Cerita Diler Mobil Bekas: Mobil Listrik Bekas Sepi Peminat
Deretan mobil-mobil bekas berkilau seakan siap diboyong pembeli. Dari MPV keluarga, sedan premium, hingga SUV tangguh, semuanya berjajar rapi.
Siang itu, showroom mobil bekas di kawasan Jakarta Utara tampak ramai. Deretan mobil-mobil bekas berkilau seakan siap diboyong pembeli. Dari MPV keluarga, sedan premium, hingga SUV tangguh, semuanya berjajar rapi. Tapi ada satu jenis mobil yang tidak tampak di sana: mobil listrik.
"Enggak ada yang nyari, makanya kami juga belum berani stok," celetuk seorang tenaga penjual yang enggak disebutkan namanya sambil tertawa kecil.
Bagi diler mobil bekas, lanjut dia, menyimpan stok kendaraan yang tidak cepat terjual sama saja dengan membebani cash flow usaha. Mobil listrik, meskipun tampak menjanjikan di sisi teknologi dan ramah lingkungan, justru belum bisa bersaing dengan mobil konvensional dalam hal likuiditas di pasar sekunder.
"Kalau kami tampung dan enggak laku-laku, ya rugi. Harga juga cepat jatuh karena pasar belum terbentuk," kata pria berperawakan kurus itu.
Ungkapan itu bukan candaan semata. Bagi pelaku bisnis mobil bekas, mobil listrik masih jadi teka-teki besar—lebih banyak risiko daripada potensi.
Harga Jatuh, Risiko Mengintai
Menurut data yang dihimpun, depresiasi harga mobil listrik bekas bisa dibilang lebih tajam dibanding mobil bensin atau diesel.
Salah satu contoh, Hyundai Ioniq 5 yang dibeli Rp 850 juta pada 2022, kini bisa ditemui di pasar bekas di harga Rp 600–650 juta saja. Bahkan Wuling Air EV yang masih muda usianya, kini sudah bisa didapat di kisaran Rp 135–190 juta.
Tanpa pasar yang jelas dan likuid, menyimpan stok mobil listrik bekas menjadi perjudian yang mahal bagi diler.
“Kalau kami tampung dan enggak laku-laku, ya rugi,” lanjut tenaga penjual tadi. “Belum lagi harus keluar biaya servis dan perawatan baterai.”
Takut Rugi, Takut Tak Laku
Adji Yuwana Pratama, Regional Head Caroline.id, salah satu jaringan diler mobil bekas ternama di Indonesia, membenarkan kekhawatiran itu.
"Kami belum menampung," ujar Adji. "Yang cari juga jarang. Malah bisa dibilang enggak ada."
Menurutnya, permintaan terhadap mobil listrik bekas belum terbentuk. Di lapangan, konsumen lebih memilih mobil berbahan bakar konvensional, baik karena harga, ketersediaan bengkel, maupun ketahanan.
"Kalau bekas, problemnya belum ada data yang bisa gambarkan depresiasinya hingga after servicenya," jelas Adji.
Solusi Sementara: Dilelang Saja
Daripada menanggung risiko itu, Caroline.id memilih jalur aman. Mereka tidak menampung unit mobil listrik bekas secara langsung. Sebagai gantinya, mereka mengarahkan pemilik ke balai lelang rekanan.
“Kami arahkan ke balai lelang kami di JBA,” kata Adji.
“Ini tinggal daftar via web. Nanti dihubungi. Mobil nanti dititip di lelang.”
Dengan cara ini, mobil bisa dijual langsung ke publik atau pembeli institusional tanpa perlu “diparkir” terlalu lama di showroom.
Pasar yang Masih Butuh Waktu
Padahal dari sisi kebijakan, mobil listrik digadang-gadang sebagai masa depan industri otomotif. Namun di pasar sekunder, masa depan itu masih terasa samar. Konsumen belum percaya, diler pun belum siap.
Adji percaya, seiring waktu pasar akan terbentuk. Tapi untuk sekarang, dunia mobil bekas harus bersabar.
“Butuh waktu. Mungkin 3–5 tahun ke depan, saat infrastruktur lengkap dan konsumen mulai percaya, baru kita bisa bicara soal pasar mobil listrik bekas,” jelasnya.
Kondisi ini mencerminkan bahwa pasar sekunder mobil listrik di Indonesia belum matang. Selain harga baru yang masih tergolong mahal, kekhawatiran soal usia baterai, biaya penggantian komponen, hingga infrastruktur pengisian daya, menjadi faktor penghambat utama bagi konsumen bekas.
Sementara produsen dan pemerintah terus mendorong adopsi mobil listrik lewat berbagai insentif, nyatanya pasar mobil bekas yang merepresentasikan minat riil dan jangka panjang konsumen masih jauh dari siap.