PDIP Gaungkan Semangat Marhaenisme Lewat Lagu Baru Jelang Bulan Bung Karno
Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat menyatakan, pemutaran kembali lagu ini bukan sekadar seremonial.
Dalam rangka menyambut Bulan Bung Karno yang diperingati setiap Juni, DPP PDI Perjuangan memperkenalkan kembali lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme kepada kader partai. Lagu tersebut diperdengarkan dalam kegiatan Pembekalan dan Bimbingan Teknis Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota se-Indonesia pada Sabtu (30/5/2026), sebagai upaya meneguhkan kembali semangat perjuangan dan nilai-nilai ajaran Bung Karno di kalangan kader partai.
Lagu tersebut diputar di awal saat sesi protokoler kepartaian. Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat menyatakan, pemutaran kembali lagu ini bukan sekadar seremonial, melainkan untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan dan ideologi Marhaenisme di dalam sanubari setiap kader.
"Lagu ini adalah pengingat bagi kita semua, terutama para wakil rakyat yang baru dilantik, bahwa esensi perjuangan PDI Perjuangan adalah memihak dan berjuang demi kepentingan rakyat kecil atau kaum Marhaen.
Di Bulan Bung Karno ini, kita perkuat kembali komitmen kita untuk tegak lurus pada komando partai dan membumikan ajaran Bung Karno di setiap kebijakan yang kita ambil," kata Djarot pada sambutan.
Marhaenisme
Dia melanjutkan bahwa lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme wajib dinyanyikan oleh para kader dalam setiap protokol kepartaian.
"Dalam setiap acara dengan protokol kepartaian, lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme wajib kita nyanyikan," kata Djarot.
Sejalan dengan semangat yang digaungkan dalam lagu tersebut, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri,
telah menegaskan kepada seluruh kader, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, bahwa kewajiban utama seorang kader adalah "turun ke bawah" dan menyatu dengan rakyat.
Senjata Paling Hebat
Megawati selalu mengingatkan senjata paling hebat bagi seorang pemimpin yang diusung oleh PDI Perjuangan bukanlah sekadar strategi elektoral atau pencitraan, melainkan kedekatan yang tulus dan kerja nyata di tengah denyut nadi kehidupan rakyat.
Menurut Djarot, selainmakna ideologisnya, lagu ini juga membawa kembali ingatan akan sejarah lahirnya istilah "Marhaenisme" yang dicetuskan Bung Karno di tanah Priangan pada tahun 1920-an.
Kisah bermula saat Bung Karno sedang berjalan-jalan di kawasan pinggiran Bandung. Di sana, beliau bertemu dengan seorang petani penggarap tanah milik sendiri yang sedang mencangkul di sawahnya. Petani itu mengenakan pakaian sederhana, tampak lelah namun tetap bekerja dengan gigih. Bung Karno kemudian menyapa dan menanyakan banyak hal kepada petani tersebut. Saat ditanya siapa namanya, petani itu menjawab, "Nama saya Marhaen."
Bung Karno pun terkesan dengan kesederhanaan dan kemandirian petani tersebut. Meskipun memiliki alat produksi sendiri (tanah dan cangkul), ia tetap hidup dalam kemiskinan karena sistem kolonial yang menindas.
Bung Karno kemudian mengabadikan nama "Marhaen" sebagai simbol bagi rakyat kecil di Indonesia yang tertindas oleh sistem, namun memiliki kekuatan besar untuk bangkit. Sejak saat itu, Marhaenisme menjadi nafas perjuangan Bung Karno dalam membebaskan rakyat dari belenggu kolonialisme dan kapitalisme.
Lirik Lagu
Adapun lirik lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" itu adalah sebagai berikut.
Rakyat Marhaen Majulah Bersatu
Membangun Dunia yang Baru
Satukanlah Gerak Langkahmu
Turut Komando yang Satu
Hiduplah Bung Karno Kita
Bapak Marhaenisme Jaya
Hiduplah Pemimpin Kita
Marhaenisme Pastilah Jaya