Ultimeat Siap Kucurkan Rp10 Triliun untuk Investasi Microprotein Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Perusahaan Ultimeat berencana melakukan Investasi Microprotein senilai Rp10 triliun di Indonesia, membangun dua pabrik besar untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan protein alternatif.
Perusahaan teknologi pangan asal Malaysia, Ultimeat (M) Sdn Bhd, telah menyatakan kesiapannya berinvestasi besar di Indonesia. Mereka akan mengucurkan dana hingga Rp10 triliun untuk membangun dua fasilitas produksi microprotein. Langkah ini bertujuan memperkuat suplai protein dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.
Investasi signifikan ini akan difokuskan pada pembangunan pabrik di Lampung dan Malang, dengan masing-masing bernilai sekitar 300 juta dolar AS. Total nilai investasi mencapai sekitar Rp10 triliun jika kedua pabrik tersebut terealisasi penuh. Microprotein yang akan diproduksi Ultimeat ini berbahan dasar singkong dan gula lokal.
Edwin Lee, Founder dan CEO Ultimeat, menegaskan bahwa bahan baku utama berasal dari dalam negeri, menghilangkan kebutuhan impor. Produk inovatif ini dirancang sebagai sumber protein alternatif yang berkelanjutan. Ini juga diharapkan dapat mendukung kemandirian pangan nasional serta mengurangi ketergantungan impor protein hewani.
Potensi Investasi Microprotein dan Kemandirian Pangan
Ultimeat berencana membangun dua pabrik besar di Lampung dan Malang. Setiap pabrik membutuhkan investasi sekitar Rp4,9 triliun, sehingga totalnya mencapai Rp10 triliun. Fasilitas ini akan memproduksi microprotein yang berasal dari singkong dan gula, bahan baku yang melimpah di Indonesia.
Kebutuhan bahan baku untuk setiap pabrik sangat besar, yakni dua juta ton singkong dan satu juta ton gula per tahun. Edwin Lee menekankan bahwa seluruh bahan baku ini dapat dipasok dari petani lokal. Hal ini tidak hanya mendukung ekonomi petani tetapi juga menjamin kemandirian produksi.
Pada tahap awal, kebutuhan serapan microprotein diperkirakan 15.000 ton per tahun. Namun, kapasitas penuh kedua pabrik dapat mencapai antara 120.000 hingga 180.000 ton per tahun. Potensi produksi ini sangat besar untuk memenuhi kebutuhan protein nasional.
Teknologi microprotein Ultimeat dihasilkan melalui fermentasi selama tujuh hari. Produk ini dirancang untuk menggantikan fungsi daging dan susu dalam menu MBG, menawarkan alternatif gizi yang efektif. Kehadiran investasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor protein.
Keunggulan Microprotein Ultimeat dan Dukungan Gizi Nasional
Microprotein Ultimeat memiliki kadar protein sekitar 26 persen per 100 gram, jauh lebih tinggi dari susu yang umumnya hanya 3 persen. Selain itu, produk ini mengandung serat hasil proses fermentasi yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Keunggulan ini menjadikannya pilihan ideal untuk program gizi.
Edwin Lee juga menyebutkan bahwa teknologi microprotein telah digunakan di berbagai negara selama beberapa dekade. Ini menunjukkan bahwa teknologi ini memiliki basis penelitian yang luas dan terbukti aman. Ultimeat akan mengirimkan 9 ton microprotein dari Malaysia untuk uji coba di 30 Sentra Produksi Pangan Bergizi (SPPB).
Uji coba ini akan dilakukan di Yogyakarta, Pemalang, dan Malang untuk memastikan penerimaan produk. Meskipun MBG menjadi penopang utama, Ultimeat tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah. Mereka juga menargetkan pasar ritel, industri makanan olahan, serta sektor horeka.
Tim Pakar Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Susu, Epi Taufik, menyoroti rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia. Ketergantungan impor susu dan daging sapi yang tinggi, mencapai 80 persen dan 52 persen, menjadi perhatian serius. Investasi microprotein ini dapat menjadi solusi strategis.
Tantangan dan Harapan dalam Program Makan Bergizi Gratis
Epi Taufik menegaskan bahwa program MBG tidak boleh memicu kenaikan impor bahan pangan. Ketersediaan protein alternatif seperti microprotein menjadi krusial untuk menjaga stabilitas pasokan. Hal ini juga mendukung upaya pemerintah dalam mencapai kemandirian pangan.
Selain kandungan gizi, penerimaan rasa oleh anak-anak juga menjadi pertimbangan penting dalam memilih bahan protein untuk MBG. Uji coba yang dilakukan Ultimeat akan memberikan data penting mengenai aspek ini. Keberhasilan program sangat bergantung pada penerimaan luas dari target penerima manfaat.
Investasi Ultimeat sebesar Rp10 triliun ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan. Tidak hanya pada sektor pangan dan gizi, tetapi juga pada ekonomi lokal melalui penyerapan singkong dan gula. Ini adalah langkah maju dalam mendukung program gizi nasional.
Dengan adanya fasilitas produksi microprotein di Indonesia, diharapkan suplai protein dapat lebih terjamin. Ini akan membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Kolaborasi antara Ultimeat dan program MBG menunjukkan komitmen terhadap kesehatan masyarakat.
Sumber: AntaraNews