Intensifikasi Sawah Aceh Utara Digenjot Pasca Bencana, Jaga Ketahanan Pangan Daerah

Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara mengintensifkan sawah yang tidak terdampak bencana untuk menjaga produksi padi pasca banjir, dengan target 6 ton per hektare, memastikan ekonomi masyarakat tetap berjalan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Intensifikasi Sawah Aceh Utara Digenjot Pasca Bencana, Jaga Ketahanan Pangan Daerah
Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara mengintensifkan sawah yang tidak terdampak bencana untuk menjaga produksi padi pasca banjir, dengan target 6 ton per hektare, memastikan ekonomi masyarakat tetap berjalan. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melalui Dinas Pertanian dan Pangan kini tengah fokus mengintensifkan lahan sawah yang tidak terdampak bencana. Langkah strategis ini diambil untuk menjaga stabilitas produksi pertanian di wilayah tersebut. Upaya ini menjadi krusial mengingat Aceh Utara merupakan salah satu sentra penghasil padi utama di Provinsi Aceh.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, Erwandi, menyatakan bahwa intensifikasi ini mencakup 54 persen dari total lahan baku sawah yang ada. Fokus utama adalah pada penanaman, pemupukan, serta perlakuan sebelum dan sesudah panen. Target produktivitas yang ditetapkan adalah 6 ton per hektare untuk setiap lahan yang digarap secara intensif.

Kebijakan ini merupakan respons cepat pemerintah daerah pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda pada akhir November lalu. Bencana tersebut telah merusak sebagian besar lahan pertanian, sehingga intensifikasi pada lahan yang tersisa menjadi kunci pemulihan ekonomi masyarakat. Tujuannya adalah memastikan roda perekonomian warga tetap berputar.

Bencana alam yang terjadi pada akhir November lalu memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian di Aceh Utara. Tercatat, sebanyak 18.316 hektare lahan sawah mengalami kerusakan, yang setara dengan 46 persen dari total luas baku sawah 39.762 hektare. Kerusakan ini terbagi menjadi 4.679 hektare rusak parah, 6.447 hektare rusak sedang, dan 7.189 hektare rusak ringan.

Menanggapi kondisi ini, Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara tidak tinggal diam. Mereka segera mengambil langkah-langkah mitigasi dan pemulihan untuk sektor pertanian. Selain intensifikasi pada lahan yang tidak terdampak, upaya rehabilitasi juga menjadi prioritas utama.

Erwandi menjelaskan bahwa intervensi awal dari Kementerian Pertanian (Kementan) akan fokus pada rehabilitasi sawah yang terdampak sedang. Tahap pertama ini akan mencakup area seluas 1.093 hektare. Data lengkap mengenai sektor pertanian yang terdampak telah dimasukkan dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Pendanaan untuk program rehabilitasi ini diharapkan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui kementerian terkait. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah pusat untuk membantu pemulihan sektor pertanian di Aceh Utara.

Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, terus mengupayakan agar seluruh lahan sawah masyarakat yang terdampak bencana dapat direhabilitasi. Komitmen ini bertujuan agar masyarakat dapat segera kembali bertani dan memulihkan kondisi ekonomi mereka dengan cepat. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan ini.

Dalam rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penggunaan Tambahan Transfer Keuangan Daerah (TKD) Pascabencana di Provinsi Aceh, Bupati Ismail A Jalil secara langsung menyampaikan harapannya. Ia meminta Pemerintah Pusat untuk segera memulihkan 18.316 hektare lahan sawah yang hancur akibat banjir. Permintaan ini menekankan urgensi penanganan masalah pertanian di daerah tersebut.

Intensifikasi sawah yang tidak terdampak bencana merupakan langkah proaktif Pemkab Aceh Utara untuk menjaga ketersediaan pangan. Di sisi lain, rehabilitasi lahan yang rusak menjadi fokus jangka panjang. Sinergi antara pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat mempercepat pemulihan sektor pertanian secara menyeluruh.

Dengan adanya upaya intensifikasi dan rehabilitasi, diharapkan produksi padi di Aceh Utara dapat tetap terjaga. Ketahanan pangan lokal akan tetap kuat, sekaligus memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani. Ini adalah bukti nyata komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi pertanian.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi