Risiko yang Harus Dihadapi Agen BRIlink Setiap Kali Transaksi, dari Gangguan Sinyal Internet hingga Human Error
Menjadi seorang Agen BRIlink bukanlah hal yang mudah. Sering kali mereka harus menghadapi kendala-kendala saat melayani nasabah dalam bertransaksi.
Menjadi seorang Agen BRIlink bukanlah hal yang mudah. Sering kali mereka harus menghadapi kendala-kendala saat melayani nasabah dalam bertransaksi.
Risiko yang Harus Dihadapi Agen BRIlink Setiap Kali Transaksi, dari Gangguan Sinyal Internet hingga Human Error
Menjadi seorang Agen BRIlink bukanlah hal yang mudah. Sering kali mereka harus menghadapi kendala-kendala saat melayani nasabah dalam bertransaksi.
Itulah yang dirasakan Purnomo (44), seorang Agen BRIlink asal Kalurahan Sidoarum, Godean. Pada sebuah meja kasir yang sempit di warungnya, ia harus melayani pembeli yang belanja sekaligus melayani mereka yang ingin melakukan transaksi pembayaran lewat Agen BRIlink.
Tak jarang konsentrasi Purnomo terbelah. Sebagai seorang manusia, khilaf adalah hal yang wajar. Namun kesalahan kecil sering kali bisa berakibat fatal.
Kalau Purnomo salah sedikit saja mengetik satu angka dari nomor rekening tujuan, transaksi transfer uang berpeluang salah sasaran. Atau jika luput menulis satu angka “nol” di mesin pembayarannya, jumlah nominal uang yang dikirim sangat jauh dari yang seharusnya.
“Seperti ini memang butuh kejelian. Idealnya kan disendirikan loketnya (antara transaksi belanja dan transaksi Agen BRIlink-red). Kalau di sini masih jadi satu,” ujar Purnomo.
Tak hanya Purnomo, tantangan serupa juga dialami Agnes Nuraeni (41), seorang Agen BRILink asal Kalurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman. Pada awal menjadi Agen BRIlink, ia hanya bermodal handphone untuk melakukan transfer uang atau pembayaran lainnya.
Pernah suatu hari saat mengirimkan uang dari nasabah, kecepatan jaringan internet di tempatnya sangat lambat. Ia tidak tahu pada saat jaringan lambat itu sebenarnya proses pengiriman uang tetap berlangsung dan uang tetap terkirim. Karena ketidaktahuan, ia mengulang proses pengiriman uang itu dari awal.
“Waktu itu keterangannya ‘server error’. Jadi tak ulangi lagi sekali. Tapi kok saldo saya terkirimnya dobel. Kalau sama penerima uangnya dua kali masuknya,” kata Agnes.
Hal serupa juga pernah dialami Budi (42). Ia mengaku pernah harus “nombok” untuk sebuah transaksi pembayaran.
“Kalau ngitungnya enak saja. Katakanlah kita ambil keuntungan Rp2.000 setiap transaksi, lalu setiap hari ada 20 transaksi, kalikan seminggu, sebulan, sudah banyak. Tapi kita yang menjalani, ada situasi yang nggak enak. Padahal kalau ada kendala transaksi, kita harus nombok,” kata Ibu Budi.
Selain berhadapan dengan kendala transaksi, tak jarang Budi juga harus berhadapan dengan sikap nasabah yang membuat hatinya tersinggung. Ia kerap kali menemui nasabah yang protes saat transaksi harus dikenai biaya admin.
“Secara umum masalahnya sepele-sepele aja. Tapi kita harus pintar bagaimana cara berkomunikasi dengan nasabah, nasabah nggak merasa dirugikan, dan nasabah nggak lari ke tempat lain,”
pungkas Budi menutup cerita pengalamannya selama menjadi Agen BRIlink sejak tahun 2017.