Gunung Semeru, yang menjulang setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl), kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan meluncurkan Awan Panas Guguran (APG) pada Kamis sore, 15 Januari. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 17.08 WIB, dengan material guguran meluncur sejauh 4.000 meter dari puncak Mahameru dan terhenti di titik tersebut. Aktivitas ini menegaskan status siaga yang masih berlaku untuk gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, memastikan bahwa jarak luncur APG kali ini aman dan jauh dari pemukiman penduduk. Meskipun demikian, BPBD Lumajang tetap mengimbau masyarakat di lereng Gunung Semeru untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini penting untuk mengantisipasi potensi bahaya lanjutan dari aktivitas vulkanik.
Hujan abu vulkanik dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, termasuk Desa Klopo Sawit dan Sumbermujur di Kecamatan Candipuro. Isnugroho menyarankan masyarakat yang beraktivitas di luar rumah agar menggunakan masker untuk melindungi diri dari dampak abu vulkanik. Sementara itu, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mencatat adanya peningkatan aktivitas kegempaan sebelum APG terjadi.
Advertisement
Advertisement
Pada Kamis sore, Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan meluncurkan Awan Panas Guguran (APG) pada pukul 17.08 WIB. Guguran material vulkanik ini terpantau mencapai jarak 4.000 meter dari puncak Mahameru dan terhenti di titik tersebut, menandakan pelepasan energi dari dalam kawah.
Meskipun jarak luncur APG dianggap aman dari pemukiman penduduk, Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menegaskan pentingnya kewaspadaan. Hujan abu vulkanik telah dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, termasuk Desa Klopo Sawit dan Sumbermujur di Kecamatan Candipuro. Masyarakat diimbau untuk menggunakan masker saat berada di luar rumah guna melindungi kesehatan pernapasan mereka.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, juga melaporkan serangkaian aktivitas kegempaan yang signifikan. Selama periode pengamatan Kamis pukul 12.00-18.00 WIB, tercatat 40 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-22 mm dan durasi 94-139 detik. Ini menunjukkan tingkat tekanan di bawah permukaan yang masih tinggi.
Advertisement
Selain gempa letusan, terjadi pula satu kali gempa guguran dengan amplitudo 6 mm dan lama gempa 37 detik, serta satu kali gempa embusan dengan amplitudo 8 mm dan lama gempa 44 detik. Data kegempaan ini menjadi indikator penting dalam memantau dinamika vulkanik Gunung Semeru.
Advertisement
Mengingat status Level III (Siaga) Gunung Semeru, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
Selain itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak, membahayakan area tersebut.
Liswanto menekankan agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru. Area ini sangat rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar) yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan membahayakan keselamatan.
Advertisement
Kewaspadaan juga harus ditingkatkan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru. Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan, perlu menjadi perhatian serius.
Sumber: AntaraNews