Banjir Aceh Timur Rendam 11.010 Hektare Sawah, Kerugian Capai Rp88 Miliar
Banjir Aceh Timur menyebabkan ribuan hektare sawah terendam, dengan kerugian fantastis mencapai Rp88 miliar. Simak upaya pemulihan yang akan dilakukan Pemkab.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura melaporkan dampak serius akibat bencana banjir yang melanda wilayah tersebut. Sebanyak 11.010 hektare lahan persawahan yang tersebar di 24 kecamatan di Kabupaten Aceh Timur kini terendam air. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi para petani.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Timur, Erwin Atlizar, pada Minggu, mengungkapkan bahwa kerugian finansial akibat bencana ini diperkirakan mencapai angka Rp88 miliar. Mayoritas tanaman padi yang terdampak berada pada fase krusial, yakni produktif hingga siap panen, sehingga potensi gagal panen sangat tinggi.
Kerugian besar ini mencakup potensi gagal panen, kerusakan fisik tanaman padi, serta terhentinya seluruh aktivitas pertanian masyarakat. Lahan sawah yang terendam selama beberapa hari terakhir membuat petani tidak dapat mengolah lahannya, memperparah kondisi perekonomian lokal.
Dampak Kerugian Luas Akibat Banjir Aceh Timur
Banjir di Aceh Timur telah menyebabkan kerugian signifikan, mencapai Rp88 miliar, yang merupakan akumulasi dari berbagai faktor. Kerugian ini berasal dari potensi gagal panen yang mengancam, kerusakan parah pada tanaman padi, serta terhentinya seluruh aktivitas pertanian masyarakat akibat sawah yang terendam banjir selama beberapa hari. Banyak tanaman padi yang terdampak berada pada fase produktif hingga siap panen, sehingga kerugian petani dipastikan sangat besar.
Sejumlah kecamatan mengalami dampak terluas akibat banjir Aceh Timur ini. Di antaranya adalah Peureulak Barat dengan 2.600 hektare sawah terendam, diikuti oleh Kecamatan Peureulak yang mencapai 1.405 hektare, dan Kecamatan Darul Falah seluas 1.063 hektare. Selain itu, Kecamatan Darul Aman mencatat 850 hektare, dan Kecamatan Julok seluas 785 hektare.
Dampak banjir juga dirasakan di Kecamatan Idi Tunong dengan 520 hektare, Kecamatan Banda Alam 476 hektare, Pante Bidari 467 hektare, Idi Rayeuk 439 hektare, dan Indra Makmur 187 hektare. Kecamatan Sungai Raya mencatat 306 hektare, Serba Jadi 326 hektare, Birem Bayeun 285 hektare, Simpang Ulim 52 hektare, Madat 22 hektare, Peudawa 146 hektare, Rantau Selamat 146 hektare, Simpang Jernih 85 hektare, dan Peureulak Timur 225 hektare. Erwin Atlizar menambahkan bahwa beberapa kecamatan lain seperti Peunaron dan Idi Timur masih dalam tahap pendataan lebih lanjut.
Upaya Pemulihan dan Bantuan untuk Petani Terdampak
Sebagai respons terhadap bencana banjir Aceh Timur, Pemkab Aceh Timur berkomitmen untuk melakukan langkah-langkah pemulihan yang cepat dan terarah. Pemkab akan menyalurkan bantuan pertanian secara gratis kepada para petani yang terdampak. Bantuan ini mencakup benih padi, pupuk, serta berbagai sarana produksi pertanian lainnya yang sangat dibutuhkan untuk memulai kembali aktivitas pertanian.
Selain bantuan langsung, pemerintah daerah juga akan mengusulkan bantuan tambahan kepada pemerintah pusat. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat proses pemulihan sektor pertanian pasca-banjir secara menyeluruh. Erwin Atlizar menegaskan, "Kami berkomitmen untuk terus mempercepat pemulihan di sektor pertanian, mengingat sektor tersebut merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat."
Banjir tidak hanya merendam ribuan hektare sawah, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur pertanian yang vital. Sejumlah jaringan irigasi, tanggul persawahan, serta akses jalan produksi yang biasa digunakan petani untuk mengangkut hasil panen, turut mengalami kerusakan parah. Akibat kondisi ini, aktivitas pertanian lumpuh total di beberapa wilayah selama banjir berlangsung.
Banyak petani terpaksa menunda masa tanam ulang karena lahan mereka masih tertutup lumpur dan belum memungkinkan untuk diolah kembali. Erwin Atlizar mengimbau, "Kami mengimbau para petani untuk tetap bersabar dan mengikuti arahan teknis dari penyuluh pertanian setempat agar percepatan tanam ulang dapat segera dilakukan setelah kondisi lahan dinyatakan aman dan siap diolah kembali."
Sumber: AntaraNews