Badan Geologi Ingatkan Waspada Potensi Lahar Dingin Semeru Meski Awan Panas Nihil
Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi lahar dingin Semeru akibat tingginya curah hujan dan penumpukan material vulkanik, meskipun awan panas tidak terdeteksi.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan peringatan penting bagi masyarakat di sekitar Gunung Semeru. Peringatan ini menyoroti ancaman bencana susulan berupa aliran lahar dingin. Kondisi ini muncul menyusul intensitas hujan yang tinggi dalam dua hari terakhir di wilayah tersebut, meningkatkan potensi lahar dingin Semeru.
Meskipun guguran awan panas Gunung Semeru tidak lagi terdeteksi pada hari ini, aktivitas erupsi gunung api ini masih tergolong tinggi. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Priatin Hadi Wijaya, di Bandung pada Jumat lalu. Ini menunjukkan bahwa bahaya belum sepenuhnya berlalu bagi warga sekitar, terutama terkait potensi lahar dingin Semeru.
Kekhawatiran utama saat ini berpusat pada potensi bencana sekunder yang dapat terjadi kapan saja. Erupsi yang terus-menerus menyebabkan penumpukan material vulkanik di sekitar kawah. Material ini berpotensi besar menjadi banjir lahar dingin jika bercampur dengan air hujan lebat.
Ancaman Lahar Dingin dari Tumpukan Material Vulkanik
Priatin Hadi Wijaya menjelaskan secara rinci bahwa tumpukan material vulkanik hasil erupsi Gunung Semeru memiliki potensi besar untuk berubah. Material ini bisa menjadi lahar dingin saat bercampur dengan air hujan yang intens. Erupsi yang masih terjadi 36 hingga 45 kali dalam 12 jam menunjukkan pasokan material baru terus bertambah di sekitar puncak.
"Yang kami khawatirkan saat ini adalah potensi bencana kedua. Erupsi masih terjadi 36 hingga 45 kali dalam 12 jam, yang berarti material vulkanik terus menumpuk di sekitar kawah dan berpotensi jadi banjir lahar dingin," ujar Hadi. Pernyataan ini menekankan urgensi peringatan tersebut agar masyarakat memahami risiko potensi lahar dingin Semeru.
Berdasarkan pantauan PVMBG, curah hujan di kawasan puncak dan lereng Semeru memang cukup tinggi selama dua hari terakhir. Kondisi cuaca ini secara signifikan meningkatkan risiko. Material vulkanik yang menumpuk dapat dengan cepat terbawa arus air hujan.
Tingginya curah hujan ini secara langsung meningkatkan risiko material tersebut turun ke daerah aliran sungai. Sungai-sungai yang berhulu di puncak Semeru menjadi jalur utama bagi aliran lahar dingin. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar aliran sungai harus ekstra waspada terhadap bahaya ini.
Status Gunung Semeru dan Langkah Mitigasi PVMBG
PVMBG telah mengambil langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak bencana yang mungkin terjadi. Mereka memastikan tidak ada aktivitas masyarakat, termasuk penambang pasir, dalam radius 20 kilometer. Area ini mencakup sektoral tenggara hingga selatan dari puncak gunung.
Langkah sterilisasi ini sangat krusial mengingat karakteristik lahar dingin yang dapat bergerak cepat dan membawa material besar. Koordinasi dengan pemerintah daerah setempat terus dilakukan. Hal ini untuk memastikan informasi peringatan sampai ke seluruh lapisan masyarakat terdampak.
Hingga saat ini, status Gunung Semeru masih berada pada Level IV atau Awas, yang merupakan tingkat bahaya tertinggi. PVMBG merekomendasikan area sterilisasi sejauh delapan kilometer dari puncak. Ini bertujuan untuk menghindari risiko lontaran batu pijar yang masih mungkin terjadi sewaktu-waktu.
Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi. Kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan adalah kunci untuk mengurangi risiko. Kesadaran akan potensi lahar dingin Semeru menjadi sangat penting bagi keselamatan bersama.
Sumber: AntaraNews