Saat Presiden Tegur Model Indonesia yang Tampil Dengan Busana Renang
Di era Orde Lama, Baby terbilang artis yang cukup dekat dengan Bung Karno.
Penulis: Arsya Muhammad
Tahun 1958 di Bandung tengah digelar peragaan busana dalam rangka pembukaan Wisata Air Karangsetra.
Mayoritas yang tampil adalah peragawati dari Eropa seperti Jerman dan Belanda. Hanya dua orang peragawati Indonesia yang tampil saat itu. Salah satunya Baby Huwae.
Baby Huwae tampil dalam berbagai busana. Mulai pakaian olahraga, pakaian sore, pakaian malam dan pakaian renang. Rupanya Presiden Sukarno memperhatikan Baby Huwae. Setelah acara selesai, Baby Huwae dipanggilnya untuk mengobrol. Di samping Bung Karno saat itu ada Siwabessy, yang kelak menjadi menteri kesehatan.
“Siapa nama kamu?” tanya Bung Karno pada Baby.
Seperti tertulis dalam buku Bung Karno, Perginya Seorang Kekasih, Suamiku & Kebanggaanku yang disusun ERka dan Diterbitkan CV Aneka Ilmu Semarang tahun 1978
Siwabessy menjawab. “Dia keponakanku,” balas Pak Siwabessy.
“Siapa namanya?” tanya Bung Karno.
Baby Huawe menjawab takut-takut. “Baby, Pak”
Bung Karno lalu bertanya lagi. Apakah Baby Huawe masih sekolah. Gadis muda itu mengangguk. “Masih SMP, Pak,” jawabnya.
“Ooh masih muda sekali. Kok mau pakai pakaian renang?” tanya Bung Karno.
“Lain kali kalau bukan di kolam renang, jangan mau ya,” tegur Presiden Pertama RI itu.
“Orang Timur jangan melupakan kepribadian kita sebagai orang Timur,” nasihat Bung Karno.
Ditawari Jadi Pramugari
Nama Baby Huawe mulai dikenal publik saat membintangi Film Asmara Dara yang disutradarai Usmar Ismail. Di era Orde Lama, Baby terbilang artis yang cukup dekat dengan Bung Karno.
Setelah menonton Film Tiga Dara, Bung Karno pun sempat memanggil Baby Huawe dan beberapa pemain lain ke Istana. Di sana mereka berbincang. Bung Karno bertanya pada Baby, apa cita-cita gadis itu?
“Jadi pramugari, Pak,” jawab Baby.
“Ooh gampang sekali, kebetulan Bapak dapat hadiah pesawat terbang Dolok Martimbang. Sudah kamu saja yang menjadi pramugarinya,” tawar Bung Karno.
Dolok Martimbang adalah pesawat Ilyushin (IL)-14 buatan Uni Soviet yang menjadi pesawat kepresidenan saat itu.
Bung Karno sampai memberikan surat rekomendasi untuk Baby pada Direktur Garuda Indonesia. Saat itu pendidikan pramugari memang diadakan di bawah Garuda Indonesia.
Namun Baby akhirnya batal menjadi pramugari kepresidenan karena tidak mendapat restu orang tua.
Tahun 1964, Bung Karno juga sempat memberikan nama baru pada Baby Huwae, Lokita Purnamasari. Artinya kira-kira gadis yang sempurna dilihat.
Baby Huwae sempat membintangi 13 belas film. Kemudian menjadi pengusaha, dan meninggal tahun 1989 dalam usia 49 tahun.