Program Makan Bergizi Gratis BGN Jangkau Jutaan Jiwa, Soroti Polemik Istilah Pangan Olahan
Badan Gizi Nasional (BGN) sukses memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis hingga puluhan juta penerima manfaat, seraya membahas polemik istilah pangan olahan bersama UGM.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan capaian signifikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah bergulir sejak awal tahun 2025. Program ini kini didukung oleh lebih dari 23.000 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah Indonesia.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunalan, menyatakan bahwa program MBG telah menjangkau puluhan juta penerima manfaat. Capaian ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan akses gizi yang merata bagi masyarakat.
Capaian impresif ini juga diiringi dengan forum diskusi penting bersama Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) di Yogyakarta. Diskusi tersebut berfokus pada pemahaman istilah pangan olahan serta evaluasi dan penguatan konsep gizi nasional, khususnya terkait istilah "ultra processed food" (UPF).
Capaian Gemilang Program Makan Bergizi Gratis
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi sejak 6 Januari 2025 telah menunjukkan hasil yang luar biasa hingga tahun 2026. BGN melaporkan bahwa lebih dari 23.000 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah berhasil didirikan untuk mendukung keberlanjutan program ini.
Gunalan, Plt Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, mengungkapkan bahwa dampak program ini sangat luas. "Capaian penerima manfaat program MBG sudah mencapai 60,19 juta jiwa, sehingga ini angka yang sangat besar," katanya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan kolaboratif yang diterapkan BGN. Program MBG melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, media, kampus, komunitas, hingga dunia usaha. Pendekatan ini memastikan dukungan yang komprehensif untuk program gizi nasional.
Sinergi antarpihak ini menjadi kunci dalam menjangkau masyarakat luas dan memastikan distribusi makanan bergizi secara efektif. Program MBG terus berupaya memperkuat ketahanan pangan dan gizi di seluruh pelosok negeri.
Polemik Istilah Pangan Olahan dan Ultra Processed Food (UPF)
Diskusi yang diadakan BGN bersama FTP UGM menyoroti peredaran informasi terkait istilah "ultra processed food" (UPF). Istilah ini seringkali menimbulkan perbedaan persepsi di masyarakat, sehingga perlu adanya pelurusan pemahaman.
Dekan FTP UGM, Eni Harmayani, menjelaskan bahwa istilah UPF diadopsi dari luar dan tidak sepenuhnya sesuai dengan konteks pengolahan pangan di Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk meluruskan penggunaan istilah ini agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Harmayani khawatir jika istilah UPF terus dipakai, publik tidak dapat membedakan antara pangan olahan secara umum dengan produk yang dipersepsikan negatif. "Yang kita khawatirkan kalau istilah UPF ini tetap dipakai, publik tidak bisa membedakan mana pangan olahan dan mana ultra processed food. Bisa saja semua pangan olahan dianggap negatif," ujarnya.
Menurutnya, pengolahan pangan tetap diperlukan, terutama untuk penyediaan makanan dalam jumlah besar dengan standar keamanan dan kualitas gizi yang terjaga. FTP UGM menyarankan penggunaan istilah "proses food" atau "pangan olahan yang tetap bergizi, tetap aman, tetap halal" sebagai alternatif yang lebih tepat.
Pentingnya Pangan Lokal dan Aman dalam MBG
Dalam program MBG, BGN menekankan pentingnya penggunaan bahan pangan lokal. Kebijakan ini mendorong pemanfaatan produk dalam negeri yang berasal dari petani, pelaku UMKM, serta peternak lokal.
Eni Harmayani menyoroti ketentuan regulasi pengelolaan MBG yang mendukung hal tersebut. "Produk yang digunakan dalam kegiatan MBG berasal dari bahan-bahan segar dalam negeri, sehingga bahan yang sifatnya siap saji dan cepat mulai kita hindari dalam program ke depan," katanya.
Pendekatan ini tidak hanya mendukung ekonomi lokal, tetapi juga memastikan kualitas gizi yang optimal bagi penerima manfaat. Fokus pada bahan segar dalam negeri merupakan upaya untuk menyediakan makanan yang aman, bergizi, halal, dan sehat.
Komitmen terhadap pangan lokal dan segar ini menjadi salah satu pilar utama Program Makan Bergizi Gratis. Hal ini bertujuan untuk membangun sistem pangan yang berkelanjutan dan menyehatkan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Sumber: AntaraNews