Kisah Perjalanan Akbar Sunan Pakubuwono X di Masa Penjajahan, Bentuk Perlawanan pada Pemerintahan Belanda
Pada saat berkuasa di Kasunanan Surakarta, Pakubuwono X kerap melakukan kunjungan ke berbagai daerah.
Sri Susuhunan Pakubuwono X merupakan Raja Kasunanan Surakarta yang bertahta cukup lama. Ia menduduki tahta kekuasaan dari 30 Maret 1893 hingga 22 Februari 1939.
Pada masa pemerintahannya, Kasunanan Surakarta mengalami transisi dari kerajaan tradisional ke era modern. Berbagai pembangunan ia lakukan pada masa kepemimpinannya, antara lain membangun Pasar Gede Harjonagoro, mendirikan Bank Bandhalumaksa, serta mendirikan Sekolah Pamardi Putri dan HIS Kasatriyan untuk kerabat keraton juga mendirikan sekolah pertanian di Tegalgondo, Klaten.
Sementara dari aspek politik, Sri Susuhunan Pakubuwono selalu menjaga hubungan baik dengan pemerintah Belanda. Ia tampil sebagai teman pemerintah Hindia Belanda, namun di sisi lain juga membantu organisasi pergerakan nasional dengan memberikan berbagai bentuk dukungan kepada Budi Utomo dan Sarekat Islam.
Di sisi yang berbeda, ia juga menarik dukungan dari rakyat dengan mengadakan kunjungan ke berbagai daerah. Salah satunya adalah perjalanan akbarnya mengelilingi Pulau Jawa hingga Sumatra. Lalu seperti apa kisah berjalanan akbar itu?
Lawatan Akbar
Mengutip YouTube Bimo K.A, kunjungan besar Sunan Pakubuwono X di luar Surakarta bermula pada tahun 1903. Saat itu, ia berkunjung ke Semarang. Di sana ia bertemu dengan bupati dan residen.
Pada tahun 1906, Sunan Pakubuwono X melakukan kunjungan ke Ambarawa, Salatiga, dan Surabaya. Kunjungan ke tiga kota itu sebenarnya tidak resmi. Tapi Sunan Pakubuwono X melakukan lawatan itu secara besar-besaran. Upacara kehormatan digelar dengan begitu megahnya.
Berita tentang lawatan akbar ini dengan cepatnya sampai ke pemerintah Belanda. Mereka tidak senang dengan lawatan akbar itu.
Potensi Subversif
Residen Surakarta, L. Th. Scheneider mencurigai lawatan akbar itu sebagai tindakan subversif. Ia juga terganggu dengan jumlah biaya lawatan yang begitu besar. Selain itu, ia juga khawatir hubungan yang semakin dekat antara Sunan Pakubuwono X dengan para bupati di Jawa.
Saking dekatnya hubungan itu, para bupati dilaporkan sering datang dan pergi ke Surakarta dan melaporkan sesuatu pada Pakubuwono X tanpa mempedulikan Residen Schneider.
Pada Januari 1916, Sunan Pakubuwono melakukan kunjungan ke kabupaten-kabupaten di Karesidenan Priangan bersama 52 anggota rombongan. Dalam perjalanan itu, mereka sempat singgah di Semarang, Pekalongan, dan Cirebon, sebelum tiba di Garut dan Tasikmalaya.
Seolah Menjadi Teman Belanda
Walaupun terus dicurigai melakukan tindakan subversif dengan menunjukkan wibawanya kepada rakyat, namun Sunan Pakubuwono X selalu menjaga hubungan baik dengan pemerintah Hindia Belanda. Dalam periode 1910 hingga 1930 an, ia kerap melakukan kunjungan ke Bogor dan Batavia, mengunjungi istana gubernur jenderal yang menjabat silih berganti.
Walaupun terus menjaga hubungan baik, Pemerintah Hindia Belanda masih terus mempertanyakan keloyalan Sunan Pakubuwono X. Apalagi dengan berbagai kunjungan yang menghabiskan biaya itu, banyak residen yang jengkel. Namun semua pandangan para residen Belanda hanya dianggap angin lalu oleh Pakubuwono X.
Berkali-kali ia mengatakan pada Pemerintah Hindia Belanda bahwa kunjungan itu sepenuhnya bersifat tidak resmi. Pakubuwono X kembali melakukan kunjungan besar pada tahun 1924. Ia melakukan kunjungan ke Malang, Jawa Timur.
Tur ke Luar Pulau Jawa
Pada periode 1926-1927, ia melakukan kunjungan ke Gresik, Surabaya, hingga Bangkalan dengan disertai 44 pengiring. Selanjutnya ia melakukan kunjungan ke Pulau Bali, lalu lanjut ke Lombok.
Walaupun usianya telah lanjut, ia tetap melakukan safari ke berbagai daerah. Pada tahun 1935, ia mengunjungi Bogor dan Batavia. Di Batavia Sunan Pakubuwono menemui Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Selanjutnya, ia bertolak ke Bandar Lampung di Pulau Sumatra. Kehadirannya disambut antusias oleh masyarakat Lampung.
Mengutip YouTube Bimo K.A, lawatan akbar itu terbukti membangkitkan rasa nasionalisme masyarakat. Dengan kunjungan itu, rakyat bumiputera masih memiliki pemimpin sejati dengan segala kedermawanan dan kewibawaannya, berhak duduk sejajar dengan bangsa Eropa maupun bangsa asing, serta memerintah secara berdaulat tanpa campur tangan penjajah Belanda.