibadah puasa. Zoko mengaku tidak kuat menjalankan puasa karena sejak pagi harus berkutat dengan genangan air dan upaya penyelamatan barang. Situasi ini menunjukkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi warga saat bencana banjir melanda, mengganggu rutinitas dan kesejahteraan mereka.
Dampak Banjir pada Aktivitas Warga Cipulir
Kenaikan air yang drastis di Cipulir, Kebayoran Lama, pada Jumat pagi memaksa warga untuk memprioritaskan penyelamatan barang-barang daripada melaksanakan sahur. Zoko, seorang warga setempat, menceritakan bahwa air sudah mencapai ketinggian yang mengkhawatirkan saat azan Subuh berkumandang, sehingga ia tidak sempat menyantap hidangan sahur. Fokus utamanya adalah mengamankan harta benda seperti mesin cuci, kasur, dan pakaian yang menjadi prioritas utama untuk diselamatkan dari genangan air.
Situasi mendadak ini membuat warga harus bergerak cepat, di mana air dilaporkan naik dengan sangat pesat. Zoko menyebutkan bahwa baju-baju menjadi barang pertama yang diangkat, disusul kasur jika waktu memungkinkan. Dampak langsung dari kejadian ini adalah kelelahan fisik yang dirasakan warga, bahkan membuat Zoko merasa tidak sanggup untuk berpuasa karena harus berjuang melawan genangan air sejak pagi hari.
Istri Zoko, Khotimah, menambahkan bahwa biasanya informasi status siaga banjir diterima dari kelurahan melalui RT dan RW. Namun, meskipun sudah ada pemberitahuan siaga, kenaikan air kali ini dinilai sangat cepat dan tidak terduga. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecepatan respons terhadap informasi siaga menjadi krusial dalam menghadapi bencana banjir yang datang tiba-tiba.
Ancaman Banjir Berulang dan Rencana Relokasi
Warga Cipulir menyebutkan bahwa banjir yang terjadi bukanlah fenomena tahunan, melainkan sering terjadi setiap kali hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur dari siang hingga malam hari. Dalam tiga tahun terakhir tinggal di lokasi tersebut, Zoko mengaku sudah mengalami banjir sebanyak dua kali, termasuk kejadian pada Jumat pagi ini. Kejadian banjir yang berulang ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat setempat.
Banjir yang kerap melanda ini mendorong Khotimah dan keluarganya untuk mempertimbangkan langkah drastis demi menghindari risiko serupa di masa mendatang. Khotimah berencana untuk pindah dari lokasi tersebut setelah Lebaran, mencari tempat tinggal yang lebih tinggi dan aman dari genangan air. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan banjir terhadap kehidupan sehari-hari dan usaha dagang gorengan serta takjil miliknya yang terpaksa diliburkan untuk fokus membersihkan rumah.
Rencana relokasi ini mencerminkan keputusasaan warga terhadap kondisi lingkungan yang rentan banjir. Meskipun ada sistem pemberitahuan siaga, kecepatan air naik menjadi tantangan tersendiri bagi warga. Dengan adanya rencana pindah, diharapkan keluarga Khotimah dapat menemukan tempat tinggal yang lebih stabil dan tidak lagi terancam oleh bencana banjir yang berulang.
Penanganan dan Imbauan dari BPBD DKI Jakarta
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat bahwa hingga pukul 12.00 WIB pada Jumat, sebanyak 123 RT dan 9 ruas jalan di Jakarta masih tergenang. Data ini menunjukkan skala dampak banjir yang cukup luas di beberapa wilayah ibu kota. BPBD DKI terus memantau kondisi genangan di setiap wilayah untuk memastikan penanganan yang cepat dan tepat.
Dalam upaya penanggulangan, BPBD DKI telah mengerahkan personel dan berkoordinasi erat dengan berbagai dinas terkait. Unsur-unsur seperti Dinas Sumber Daya Air, Dinas Bina Marga, dan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan dilibatkan untuk melakukan penyedotan genangan air dan memastikan tali-tali air berfungsi optimal. Bersama dengan para lurah dan camat setempat, seluruh unsur tersebut juga menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas banjir.
BPBD DKI menargetkan genangan dapat surut dalam waktu cepat dan mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati serta waspada terhadap potensi genangan lebih lanjut. Dalam keadaan darurat, warga diimbau untuk segera menghubungi nomor telepon 112. Layanan darurat ini gratis dan beroperasi selama 24 jam non-stop, siap membantu masyarakat yang membutuhkan.
Sumber: AntaraNews