Kisah Cinta Beda Agama Raja Mataram, Harmonis hingga Maut Memisahkan
Cinta beda agama ternyata sudah ada sejak zaman kerajaan
Penghargaan terhadap perbedaan sudah ada sejak zaman nenek moyang
Kisah Cinta Beda Agama Raja Mataram, Harmonis hingga Maut Memisahkan
Kisah cinta beda agama ternyata bukan hal baru di Indonesia. Pada abad IX masehi, Raja Mataram menjalin asmara dengan perempuan dari latar belakang agama yang berbeda.
Kerukunan
Saat memimpin Kerajaan Mataram, Raja Rakai Pikatan mempunyai permaisuri
bernama Sri Pramodawardhani. Sang Raja beragama Hindu/Siwa, sementara Pramodawardhani adalah seorang
pemeluk agama Budha. Pada masa itu, kerukunan antar umat beragama sudah tampak.
Cobaan Cinta Beda Agama
Perkawinan beda agama antara Pramodawardhani dengan Rakai Pikatan sebenarnya ditentang oleh saudara laki-laki Pramodawardhani yang bernama Balaputradewa. Pertentangan itu sampai menimbulkan peperangan.
Balaputra yang terdesak melarikan diri dan mendirikan benteng pertahanan di bukit Boko (dikenal sebagai Candi Ratuboko). Benteng itu tidak menjamin keamanannya sehingga Balaputra meninggalkan pulau Jawa. Ia kemudian menjadi Raja Sriwijaya di wilayah Sumatera Selatan, seperti dikutip dari laman resmi berkalaarkeologi.kemdikbud.go.id.
Kekuatan Cinta
Perlawanan saudara tak menjadi penghalang Pramodawardhani dan Rakai Pikatan untuk menikah. Cinta mereka awet hingga akhir hayat.
Untuk menghormati permaisurinya, Rakai Pikatan mendirikan sebuah candi yang
bercorak agama Budha yaitu Candi Plaosan yang terletak di Kecamatan Prambanan,
Kabupaten Klaten. (Foto: Kemdikbud RI)
Pewaris Takhta
Pramodawardhani adalah putri raja Samaratungga yang
sangat terkenal. Siapa yang menjadi suaminya berhak mewarisi takhta sang ayah.
Sosok Pramodawardhani
Prasasti yang memuat tentang Pramodawardhani adalah prasasti
Karangtengah (prasasti Kayumwungan) yang ditulis dalam dua bahasa, yakni bahasa
Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno.
Bagian yang menggunakan bahasa Sanskerta antara lain menyebutkan nama raja dari dinasti Sailendra yang bernama Samaratungga dan
sang putri bernama Sri Pramodawardhani. Prasasti itu memuat puji-pujian yang ditujukan kepada Pramodawardhani.
se....nam harati srimat pramodawardhani khyata. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti: kecantikannya
diperoleh dari bulan purnama, lenggangnya dari angsa, dan suaranya dari burung
kalawingka. Ia yang mulia bernama Pramodawardhani.
Keistimewaannya tidak
hanya karena wayahnya yang cantik molek, lenggang yang menggiurkan dan suara yang
merdu, tetapi juga karena jasa-jasanya membangun candi bersama sang ayah.
Selain Candi Plaosan, Pramodawardhani juga ikut andil mendirikan beberapa candi untuk umat agama Budha, salah satunya Candi Wenuwana. Candi ini diduga sama dengan Candi Mendut atau Candi Ngawen. (Foto: Google Maps TJIUNGGU TJERMIN)
Pendirian bangunan-bangunan suci oleh Raja Samaratungga dan Pramodawardhani bertujuan untuk membebaskan desa dari kewajiban membayar pajak/upeti kepada
raja. Dengan demikian, akibatnya jaminan hidup rakyat lebih sejahtera.
(Foto: Freepik fanjianhua)