Berada di Tengah Pemakamam Umum, Ini Kisah Kampung Bergota Semarang
Penduduk sekitar sudah terbiasa dengan suasana dan pengalaman mistis di sana.
Penduduk sekitar sudah terbiasa dengan suasana dan pengalaman mistis di sana.
Berada di Tengah Pemakamam Umum, Ini Kisah Kampung Bergota Semarang
Di Kota Semarang, terdapat sebuah kampung yang lokasinya berada di tengah area pemakaman umum. Namanya Kampung Bergota.
Warga yang tinggal di kampung itu seperti sudah terbiasa hidup berdampingan dengan para penghuni kubur. Pak Kartiko, salah seorang ketua RT di Kampung Bergota mengatakan, pada awalnya tanah di sana merupakan tanah perdikan dari Keraton Surakarta.
“Dulu orang Belanda menyebut daerah ini ‘Van Goth’. Tapi lidah orang Indonesia tidak bisa mengucapkannya maka mereka mengucapkan Bergoto,” kata Pak Kartiko, dikutip dari kanal YouTube Semarang Pemkot.
Di makam Bergota terdapat banyak tokoh-tokoh penting yang dikubur di sana, salah satunya makam Ki Soleh Darat dan Ki Narto Sabdo. Di sana ada empat jenis makam yaitu makam bangsawan, makam Yahudi, makam Arab, dan makam masyarakat biasa.
“Makam Yahudi itu modelnya seperti bunker. Jenazahnya ditaruh di situ dengan benda yang dia sayangi selama hidupnya. Ada sebagian makam yang masih dikunjungi, dan ada sebagian lagi yang sudah dipindah ke Israel."
kata Pak Kartiko terkait keberadaan makam Yahudi di Bergota.
Tak bisa dipungkiri penduduk warga Kampung Bergota identik dengan hal-hal mistis.
Walau begitu banyak dari mereka yang mengandalkan Makam Bergota sebagai mata pencaharian dan sumber rejeki.
“Sebagai contoh, gali kubur, pembuatan batu nisan di tempat, pembersihan makam, tempat jual bunga, dan orang yang mendoakan,” kata Kartiko.
Sementara itu Ketua RT lain di Kampung Bergota, Bayu Suprihatin, mengatakan bahwa ia kerap mendengar cerita angker mengenai kampungnya dari remaja setempat. Ia mengatakan banyak orang yang sering diganggu hingga sering tersesat. Bahkan ada yang tanpa sadar berjalan saat tengah malam.
“Kalau cerita orang sini banyak yang bilang dari jalan pos masuk ke perkampungan angker. Katanya banyak yang sering diganggu,” kata Bayu.
Lain halnya dengan Dian Heru, Ketua RT lainnya di Kampung Bergota. Selama 38 tahun tinggal di sana, ia tidak pernah mengalami kejadian aneh. Ia bahkan menyebut gambaran makam yang menakutkan itu hanya ada dalam televisi saja.
“Kalau saya sudah biasa sih mas. Dari kecil sudah di sini. Alhamdulillah nggak terjadi apa-apa,” kata Dian.