Getir Jual Rugi Mobil Listrik
Kenyamanan itu mulai diuji ketika Tyas mencoba membawa mobil listriknya ke luar kota.
“Agak nyesek, sih. Tapi ya udah siap mental dari awal.” Itu kalimat yang meluncur dengan tawa kecil dari Tyas, seorang pengguna mobil listrik sejak 2023, saat ditanya soal pengalaman menjual Wuling Air EV miliknya.
Bukan karena mobilnya bermasalah. Justru sebaliknya, Tyas menyukai kendaraan mungil dan imut itu. Tapi, kebutuhan berkata lain dan pilihan harus dibuat.
Ketertarikan pada Teknologi Baru
Cerita Tyas dimulai dua tahun lalu. Kala itu, ia tengah mencari mobil baru. Seperti banyak orang lain, prosesnya dimulai dengan scrolling dan membandingkan fitur.
“Waktu itu lihat Air EV lucu banget warnanya, speknya juga lumayan. Bisa jalan sampai 300 km. Udah gitu bebas ganjil-genap,” kata perempuan yang bekerja di Jakarta dan kerap melintasi jalur-jalur terbatas kendaraan itu.
Dengan harga setelah diskon sekitar Rp 265 juta, dan insentif pemerintah yang saat itu sedang gencar-gencarnya, Tyas menganggap ini kesempatan baik. Ia pun meminang Wuling Air EV Long Range.
Pilihannya terbukti tepat. Mobil listrik itu sangat efisien, perawatannya minim, dan cocok untuk mobilitas harian.
“Buat cewek kayak aku, gak ribet. Gak perlu mikirin ganti oli. Pulang kantor tinggal cas aja, besok pagi udah bisa dipakai lagi.”
Kenyamanan yang Tak Bertahan Lama
Namun, kenyamanan itu mulai diuji ketika Tyas mencoba membawa mobil listriknya ke luar kota. “Di atas kertas sih 300 km ya, tapi realitanya sering harus berhenti buat ngecas. Dan waktu ngecasnya tuh lama. Akhirnya waktu tempuh jadi molor banget.”
Pengalaman itulah yang akhirnya membuat Tyas berpikir untuk upgrade. Pilihannya jatuh pada Chery Omoda E5, mobil listrik baru yang menawarkan jarak tempuh lebih jauh dan waktu pengisian daya yang lebih cepat. Tapi untuk itu, ia harus melepas Air EV-nya.
Dilema Harga Bekas yang Jatuh Bebas
Keputusan menjual bukan hal mudah, bukan soal emosional, melainkan kenyataan di pasar. “Pas tahu harga jual bekasnya, jujur lumayan nyesek. Turunnya banyak banget,” kata Tyas sambil tersenyum getir.
Tak sedikit pengguna EV pemula yang mengalami hal serupa. Pasar mobil listrik bekas di Indonesia masih dalam tahap awal, dan depresiasi harga masih sangat tinggi. Tapi Tyas mengaku sudah mempersiapkan diri. “Dari awal memang udah tau kalau harga bekasnya belum stabil. Jadi ya udah disiapin mental aja.”
Meski sempat kecewa soal harga jual, Tyas tetap melihat mobil listrik sebagai solusi jangka panjang. Pajak tahunan yang sangat murah bahkan lebih murah dari motor dan biaya operasional yang rendah membuatnya tetap setia pada teknologi ini.
“Buat aku, ini mobil masa depan. Buktinya, aku bukannya kapok, malah naik kelas ke mobil listrik yang lebih oke,” ujarnya mantap.
Pekerjaan Rumah Kendaraan Listrik
Kisah Tyas adalah cerminan fase transisi yang sedang dijalani masyarakat Indonesia dalam menyambut era elektrifikasi. Antusiasme tinggi, insentif menggoda, dan kesadaran lingkungan tumbuh. Namun, infrastruktur pengisian daya dan kestabilan harga jual kembali masih menjadi tantangan besar.
Bagi banyak pengguna seperti Tyas, mungkin ini bukan soal rugi atau untung jangka pendek. Ini tentang keberanian ikut serta dalam perubahan besar bahkan jika di awal harus merogoh kocek lebih dalam atau menerima harga jual yang tidak seindah ekspektasi.
“Anggap aja ini bagian dari proses belajar,” kata Tyas, menutup ceritanya dengan senyum. “Yang penting kita sudah mulai.”