Sejarah Ojek di Indonesia, Mulanya ‘Ngobyek’
Ojek sudah ada sejak tahun 1960-an di pedesaan dan merembet sampai ke perkotaan.
Pada Kamis, (29/8) telah terjadi aksi demo oleh sejumlah driver ojek online se-Jabodetabek.
Sebelum maraknya driver ojek online atau dikenal juga ojol seperti yang kita kenal saat ini, ojek telah mengalami transformasi signifikan dari zaman ke zaman.
Mengutip dari Jurnal Ojek dari Masa ke Masa Kajian secara Manajemen Sumber Daya Manusia karya Neneng Fauziah, mengatakan bahwa istilah ‘ojek’ berasal dari kata ‘obyek’.
Pada akhir tahun 1960-an, kondisi ekonomi masyarakat sangat sulit, sehingga banyak orang tidak bisa bertahan hanya dengan mengandalkan gaji.
Oleh karena itu, mereka mencari penghasilan tambahan, seperti berdagang atau menjadi perantara.
Pada masa itu, melakukan pekerjaan sampingan dikenal dengan istilah ‘mengobyek’. Seiring waktu, layanan antar jemput dengan sepeda motor menjadi semakin umum sebagai sarana transportasi untuk mencari penghasilan tambahan, yang akhirnya dikenal dengan sebutan ‘ojek’.
Ojek di Jakarta
Ojek sendiri pada mulanya berkembang di pedesaan Jawa Tengah pada tahun 1969.
Ide ini muncul dari kondisi jalan desa yang rusak serta tak bisa dilalui oleh mobil sehingga, ditawarkan jasa transportasi lain berupa ojek sepeda.
Awal mula alat mengojek memang berupa sepeda. Dikutip dari tulisan W.J.S. Poerwadarminta di Kompas, 22 September 1979, ‘Ojek adalah sepeda yang ditaksikan’.
Para pengojek sepeda biasa membonceng orang atau barang titipan penumpang.Sedangkan di Jakarta, ojek mulai berkembang pada tahun 1970-an dan berkembang pertama kali di Tanjung Priok.
Munculnya ojek di Jakarta merupakan imbas dari dilarangnya becak dan bemo masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok sehingga orang-orang memakai sepeda untuk menawarkan jasanya.
Seiring berjalannya waktu sepeda ojek mulai menyebar di Kota, Ancol, dan Harmoni.Ketika sepeda ojek sedang marak di Jakarta, ojek di Jawa Tengah sudah berkembang.
Kini Sudah Online
Mereka mulai mengganti alat ojek dari sepeda ke motor. Akhirnya, jasa ojek motor pun menyebar ke Jawa Timur dan Jakarta.
Seperti saat ini, tarif ojek pada masa itu disesuaikan dengan kesepakatan antara penumpang dan tukang ojek. Saat ini ojek sudah berinovasi dengan memanfaatkan teknologi.
Hal ini ditandai dengan munculnya ojek online.Dengan teknologi yang lebih canggih, kini penumpang tidak harus pergi ke pangkalan ojek untuk memakai jasanya, melainkan bisa langsung pesan lewat aplikasi ojek online jadi penumpang hanya tinggal menunggu dijemput dan diantar ke tempat tujuan.
Untuk tarifnya pun tidak perlu bernegosiasi lagi dengan pengojek karena tarif sudah ditentukan per kilometernya.
Namun, bukan berarti ojek pangkalan sudah tidak ada. Ojek pangkalan masih tetap eksis hingga saat ini meskipun tidak semarak seperti sebelumnya.
Reporter Magang: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti