Akademisi dan BGN Luruskan Miskonsepsi Pangan Ultra Olahan dalam Program MBG
Akademisi dan Badan Gizi Nasional (BGN) meluruskan miskonsepsi pangan ultra olahan (UPF) yang sering dianggap tidak sehat, menekankan pendekatan ilmiah dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jakarta, 20/2 (ANTARA) - Dekan sekaligus Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Eni Harmayani, meluruskan miskonsepsi tentang pangan ultra olahan atau ultra processed food (UPF) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penjelasan ini disampaikan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada publik.
Eni menekankan pentingnya pendekatan ilmiah yang berimbang dalam melihat isu pangan olahan. Diskursus mengenai UPF tidak dapat dipandang secara hitam putih, mengingat sistem pangan modern tidak dapat dilepaskan dari peran teknologi pengolahan.
Senada dengan Eni, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN), Gunalan, menegaskan pemahaman mengenai UPF penting. Hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan stigma yang dapat menghambat penyediaan pangan bergizi dalam skala nasional.
Pendekatan Ilmiah untuk Pangan Olahan
Eni Harmayani menyoroti bahwa perdebatan seputar pangan ultra olahan tidak bisa dilihat dari satu sisi ekstrem saja. Kebijakan pangan harus disusun secara proporsional dan berbasis ilmiah. Hal ini penting agar tetap melindungi kesehatan masyarakat sekaligus realistis terhadap kebutuhan sistem pangan nasional.
Ia juga menegaskan pentingnya edukasi yang berbasis sains untuk meluruskan pemahaman publik. Selama ini, persepsi publik cenderung menyamaratakan pangan ultra olahan sebagai makanan tidak sehat.
Padahal, banyak produk pangan olahan yang telah melalui proses teknologi untuk meningkatkan keamanan, daya simpan, dan ketersediaan gizi. Oleh karena itu, penilaian terhadap UPF memerlukan analisis yang lebih mendalam dan tidak tergesa-gesa.
Menghindari Stigma dan Memastikan Mutu Gizi
Gunalan dari Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan bahwa istilah UPF sering dipahami secara sederhana dan disamaratakan sebagai pangan tidak sehat. Pemahaman yang kurang tepat ini berpotensi menciptakan stigma negatif yang tidak berdasar.
Menurutnya, yang lebih penting adalah mutu gizi, keamanan, dan kesesuaian pangan dengan kebutuhan penerima manfaat. BGN terus membuka ruang-ruang diskusi ilmiah untuk meluruskan persepsi sekaligus memperkuat literasi publik.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa informasi yang beredar di masyarakat mengenai pangan olahan adalah akurat dan tidak menyesatkan. Dengan demikian, masyarakat dapat membuat pilihan pangan yang lebih bijak.
Klasifikasi UPF dan Kebijakan Berbasis Sains untuk MBG
Gunalan mengemukakan bahwa klasifikasi UPF tidak dirancang untuk menilai kualitas gizi secara langsung. Risiko kesehatan lebih dipengaruhi oleh konsumsi berlebihan, komposisi yang tidak proporsional, serta ketidaksesuaian dengan pedoman gizi seimbang.
Badan Gizi Nasional (BGN) bersama para pemangku kepentingan terus menghasilkan rekomendasi berbasis sains. Tujuannya adalah guna mendukung kebijakan pangan yang tepat.
Selain itu, BGN juga memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap fokus pada pemenuhan gizi, keamanan pangan, serta kebermanfaatan bagi seluruh penerima manfaat di Indonesia. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyediakan pangan yang tidak hanya terjangkau tetapi juga bergizi dan aman dikonsumsi.
Sumber: AntaraNews